Cerita Panas Kisah Tiga Wanita : Vina, Inge Dan Memey – Part 17

Cerita Panas Kisah Tiga Wanita : Vina, Inge Dan Memey – Part 17by on.Cerita Panas Kisah Tiga Wanita : Vina, Inge Dan Memey – Part 17Kisah Tiga Wanita : Vina, Inge Dan Memey – Part 17 3S???? Acara jamuan makan malam berjalan lancar. Ternyata acara jamuan dilaksanakan di hotel tempat Inge menginap. Rencana awalnya adalah di sebuah restauran, tetapi ternyata tidak bisa karena dipakai untuk resepsi oleh salah seorang pejabat provinsi. Dari kantor hanya ada aku, Ibu Vina dan dua […]

multixnxx-Milf, Black hair, Asian, Anal, Close up on-0 multixnxx-Milf, Black hair, Asian, Anal, Close up on-1Kisah Tiga Wanita : Vina, Inge Dan Memey – Part 17

3S????

Acara jamuan makan malam berjalan lancar. Ternyata acara jamuan dilaksanakan di hotel tempat Inge menginap. Rencana awalnya adalah di sebuah restauran, tetapi ternyata tidak bisa karena dipakai untuk resepsi oleh salah seorang pejabat provinsi. Dari kantor hanya ada aku, Ibu Vina dan dua orang staf lainnya, dari pihak mereka ada beberapa orang yang datang. Pak Ivan sedang ada di Jakarta. Ibu Vina mengenakan kebaya modern dengan bawahan rok panjang dengan belahan samping kanan sampai di atas lutut. Kakinya dilapisi dengan stoking hitam dengan sepatu hak tinggi dengan tali yang melilit di sekeliling betisnya sehingga membuat penampilannya semakin menarik dan membuat gairahku meninggi. Rambutnya diikat tinggi memperlihatkan lehernya yang jenjang dan mulus. Seorang tamu kulihat beberapa kali mencuri pandang ke arah Ibu Vina. Aku yang duduk di samping kanannya beberapa kali juga melirik ke arah pahanya. Ketika kaki kanannya ditumpangkan ke kaki kirinya aku menjadi semakin tidak tahan melihatnya. Kalau saja tidak ingat suasana tentu aku sudah mengusap-usap paha mulus itu. Aku sudah membuat rencana untuk menikmati kehangatan dan kemolekan tubuhnya malam ini. Sebenarnya kami ingin mengajak pimpro tersebut untuk berkaraoke, tetapi kelihatannya ia sudah lelah dan ingin beristirahat.

Setelah rombongan tamu dan staf kantor yang tadi ikut sudah pulang, tinggallah aku dan Ibu Vina.
Hmm.. nampaknya tadi ada penggemar gelapmu Vin, kataku menggodanya.
Oh ya. Kasihan. Dia pasti hanya bisa membayangkan saja, jawabnya sambil tertawa kecil. Agaknya iapun tahu yang kumaksudkan.
Tapi kamu malam ini memang luar biasa cantiknya. Bahkan menurutku lebih cenderung ke seksi, kataku memujinya. Sejujurnya memang ia kelihatan sangat anggun, seksi dan menggairahkan. Ia hanya tertawa kecil.
Masak sih. Ini pasti ada maunya khan, katanya sambil mencibirkan bibirnya ke arahku.
Kita langsung pulang, Vin? tanyaku.

Ia tidak menjawab tetapi justru menarik tanganku dan berjalan ke arah lift. Menekan tombol dan sebentar kemudian kami sudah masuk ke dalam lift. Ia menekan tombol lantai tiga. Aku tiba-tiba teringat kalau kamar Inge juga di lantai tiga. Apakah ia mengajakku ke kamar Inge dan akan melakukan threesome dengan Inge. Aku tidak pernah dan tidak suka dengan permainan threesome. Bagiku making love adalah hanya ada satu perempuan dan satu laki-laki. Tidak ada orang ketiga dalam ranjang yang sama.

Aku semakin terkejut ketika sampai di lantai tiga Vina menggandengku berjalan ke arah kamar Inge.
Kemana kita Vin? tanyaku.
Aku sudah ambil kamar di lantai ini.
Semakin mendekati kamar Inge aku semakin bertanya-tanya. Sampai di depan pintu kamar Inge, Vina berhenti dan membuka tasnya, mengambil kunci dan melihat nomor di kunci tersebut.
Oh bukan kamar ini. Ini dia di sebelahnya.
Aku merasa sangat lega. Bagaimanapun juga aku rasanya tidak akan bisa ber-threesome dengan siapapun juga.

Setelah sampai di kamar di sebelah Vina sekali lagi memastikan nomor kamar tersebut. Kami segera masuk ke dalam kamar. Sampai di dalam kamar Vina langsung memelukku. Dadanya yang besar menekan dadaku.
Aku memang merasa sangat seksi dengan pakaian ini dan ini membuatku horny. Akupun tahu semua lelaki melirikku tak terkecuali kamu tentunya. Bukankah begitu Anto sayang? katanya dengan manja.
Dan sekarang, kamu bisa lakukan apa yang kamu tahan-tahan sedari tadi sayang, bisiknya di telingaku.
Aku melepaskan pelukannya dan membuka pintu teras kamar. Udara malam yang dingin menerpa wajahku. Aku ingin memastikan bahwa Inge hanya sendirian di sebelah. Kulihat nyala TV dari kamar Inge.

Ketika kembali ke dalam kamar, Vina sedang berdiri menghadapku. Lampu besar sudah dimatikan, tinggal lampu tidur yang menyala di atas kepala bed. Kamar menjadi remang-remang, tetapi justru membuat bayangan tubuhnya semakin menarik. Kaki kanannya diangkat dan diletakkan ke atas bed. Belahan roknya tersingkap sehingga pahanya terlihat menantang. Ia menarik belahan roknya semakin ke atas sehingga aku bisa melihat batas stokingnya. Kudekati dan kupeluk dia dari belakang.

Sudah sekian lama hubungan kami berjalan. Baru kali ini aku melihatnya dalam pakaian seperti ini. Selama ini aku melihat Vina berpakaian dan berias dengan sederhana saja. Kini dengan riasan, tata rambut dan pakaian seperti ini membuatku langsung terangsang hebat.
“Gimana menurut kamu?”, ucap Vina genit sambil mengecup pipiku.
“Ibu Vina sangat anggun, cantik dan sekaligus seksi sekali, dan aku sangat terangsang,” ucapku sambil merapatkan penisku ke pinggulnya. Malam ini aku ingin sekali memanggil dia kembali dengan sebutan ibu. Aku mengusap kedua pundaknya perlahan-lahan. Vina kadang menggeliat keenakan.

Kedua tanganku tepat berada di payudaranya yang besar dan padat. Sensasi aneh mengalir di sekujur tubuhku. Aku memperhatikan bulu-bulu lembut di leher jenjangnya, rambutnya tertarik ke atas dan terjepit jepitan rambut, hingga leher jenjang mulus itu dapat kunikmati seutuhnya. Dadaku berdesir menahan rangsangan. Napasku mulai berat tertahan. Akhirnya kukecup leher itu, Vina merintih kegelian dan mencubit pahaku dengan genit.
“Hii. Jangan To akhh…, Merinding aku ah”

Dekapan tanganku di payudara dan dadanya makin kuat. Kumis dan bekas cukuran di janggutku membuatnya geli. Kurasakan tangan Vina perlahan mencengkeram erat kedua jariku. Aku makin bernafsu. Ciuman, kecupan dan hisapan bibirku makin menjadi-jadi ke leher dan telinganya. Vina mendesah memejamkan mata. Kepalanya bergerak-gerak mengikuti cumbuanku. Matanya terpejam dan napasnya menggelora.

Makin lama usapanku makin turun ke punggung, ke tulang-tulang rusuknya, dan ke pinggangnya. Kutarik pundaknya dan kusandarkan punggungnya ke dadaku, kutempelkan pipi kananku ke pipi kirinya. Lalu kuelus paha kanannya yang terbuka, kuremas-remas sampai ke pinggulnya. Vina memejamkan matanya. Elusan kedua tanganku merambat naik dan berhenti di dadanya untuk meremas-remas buah dada yang kurasakan besar dan kenyal itu. Mukaku kugesek-gesekan di tengkuk dan rambutnya, sambil kukulum-kulum daun telinganya. Deru napas Vina mulai tak teratur dengan diselingi desahan halus. Tangan kanannya meraih rambutku, kadang mencengkram lembut. Tangan kirinya digosok-gosokan keselangkanganku. Remasan tanganku ke buah dadanya makin liar, mukaku meliuk-liuk menciumi apa saja di leher dan kepalanya.

Kubuka kancing baju kebayanya. Buah dada tersembut dari balik BH-nya nampak indah sekali. Ia mengenakan stripless, bra tanpa tali di bahu. Aku semakin terangsang. Penisku yang sudah menegang sejak tadi ingin pecah rasanya. Kutarik leher baju kebayanya turun ke belakang hingga pundak dan lehernya terbuka bebas untuk kuciumi dan kujilati. Vina mengerang nikmat. Kulingkarkan kedua tanganku memeluknya erat-erat. Kuputar tubuhnya agar menghadapku dan bibir Vina yang setengah terbuka langsung kusambar dengan bibirku. Kupeluk erat tubuhnya. Dia menggeliat membalas permainan bibirku. Ia menggerakkan kepalanya mencari posisi yang pas. Ujung lidah kami beradu, kutelusuri rongga mulutnya dengan lidahku sampai seberapa jauh dapat kujangkau. Demikian kami bergantian saling menelusuri mulut. Kedua tangannya memeluk bagian leherku menahanku agar aku tidak melepaskan ciuman bibirku. Kuremas-remas payudaranya dengan tangan kananku. Vina melepaskan ciumannya lalu merintih-rintih dengan kepala terdongak ke belakang seolah memberikan lehernya untukku.

Bibirku mulai bergeser dari bibirnya menuju pipi dan terus ke daun telinganya. Daun telinganya kukulum dengan lembut sambil mengeluarkan erangan dan desahan di telinganya. Tidak lama kemudian bibirku pindah mengecup leher sebelah samping sampai ke dekat tengkuknya. Sesekali aku mengecup sambil menyedotnya.
“Aah.. ah…. Anto…” ia mendesah perlahan.

Kulepaskan kebayanya sehingga bagian atas tubuhnya terbuka lebar. Payudara yang masih tertutup bra kelihatan membusung seperti akan tumpah. Putingnya yang mulai mengeras jelas terlihat menonjol di balik cup bra. Dengan sedikit membungkuk, bibirku menuju belahan payudaranya dan menciuminya dengan lembut. Ia benar-benar terangsang dan mengelinjang hebat. Kuremas payudaranya bergantian dari balik bra-nya.

Tangan kiriku meremas pantatnya dan yang kanan menuju ke punggungnya membuka pengait bra. Begitu pengait terbuka maka kain penutup dadanya itu langsung jatuh ke atas lantai. Tangan kananku menuju payudara kirinya, meremas dengan lembut. Aku memainkan puting kanannya dengan bibirku, menghisap, mengecup, mengulum dan terkadang menggigit dengan ringan. Lidahkupun terkadang terjulur keluar untuk menjilat puting dan area sekitarnya yang berwarna coklat kemerahan. Jari telunjuk dan tengah tangan kananku memainkan puting kirinya dengan menjepitnya dan memilin pelan. Tangan kiriku yang berada di pantatnya segera menarik ritsluiting roknya, membuka kaitannya dan langsung saja roknya jatuh ke lantai. Tinggal stocking dan celana dalam yang masih melekat pada badannya. Ia masih tetap mengenakan sepatu hak tingginya.

Kubuka ikat pinggangku.
“Biar saja aku yang melakukannya sayang….” ucap Vina. Ia berlutut di depanku, membuka ikat pinggang, menarik ritsluiting celanaku dan langsung memelorotkannya. Vina memasukan tangannya ke balik celana dalamku dan meremas-remas penisku yang tegang dengan gemas. Ia kembali berdiri dan mulai melepas kancing kemejaku satu persatu. Gerakannya perlahan, tidak terburu-buru. Ia memang sangat pandai mengontrol emosinya dalam bercinta. Sekalipun aku tahu ia sudah sangat bernafsu, namun ia masih melakukan sesuatunya dengan perlahan dan lembut. Aku justru yang sangat bergairah menjadi blingsatan menahan nafsuku.

Sementara itu tangannya mulai menarik karet ban celana dalamku dan sambil berjongkok ia terus menurunkan celana dalamku. Sekarang penisku berada di depan mukanya. Aku sudah lama sangat menginginkan Vina mau melakukan oral sex. Ia mendekatkan mukanya dan dengan telapak kanannya kantong penisku dielus dengan ringan,
“Oh.. oh.. Ibu Vina..” aku menjadi semakin terangsang. Bibirnya digesekkan di batang penisku, akankah keinginanku agar ia meng-oral penisku terkabul?

Ujung penisku dikecupnya beberapa kali dan dengan ujung lidahnya ia menjilat lubang yang ada pada ujung kepala penisku. Cairan kental putih bening mulai keluar dari ujung penisku. Ia mengusapkan ibu jarinya meratakan cairan putih bening itu di seluruh bagian kepala penisku. Pinggulku dipegangnya dengan kedua tangannya agar lebih memudahkannya melakukan oral. Kepala penisku dimasukkannya ke dalam mulutnya dan berkali-kali ia mengulum dan menghisap. Setiap kali ia menghisap, aku merintih merasakan kenikmatan yang sudah lama kutunggu-tunggu.

Setelah puas memainkan kepala penisku dalam mulutnya, ia mulai memasukkan batang penisku ke dalam mulutnya perlahan-lahan sampai ke pangkal penis, sampai semuanya masuk semua ke dalam mulutnya. Ia berhenti sejenak dan melirik ke atas untuk melihat reaksiku. Kedua tanganku membelai-belai dan menarik rambutnya perlahan. Ia mulai menggerakan mulutnya dengan mengeluarkan dan memasukan penisku di dalam mulutnya dan sekali-kali ia menghisap ujungnya. Aku menggerakkan pinggulku berirama mengimbangi gerakan mulutnya.
“Aah.. ah.. nikmat sekali, ah..” aku merintih.

Sekali-kali ia melirik ke atas untuk melihat wajahku yang sudah hanyut dalam arus kenikmatan. Ia pun sudah terangsang dan benar-benar lupa segalanya. Sepertinya sudah lama ia tidak melakukan oral seks, tapi aku tahu ia punya pengalaman, mungkin saat ia masih muda dulu. Cukup lama ia melakukan oral sex, dan aku masih berusaha untuk bertahan, tapi tidak lama kemudian kakiku mulai gemetar, tidak kuat berdiri lagi. Kutarik Vina berdiri, dan setelah itu kudorong ia sedikit ke belakang dan mendudukkannya di tepi tempat tidur. Kakinya menjuntai di lantai.

Aku gantian berlutut dan ia sudah tahu apa yang akan aku lakukan. Tanpa diminta lagi ia membuka kaki lebar-lebar sehingga selangkangannya terlihat jelas. Ia mengangkat pahanya dan kubuka celana dalamnya yang masih menutupi bagian selangkangannya. Betisnya diangkat dan diletakkan di atas pundakku. Kepalaku mulai mendekati selangkangannya dan terus merapatkan kepalaku tepat di bibir vaginanya, lidahku berusaha membuka belahan vaginanya dan terus menjilat klitorisnya berkali-kali.
“Ouhh…ssshhh… ah…. ah!” ia merintih agak keras.

Bibirku mengecup dan mengulum klitorisnya beberapa saat. Dari situ aku mulai menjilat mulut vagina saya dan mengecupnya. Aku menjilati cairan yang sudah dari tadi membasahi vaginanya. Terasa agak lengket dan beraroma segar. Cairan dari dalam vaginanya semakin banyak keluar, pertanda ia sudah siap untuk masuk ke dalam tahap selanjutnya. Lidahku menjulur memasuki mulut vagina dan terus ke dalam saluran vaginanya,
“Ah.. Anto…ah..” Ia merintih tidak tahan dan meremas-remas kepalanya.
Kubuat lidahku menjilat dan bergerak-gerak di dalam saluran vaginanya sehingga seakan ada suatu makhluk hidup yang masuk ke dalam vaginanya dan bergerak-gerak. Aku terus memainkan lidahku di dalam vaginanya. Ia tidak kuat lagi bertahan untuk duduk, akhirnya ia merebahkan diri di atas ranjang, sementara itu aku masih terus memainkan vaginanya dengan lidahku. Ia merintih berkali-kali memintaku untuk segera masuk lebih jauh lagi.

Akupun mulai tak tahan, kuangkat kakinya ke atas ranjang. Kami berdua sudah berada di atas ranjang. Aku mulai menghampiri tubuhnya yang sudah telentang dari tadi. Kutelusuri sekujur tubuhnya, kuciumi muka, dada, perut, paha, dan betisnya. Bibirku naik lagi dan kemudian kutindih tubuhnya. Erangannya semakin kuat.

Aku mengambil posisi di atas dan dengan halus mengecup bibirnya. Kami saling bercumbu, saling mengulum lidahnya di dalam mulut dan bertukar air liur. Bibirku bergerak ke lehernya dan terus mengecup, mencium dan menjilati apa yang aku lewati. Ia merintih tidak henti-hentinya dan menjadikanku sangat terangsang menikmati rintihannya.

Bibirku terus mengecup ke bawah sampai di pangkal belahan payudaranya. Kedua tanganku terus meremas dan memainkan payudaranya, sesekali kujilat putingnya. Bibirku bergeser ke atas dan menciumi belakang daun telinganya. Mulutku beraksi di sekujur wajahnya, sementara tanganku mempermainkan kedua payudaranya sesukaku. Tangannya pun mulai mempermainkan penisku yang sudah mengeras tegak. Penisku diremasnya, dielusnya, diusapnya, dan dipermainkannya dengan penuh gairah. Aku menggeram menahankan rasa nikmat yang semakin menghebat.

Mulutku turun ke dadanya dan mulai menikmati buah dadanya. Dengan penuh nafsu kusergap kedua payudara itu. Ia membusungkan dadanya, agar mulutku bisa dengan leluasa menjelajahi setiap titik di payudaranya. Mulutku mengulum dan mengisap, diselingi dengan gigitan halus membuatnya mengerang tidak keruan. Tubuhnya menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan tanpa daya, menikmati semuanya itu. Kami berdua sama-sama mengerang merasakan gairah yang semakin memuncak.
“Ooohh.. aahcchh..” erangku.
“Auu.. ach..oouu..” lenguhnya seperti kehilangan pegangan.

Aku semakin meningkatkan seranganku. Mulutku mulai memutari perutnya, sementara kedua tanganku melingkar ke pantatnya yang montok dan halus. Kuremas buah pantatnya dengan penuh nafsu. Mulutku turun semakin mendekati kemaluannya. Ia semakin lebar membuka pahanya, menanti mulutku singgah di kemaluannya. Kuisapi setiap mili kulit perutnya untuk membangkitkan nafsu birahinya. Semakin mendekat ke vaginanya, lenguhan semakin keras.
“Aaauu.. Anto…. aku tidak tahan lagi.. aahh.. aacchh..” lenguhnya.

Aku masih ingin bermain dan menikmati tubuh montok dan mulus itu sepuasnya, walaupun penisku sendiri telah mengeras maksimal. Mulutku semakin mendekati vaginanya. Kusapukan lidahku sejenak di lubang vaginanya dan hinggap di pahanya. Kudengar desah nafas panjang tertahan menunggu aksi bibirku selanjutnya. Ia pasti sangat menginginkan agar kubenamkan mulutku di vaginanya. Tetapi bibirku malah merayapi pahanya semakin ke bawah untuk menikmati betisnya yang tertutup stoking hitam. Kusapu betisnya dengan bibirku, sementara tanganku terus mengusap pahanya, semakin naik mendekati sentrum persetubuhan kami ini. Pahanya membuka semakin melebar, seirama dengan gerakan mulutku yang kembali naik semakin mendekati bagian ternikmat dari tubuhnya. Akhirnya, setelah ia bergerak semakin tidak terkendali lagi, kubenamkan mulutku ke kemaluannya dan menjilatinya dengan penuh gairah. Ia tersentak bangun dan dalam posisi setengah duduk menekan kepalaku lebih dalam ke selangkangannya. Beberapa saat ia berbuat begitu untuk memberikan rasa nikmat yang lebih besar.
“Aaahh.. aduuhh..”, erangnya.

Tiba-tiba ia mendorong tubuhku sehingga telentang di atas ranjang. Mulutnya kemudian melahap penisku yang besar dan tegang itu. Aku terkesiap, membeliak menahankan kenikmatan yang tidak terkira. Ia mengisap dan mengulum dengan lincahnya. Lidahnya meruncing mempermainkan ujung kemaluanku, membuatku seakan melayang di angkasa. Tetapi kali ini aku tak ingin dikuasai wanita itu. Maka cepat kutarik kepalanya ke atas. Mulutnya terbuka dengan mata yang terpejam sayu karena nafsu yang semakin menggila. Kurasa sudah saatnya menggenjot kemaluannya.

Kurebahkan tubuh Vina kembali ke atas ranjang. Ia terlentang dengan paha yang terbuka lebar. Kakinya yang dilapisi stoking hitam sangat kontras dengan kulitnya yang putih mulus, sepatu hak tinggi dengan tali yang melilit di betisnya masih dikenakannya. Fantasiku tercapai, bercinta dengan wanita yang mengenakan stoking dan sepatu hak tinggi. Aku segera merebahkan diriku ke atas tubuhnya yang montok itu. Kedua tanganku memeluk pinggangnya sementara mulutku menjelajahi wajahnya. Tangannya memeluk leherku erat. Dan di bawah sana, penisku dengan ganasnya mencari jalan masuk. Beberapa kali aku mencoba untuk menusuk tetapi selalu meleset.

Dan memang, tidak lama kemudian sebelah tangannya yang mencengkam leherku beralih ke bawah perutku. Tangan yang halus itu menangkap kemaluanku, meremasnya sesaat dan membimbingnya untuk masuk ke dalam lubang kemaluannya yang sudah membanjir dengan lendir licin itu. Penisku sudah berada di ujung vaginanya, dan aku mulai mendorong penisku. Ia merintih lebih keras. Kepala penisku kugerak-gerakkan di bibir vaginanya, membuatnya kehilangan kendali.
“Masukan semua, ah.. Antoo”, ia meminta agar seluruh batang penisku masuk ke dalam liang vaginanya. Aku terus menekan penisku mendorong ke dalam vaginanya. Aku merasakan penisku yang besar itu perlahan tapi pasti terus masuk lebih dalam.
Dan kurasakan kemaluanku meluncur ke dalam dengan lancarnya membuat ia menjerit tertahan, menahan rasa nikmat yang tidak terkira. Aku masukkan seluruh batang penisku sampai kurasakan ujung penisku telah mencapai bagian paling dalam vaginanya. Kurasakan jepitan nikmat dan lembut dari otot vaginanya. Aku menggeram menahan rasa nikmat. Ia terus merintih keras.
“Aaah..” jeritnya panjang tanpa ampun.

Ia merintih-rintih tanpa henti dan memeluk badanku untuk bertahan. Aku mulai menggerakkan pinggulku dan penisku bergerak keluar masuk di dalam vaginanya. Suara seperti orang berjalan di tempat becek terdengar akibat dari gesekan penisku dengan dinding vaginanya yang sudah lincin. Sambil terus bercumbu, gerakanku semakin cepat. Ia menyesuaikan gerakannya. Ia terus menerus merintih. Sesekali aku menjilat dan menghisap putingnya yang berdiri menantang dan keras itu.

Aku membiarkan ia berteriak, menjerit dan mengerang meluapkan seruan kenikmatannya itu sesukanya. Gairahku pun sudah ganas bergelora. Dan di bawah sana, kemaluanku masih beraksi dengan cepat. Agaknya karena desakan gairahku yang tidak terbendung lagi tidak seperti biasanya kali ini aku akan bermain dengan cepat. Tidak kupedulikan tangannya yang mencoba menahan pinggulku agar bermain dengan irama perlahan. Akhirnya ia mengimbangi irama permainan yang kuciptakan. Aku tidak ingin beristirahat untuk menikmati remasan otot vaginanya, mungkin nanti saja pada babak berikutnya, kalau ada. Kugenjot kemaluannya dengan gerakan maju mundur yang berirama, membuatnya menggeliat kesana kemari. Pahanya terangkat dan bergerak liar tanpa arah. Kurasakan ia memutar-mutar pantatnya yang besar untuk memperbesar rasa kenikmatan gairah birahi. Pantatnya yang besar itu memberikan andil dalam menciptakan sensasi kenikmatan yang hebat, bukan saja untuknya tetapi untukku juga.

Mendadak dia memeluk badanku dan mencoba untuk berputar. Kami merubah posisi dengan memutar badan kami. Aku telentang dan ia berada di atas tubuhku. Seperti penunggang kuda, ia duduk di atas tubuhku dan penisku tetap kencang berada di dalam vaginanya. Ia mulai menggerakkan pinggul, dan kelihatan menikmatinya, terlihat dari wajahnya yang semakin merah dan sayu. Sementara pinggulku bergerak semakin cepat mengimbangi gerakannya. Aku pun merintih karena nikmatnya. Ini adalah salah satu posisi yang aku sukai pada saat bercinta, tetapi tidak untuk menggapai puncak kenikmatan, rasanya kurang bisa lepas mengekspresikan kenikmatanku. Terasa penisku masuk lebih dalam dan memang aku merasakan ujung penisku sudah menyentuh bagian paling dalam vaginanya. Sesekali ia menjepit penisku yang sedang berada di dalam vaginanya dengan remasan pada dinding vaginanya.

Kutarik penisku dan kuputar tubuhnya tengkurap. Kutarik pantatnya ke atas. Ia segera mengerti maksudku. Iapun semakin menaikkan pantatnya sehingga sejajar dengan pinggulku. Aku berdiri di atas lututku. Tangan Vina terjulur ke belakang lalu memegang batang kemaluanku dan diarahkannya ke celah-celah bibir vaginanya yang sudah sangat licin. Dengan lembut aku mendorong pantatku sampai akhirnya ujung penisku berhasil menerobos bibir vaginanya hingga membuat tubuhnya menggeliat hebat. Ujung penisku yang besar itu mulai bergerak menyeruak masuk. Perlahan namun pasti rasa nikmat mulai timbul dan kurasakan menjalar dari penisku ke seluruh tubuhku.

Kenikmatan yang didapatnya betul-betul membuatnya hampir berteriak histeris. Kepalanya menggeleng-geleng dan tangannya meremas bed cover. Sungguh vaginanya mendatangkan kenikmatan yang luar biasa. Dinding vaginanya serasa berdenyut-denyut saat menjepit batang penisku yang bergerak maju mundur secara perlahan. Aku terus menerus mengayunkan pantatku, sementara tubuh kami mulai basah oleh keringat yang semakin deras mengalir. Tanganku sebelah memegang pinggulnya dan sebelah lagi terjulur ke depan menjangkau payudaranya yang menggantung bergoyang-goyang. Kurapatkan tubuhku dan kuciumi punggungnya.
“Akkhh.. Anto..” ia menjerit perlahan saat kurasakan betapa batang penisku bergerak semakin dalam. Kukencangkan dan kukendorkan otot perutku secara berirama sehingga batang penisku terasa berdenyut-denyut dalam jepitan liang vaginanya. Kulepaskan tangan yang memegang pinggulnya dan kutarik rambutnya yang masih terikat itu sehingga kepalanya mendongak. Lidahku mencoba menyapu lehernya dan tengkuknya tetapi ternyata tidak sampai sehingga aku hanya bisa mencium punggung sampai bahunya saja. Kalau kupaksakan penisku pasti akan keluar dari vaginanya. Kulihat bulu kuduknya merinding.
Hhmm…Ahh… sshhhh, ia mendesah menahan geli dan rasa nikmat sekaligus.

Aku kembali mendorong pantatku hingga batang penisku kembali menyeruak masuk. Vina menggoyangkan pantatnya untuk memperlancar gerakan batang penisku dalam liang vaginanya. Kepalanya bergerak-gerak liar merasakan sensasi hebat yang sedang dialami. Liang vaginanya semakin berdenyut-denyut dan kurasakan ada semacam gejolak aliran kenikmatan yang meletup-letup hendak pecah dari dalam diriku.
Dengan perlahan tapi pasti batang penisku itu melesak bergerak keluar masuk dalam lubang vaginanya menggesek dinding vaginanya.
“Hebat Bu Vina. Punyamu tidak seperti milik perempuan yang sudah berumur empatpuluhan. Rasanya seperti bercinta dengan gadis duapuluhan,” aku berbisik memujinya. Ini membuatnya semakin merapatkan otot vaginanya.

Terasa batang penisku semakin membesar dalam jepitan kehangatan liang vaginanya. Batang penisku berkedut-kedut dalam jepitan lubang vaginanya. Kemudian dengan perlahan sekali aku mulai mengayunkan pantatku hingga kurasakan batang penisku dapat menelusuri setiap mili dalam liang vaginanya. Ada seperti tonjolan daging yang tidak beraturan dalam liang vaginanya. Ini menimbulkan sensasi yang teramat nikmat untukku.

Aku mendengus perlahan pertanda bahwa birahiku sudah semakin meningkat sementara gerakan batang penisku di dalam vaginanya semakin mantap. Aku dapat merasakan bagaimana batang penisku yang keras menggesek-gesek dinding vaginanya. Ia pun mengerang dan tubuhnya bergerak liar menyambut ayunan pinggulku dan gesekan batang penisku. Pantatnya terayun mundur mengikuti gerakanku ketika menarik batang penisku dengan cara menyentak seperti menarik pancing sehingga hanya kepala penisku yang masih terjepit di dalam lubang kenikmatannya. Lalu aku mendorong batang penisku secara perlahan hingga ujungnya menumbuk dining rahimnya. Aku melakukannya berulang-ulang.

Secara refleks ia mengimbangi ayunan pinggulku dengan menggoyang pantatku. Semakin lama ayunanku semakin cepat dan keras, sehingga tubuhnya tersentak-sentak dengan hebat. Clep.. Clep.. clep.. demikian bunyi gesekan batang penisku saat memompa liang vaginanya.
“Akhh..! Akkhh..! Oohh..!” ia mengerang berulang-ulang. Benar-benar luar biasa sensasi yang kudapatkan. Aku merasa seperti sedang bercinta dengan gadis perawan yang sedang melepaskan mahkotanya.

Tak berapa lama kemudian aku merasakan nikmat yang luar biasa dari ujung kepala hingga ujung kemaluanku. Tubuhku semakin liar bergerak dan Vina menggelepar-gelepar mengimbangi gerakanku. Aku menjadi semakin liar dan memeluk pinggulnya erat-erat seolah takut terlepas.
“Ooh.. Oh.. Akhh..!” Ia menjerit penuh kenikmatan. Aku tahu bahwa ia hampir mencapai orgasme. Aku semakin kencang menggerakkan batang penisku yang terjepit di liang kenikmatannya. Tubuhnya semakin menggelinjang liar di depanku.
“Enak kan Sayang..” bisikku lembut sambil mengusap lehernya.
“Oohh.. Aauuhh.. Oohh..!” jeritnya tanpa sadar. Secara refleks jari-jarinya mencengkeram pahaku. Pantatnya semakin dinaikkan ke atas menyongsong penisku agar bisa masuk sedalam-dalamnya. Lalu kurasakan liang senggamanya berdenyut-denyut. Akupun merasakan tubuhku seperti sedang melayang, serasa ringan bagaikan kapas. Aku juga hampir mencapai orgasme! Gerakanku semakin kuat dan tiba-tiba aku menghentikan gerakanku.

Ia hanya terdiam dan wajahnya merona karena rasa malu dan nikmat. Aku membiarkan saja batang penisku terjepit dalam liang vaginanya merasakan denyutan yang meremas setiap mili bagian penisku. Aku mengatur napasku sementara merasakan batang penisku dipijit dan diremas-remas oleh otot vaginanya. Akupun mengedut-ngedutkan penisku dalam jepitan liang vaginanya. Tubuh kami berdua sudah mengkilat karena peluh yang membanjiri tubuh kami berdua.

Aku kembali bergerak pelan dan semakin cepat. Beberapa menit kemudian Vina merintih agak keras,
“Aah.. aku tidak tahan, ah.”
Akupun sudah merasa mendekat klimaks,
“Keluarkan…, ah cepat sekarang!”
Cairan panas terasa mendesak di dalam saluran penisku. Aku kembali membalikkan tubuhnya terlentang untuk menyongsong puncak kenikmatan yang sebentar lagi akan kami gapai bersamaan. Tanpa menunggu lagi kembali kumasukkan penisku ke dalam vaginanya dan langsung mengayunnya dengan kuat. Kami benar-benar menikmatinya sampai akhir. Aku merebahkan diri semakin merapat memeluk badannya. Detak jantung dan nafas kami semakin kencang. Penisku mulai berdenyut kuat. Dia mencium bibirku dengan ganas, dan aku pun membalas dengan tidak kalah ganas.

Pinggulku semakin cepat mengayun. Bunyi benturan paha kami semakin keras. Pantatnya juga semakin berguncang hebat. Pahanya terus bergetaran sementara tubuh kami menjadi basah berlumuran keringat. Mulutku terus mencecar mulut dan dadanya yang montok merangsang. Kurasakan tubuhnya bergetar menahan rasa nikmat yang semakin luar biasa. Sementara itu tangannya yang halus semakin kuat mencengkeram punggungku. Aku semakin bersemangat mengayunkan pinggulku dan memutar penisku di dalam vaginanya. Kugerakan pinggulku semakin cepat dan keras. Kadang aku menekan dengan sangat halus, terkadang aku mendesak dengan cepat dan agak kasar, membuat ia selalu ingin aku meningkatkan permainanku ini. Betisnya menjepit dan menggesek-gesek pinggulku. Tumitnya menekan pahaku.
“Aaah..” jeritnya panjang.

Kelelahan mulai merayapi tubuhku. Sudah lebih dari setengah jam pertarungan ini berlalu. Dengan gerakan yang perlahan tetapi bertenaga penuh aku menghentakkan pantatku dan membenamkan penisku dalam-dalam di lubang vaginanya. Beberapa kali kulakukan dan kemudian ia berteriak keras menandakan kenikmatan puncaknya.
Aaauu..”, serunya tertahan di bahuku.
Ibu Vina… Bu.. Vin… Ohhh aku kelluuar…!
Aku menggeram menahan rasa nikmat, mengiringi pancaran spermaku yang menyembur masuk ke dalam lubang vaginanya. Kurasakan cairan kemaluannya pun mengalir deras membasahi pahaku. Pantatnya naik sehingga kemaluan kami semakin rapat bertemu. Betisnya membelit pinggangku. Tanganku mencengkam kuat pinggulnya. Kurasakan payudaranya mengeras di dadaku. Denyutan dari penisku dibalas dengan denyutan dari vaginanya. Sementara kuku-kukunya membenam di punggungku. Nafas kami memburu berkejaran, tubuhku dan tubuhnya basah bersimbah keringat, lelah tetapi teramat nikmat.

Lima belas menit lamanya tubuh kami terbaring lemas, menggeletar nikmat. Aku membiarkan tubuhku berdiam menikmati sisa-sisa kenikmatan birahi yang ada. Badanku dan badannya melemas. Beberapa saat berlalu, kuangkat wajahku. Ia membuka matanya dan tersenyum. Kucabut kemaluanku yang mulai mengecil keluar dari vaginanya, meneteskan sisa spermaku. Kupandangi sejenak vaginanya yang terbuka berwarna kemerah-merahan itu, seakan-akan tersenyum kepadaku. Bulu-bulunya yang hitam lebat rapi itu basah kuyup dan menggumpal lekat di dekat bibir vaginanya. Aku tersenyum dan memandangnya. Ia meraih tubuhku ke dalam pelukannya dan dan dengan mesra mengecup bibirku sebagai tanda terima kasih.

“Terima kasih, Anto .. Kamu sungguh jantan”, katanya sambil membelai wajahku.
“Aku sangat puas dengan kejantananmu. Aku benar-benar kagum. Kamu adalah lelaki idaman setiap wanita di atas tempat tidur”.
Sorry Bu Vina. Aku sangat bernafsu melihatmu sejak tadi sore, sehingga kali ini aku bermain sangat cepat dan mungkin agak kasar.
Hmm… tidak apa-apa. Anggap saja ini sebagai selingan. Yang jelas aku juga merasa puas sekali.
Aku juga puas sekali Bu… .
Tidak biasanya ketika bercinta kamu panggil aku Ibu.
Nggak tahulah. Malam ini dengan baju kebaya aku ingin sekali memanggilmu Ibu Vina. Apalagi tadi ada service yang begitu istimewa untukku. Luar biasa.
Ah kamu ini. Sebenarnyapun dari dulu aku akan melakukannya, hanya tinggal tunggu waktu yang tepat. Sekalian agar kamu penasaran…
Kami saling berpandangan dan tersenyum, membayangkan masih banyak kesempatan bagi kami untuk bertarung memuaskan nafsu birahi masing-masing.

Kami kemudian membersihkan diri. Atas permintaanku Vina tetap mengenakan stoking dan sepatunya. Sambil berbaring miring berdampingan dan saling menatap muka, kami masih ngobrol tentang banyak hal. Aku terbuka mengatakan bahwa aku memiliki fantasi bercinta dengan wanita yang mengenakan stoking dan sepatu hak tinggi dan malam ini tercapai keinginanku. Ternyata Vinapun sempat memiliki fantasi yang sama. Akhirnya kami tertawa ketika mengetahui memiliki fantasi yang sama. Setelah kurang lebih sejam beristirahat, akhirnya Vina mengajakku untuk bersama-sama berpacu kembali mendaki lereng kenikmatan.
Anto..! bisiknya pelan.
Hmm.., sahutku asal-asalan.
Aku mau lagi. Kamu mau juga khan?

Kutatap tubuh telanjangnya yang indah berbaring telentang di atas ranjang. Sebelah kakinya lurus dan sebelah lagi dilipat pada lututnya. Ia juga tersenyum menatapku, menantikan aksi berikutnya. Segera kuterkam tubuhnya dan kamipun mulai bergelut. Mulut kami bersatu dan berciuman saling menyedot untuk membangkitkan nafsu gairah birahi yang lebih besar. Tangan kami masing-masing menjalar ke seluruh lekuk liku tubuh kami. Aku terus menikmati payudaranya dengan mulutku. Payudara indah dengan perut yang rata dan putih mulus itu menggeletar-geletar menahan birahi yang semakin meningkat. Matanya tertutup dan bulu badannya meremang, menahankan gairah birahi yang menggelora.

Aku tersenyum mengamati tubuhnya yang indah dan montok itu. Wajahnya yang oval, kulitnya yang putih halus, alisnya yang tebal, bibirnya yang sensual, pipinya yang merah, dagunya yang panjang, lehernya yang jenjang, bahunya yang kekar berisi, dadanya yang mulus dihiasi dua payudara yang besar dan mencuat ke atas seperti gunung kembar, dengan puting susu yang merah kecoklatan, perutnya yang rata dengan pusar yang menawan, pahanya yang putih mulus gempal, betisnya yang bulat, pantatnya yang besar dan bulat yang berguncang dengan hebatnya kalau lagi menahan birahi, serta lubang kemaluannya yang kemerah-merahan, basah, licin dan dihiasi dengan bulu hitam lebat yang dipotong rapi menutupi bukit kemaluannya. Pendek kata sebagai seorang wanita ia begitu sempurna dalam segi fisik dan menjanjikan kenikmatan yang sangat menyenangkan lelaki yang bersetubuh dengannya. Dan sekarang saatnya bagiku untuk menikmati semuanya itu.
“Tunggu apa lagi, kok diam saja. Ngapain sih, nggak dimulai”, protesnya.
“Nggak jadi deh”, kataku memancingnya.
“Apa-apaan kamu ini”, katanya tersentak bangun.
“Cepetan dong, aku udah keburu nafsu nih.”

Aku tertawa kecil dan kuterkam tubuhnya yang bahenol itu. Tubuh kami terguling ke atas ranjang yang empuk, yang telah menjadi menjadi arena pemuasan dendam birahi yang membara. Nafsu birahiku langsung menggelegak. Kutindih tubuhnya dengan gairah penuh. Mulutku beraksi di sekujur wajah dan lehernya, sementara tanganku mempermainkan kedua puting payudaranya.
Kali ini kita main pelan saja seperti biasa To! ia memohon.
OK Bu. Tadi kita sudah bermain cepat, kali ini kita akan bermain sangat lambat sayang, bisikku.

Bibir kami saling beradu. Kubiarkan lidahnya menjulur masuk mempermainkan lidahku dan menggelitik langit-langit mulutku, sementara kedua tanganku bermain di kedua payudaranya. Puas mempermainkan bibirnya, kurayapi pipi dan dagunya dengan bibirku. Tangannya yang lembut mengelus dan meremas-remas penisku. Aku mengerang nikmat. Mulutku beralih pada kedua puting payudaranya yang mengeras. Kurasakan denyut jantungnya semakin cepat dan nafasnya yang memburu.

Mulutku terus turun merayapi perutnya. Tubuhnya menggelinjang menahan nafsu birahi yang semakin memuncak. Bibirku semakin mendekati kemaluannya. Pahanya membuka seiring dengan mulutku yang menyusur bermain mendekati lubang surgawinya. Pantatnya mulai diangkat dan berguncang-guncang hebat. Kuisap pangkal pahanya dan sesekali menjepit dan menarik bulu-bulu kemaluannya dengan bibirku. Ia semakin keras mengerang. Akhirnya kubenamkan mulutku di lubang kemaluannya. Lidahku menjulur masuk. Ia tersentak dan menekan kepalaku lebih dalam agar mulutku menyusuri selangkangnya. Kujilat dan kuisap klitorisnya. Erangan itu perlahan berubah menjadi jeritan kecil. Kupikir inilah saat yang tepat.

Kurebahkan tubuhku kembali menindih tubuh molek itu. Kemaluanku yang sudah keras tegak itu dengan perlahan mencari sasarannya. Ketika kepala penisku sudah menyusup di bibir vaginanya, maka kutekan pinggulku. Kugenjot sekali meleset. Ketika kugenjot untuk kedua kalinya kurasakan kemaluanku menyusup masuk membelah lubang kemaluannya yang hangat berlendir. Ia membuka paha lebar-lebar sehingga dengan gampang penisku menyuruk masuk lebih dalam.
“Aaachh..”, ia menjerit panjang.

Kugerakan pantatku naik turun untuk memompakan kenikmatan kepadanya. Ia mengerang dan mendesah. Nafasku mulai memburu dan mulutku sibuk mengulum dan melumat kedua payudaranya. Sesaat ia terdiam sambil menengadahkan wajahnya ke atas dengan mata terpejam. Kemudian ia melakukan gerakan untuk mengimbangi gerakanku. Aku terus menggoyangkan pinggulku dengan perlahan agar dia merasakan kenikmatan yang maksimal. Meskipun Vina sudah berumur empatpuluhan aku merasa kenikmatan dari lubang vaginanya tidak kalah dengan ABG, rapat dan kokoh menjepit penisku. Ada rasa licin akibat dari lendir vaginanya tetapi otot vaginanya seakan mencengkeram dengan kuat batang penisku. Maka gerakan pinggulnya untuk yang naik turun dan memutar menimbulkan kenikmatan yang luar biasa.

Vina memang luar biasa untuk bercinta dalam tempo lambat, ia tetap menjaga tempo permainannya agar aku bisa mengikuti caranya bermain. Ia bisa menjaga tempo agar aku tidak cepat-cepat meledak. Memang sama sekali tidak ada gerakan liar dan cepat. Yang dilakukannya adalah gerakan-gerakan lembut dan perlahan, tapi justru menimbulkan kenikmatan yang luar biasa, terutama karena aku jarang sekali bercinta dengan irama lambat seperti itu.

Ia mendorongku dan kemudian aku mengambil posisi duduk di atas ranjang. Vina duduk di atas pangkuanku dan kemudian membimbing penisku yang melonjor tegang dan keras itu masuk ke dalam vaginanya. Begitu penisku amblas ke dalam vaginanya, terdengar jeritan kecil yang menandai kenikmatan yang ia dapatkan. Aku juga merasakan kehangatan mengalir mulai ujung penisku dan mengalir ke sekujur tubuhku. Ia memegangi pundakku dan menggerakkan pinggulnya yang indah dengan gerakan memutar serupa spiral. Naik turun dan memutar dengan pelan tapi bertenaga.

Suara gesekan pemukaan kulit penisku dengan dinding vaginanya menimbulkan suara yang merangsang. Demikian juga dengan gesekan rambut kemaluannya yang dengan rambut kemaluanku. Suara erangan dan desahan napasnya yang terpatah-patah, suara gesekan penis dan dinding vaginanya serta suara gesekan rambut kemaluan kami berbaur berirama.

Vina mendorong tubuhku sampai aku terbaring. Ia membuat gerakan naik turun, berputar dan maju mundur bergiliran. Aku hanya mengimbangi gerakannya, ketika ia menaik turunkan pinggulnya akupun melakukan hal yang sama, ketika pinggulnya berputar, aku juga memutar pinggulku dengan arah berlawanan dan ketika penisku sepenuhnya ada dalam vaginanya dan ia bergerak maju mundur tanpa mengangkat pinggulnya, akupun mengimbangi gerakannya. Sesekali tubuhnya merapat di dadaku, lidahnya menjilati puting dan bulu dadaku.

Suasana kamar yang remang-remang dari lampu tidur membuat aku tidak ingin membiarkan setiap detik terbuang sia-sia. Payudaranya yang ikut bergerak sesuai dengan gerakan tubuhnya begitu menggodaku. Kutangkap payudaranya itu dengan tanganku dan kemudian kucium dan kukulum putingnya. Matanya yang setengah terpejam kadang-kadang terbuka dan tampak sorot mata yang menahan nikmat yang membungkus perasaannya. Kami terus melanjutkan permainan cinta yang lembut tapi panas itu.

Aku berguling dan merebahkan tubuhnya kembali. Ketika aku mulai mempercepat gerakan pinggulku, ia mengulum daun telingaku dan berbisik dengan mata yang masih terpejam.
“Pelan-pelan saja, To. Aku masih ingin menikmati permainan ini”.
Gerakanku kemudian berubah menjadi pelan dan lembut seperti permintaannya. Kini erangan dan desahan patah-patahnya kembali terdengar. Ia menarik bahuku agar aku lebih merapat ke badannya. Agaknya ia ingin mendapatkan kenikmatan yang maksimal dari gesekan-gesekan bagian tubuh kami yang lain. Begitu dadaku bergesekan dengan buah dadanya, semakin besarlah sensasi kenikmatan yang kudapat. Kuarahkan agar putingnya menggesek bulu dadaku. Erangannya menjadi semakin sering dan kuat. Aku melumat bibir merahnya yang menganga. Meskipun jeritannya agak bekurang karena kini mulutnya sibuk melumat mulutku, tapi semakin sering ia mengerang dan terengah-engah dilanda kenikmatan.

Matanya terbuka dengan sorot mata puas dan gembira. Kemudian ia berbisik terengah-engah..
“Aku.. Aku.. Sudah, To….. Saatnya untuk …. “.
Aku tahu yang dia maksudkan, maka kemudian pelan-pelan semakin kupercepat gerakanku dan semakin bertenaga pula. Ia kini membiarkanku melakukan itu. Kurasa Vina sudah puas bergumul dan bercumbu denganku dan kini ia sudah ingin mendapatkan orgasmenya. Sekian lama kemudian kurasakan dinding vaginanya berdenyut-denyut kuat. Aku justru sedikit menurunkan tempo permainan tetapi tenagaku tetap terjaga dan bahkan otot di sekitar pinggulku kutahan dan kukencangkan. Aku sendiri masih belum ingin mencapai puncak kenikmatan. Aku akan mengantarkannya menggapai puncak terlebih dahulu. Penisku semakin sering merasakan denyutan-denyutan nikmat, menandai bahwa sebentar lagi akan ada ledakan dahsyat yang akan membawanya ke awang-awang.

Tiba-tiba tubuhnya mengejang. Ia menghentakkan pantatnya ke atas menyambut pinggulku yang menekan kuat ke bawah. Aku tahu, ia sudah mencapai orgasme. Paha dan betisnya ketat membelit pinggangku. Kurasakan permukaan stoking yang licin seperti membelai kulit pinggangku. Tubuhnya bergetar menahan rasa nikmat. Aku semakin menekan pinggulku sehingga penisku semakin dalam masuk ke dalam vaginanya. Tangannyapun menekan pantatku seolah ia belum puas dengan tekanan dari pinggulku. Ketika dinding vaginanya berdenyut-denyut kuat akupun membalasnya dengan denyutan pada penisku. Tanpa mengangkat pinggulku penisku membuat gerakan memutar di dalam vaginanya. Ia semakin kuat memeluk tubuhku. Nafasnya sesaat terhenti dan kemudian keluar dengan tersengal-sengal. Setelah beberapa menit ia diam membatu. Aku membiarkannya menikmati orgasmenya.

Beberapa saat ketika nafasnya mulai teratur aku mulai menggerakkan pinggulku lagi. Tubuhnya kembali menggeliat-geliat. Aku akan memberikan satu sensasi baru baginya. Kucabut penisku yang masih dalam puncak ketegangannya itu. Kutarik tubuhnya untuk turun dari ranjang. Dengan tubuh yang masih bergetar menahan sisa-sisa kenikmatan ia menurut saja. Dalam posisi berdiri kubuka pahanya dan aku berusaha memasuki lubang vaginanya kembali. Ia mendorong pinggulnya ke depan menyambut penisku yang sudah menyusup di antara celah pahanya. Kuraih punggungnya dengan tangan kiriku dan menekannya ke arah dadaku, sementara tangan kananku menjangkau pantatnya yang besar itu. Ketika kurasakan kepala penisku sudah mulai menyusup di bibir vaginanya maka kusentakkan pantat yang lembut itu ke arah penisku. Meluncurlah batang penisku membelah lubang vaginanya kembali.
“Aaachh..”, sekali lagi terdengar jeritannya panjang membelah malam.
Hrrrmmmhh…, aku menggeram menahan kenikmatan.

Dengan berdiri mengangkang lebar ia membiarkan aku dengan leluasa menggenjot kemaluannya. Karena tinggi tubuhnya tidak berbeda jauh denganku, aku tidak terlalu kesulitan untuk melakukan gerakan sambil berdiri. Keringatku mulai bercucuran melekat di tubuhnya. Mataku terpejam dan rasa nikmat mulai menjalari seluruh tubuhku mendesakku untuk mengakhiri pertarungan ini. Kukencangkan otot perutku. Kemaluanku semakin mengeras dan memanjang. Kami sama-sama mengerang keras. Badannya merosot, sendi lututnya goyah karena rasa nikmat yang tak terkira. Kuangkat pantatnya dan aku terus menggerak-gerakkan pantatku maju mundur sambil mendengar suara kecipak dari dalam vaginanya yang basah oleh lendir vaginanya. Cairan itu sudah mulai turun dan membasahi pahaku.

Kudorong tubuhnya berbaring di atas ranjang. Akhirnya dengan mengerahkan sisa tenagaku kusentakkan pantatku sekuatnya ke untuk membenamkan kemaluanku sedalam-dalamnya di lubang vaginanya. Aku menggeram keras dan sejalan dengan itu tubuh kami yang menyatu bergulingan di atas ranjang.

Pahanya ketat membelit pinggangku. Pantatnya yang besar itu berguncang-guncang hebat menyongsong pinggulku. Tangannya ketat memelukku. Agaknya ia tidak bisa meraih puncak kenikmatannya lagi, tetapi ia hanya mengiringiku untuk gantian mengantarku mencapai puncak kenikmatan sempurna. Giginya yang terbenam di bahuku sehingga kenikmatanku menjadi semakin lengkap. Rasa sakit dan pedih timbul dari gigitannya di dadaku, tetapi itu justru semakin membuat kenikmatanku sempurna. Kurasakan gelombang kenikmatan akhir orgasme merayapi tubuhku. Tubuh kami yang masih merapat diam membeku mereguk sisa-sisa kenikmatan. Sekitar sepuluh menit berlalu.
“Terima kasih, Ibu Vina”, kataku sambil membelai wajahnya,”Aku puas sekali!”
“Aku juga puas sekali”, sahutnya,”Kamu sungguh luar biasa malam ini. Tentu waktu itu Inge kamu buat sampai menjerit-jerit”.

Tiba-tiba aku ingat Inge yang ada di kamar sebelah.

Author: 

Related Posts

Comments are closed.