Cerita Dewasa Once Upon A Time In Someplace – Part 27

Cerita Dewasa Once Upon A Time In Someplace – Part 27by on.Cerita Dewasa Once Upon A Time In Someplace – Part 27Once Upon A Time In Someplace – Part 27 Chapter XXVII : Lets Do It “Begitulah kisah hidupku, hingga aku sampai ke Jakarta dan bertemu denganmu,” kata Elang, mengakhiri ceritanya dengan menghela nafas panjang. “Sangat menarik dan penuh liku kehidupan, tampaknya hal itulah yang membentuk dirimu menjadi manusia yang kuat, keras, tegas dan dingin dalam […]

tumblr_lxp5l67mVj1r9ili8o2_1280

200905242016000

200905242016000

Once Upon A Time In Someplace – Part 27

Chapter XXVII : Lets Do It

“Begitulah kisah hidupku, hingga aku sampai ke Jakarta dan bertemu denganmu,” kata Elang, mengakhiri ceritanya dengan menghela nafas panjang.

“Sangat menarik dan penuh liku kehidupan, tampaknya hal itulah yang membentuk dirimu menjadi manusia yang kuat, keras, tegas dan dingin dalam menghadapi kerasnya hidup. walau kadang kau juga merasa rapuh dan lemah seperti ceritamu, tapi itu merupakan hal yang sangat manusiawi.”

“Bagaimana dengan kau sendiri, Vin? Tentu hidupmu lebih mulus dari kehidupanku. Maukah kau sedikit bercerita tentang dirimu, walau sedikit banyak aku sudah tahu dari Ayah, Ibu dan Mas Bram. Tapi tentu ada cerita tentang dirimu yang tidak di ketahui oleh mereka.”

“Baiklah aku akan menceritakan tentang diriku.” Aku lalu bercerita tentang riwayat hidupku, mulai dari kecil, remaja, dewasa, bekerja sampai datangnya masalah tentang kematian Om Gian. Tentang penyelidikanku hingga aku sampai di celakai oleh mereka.

Setelah usai ceritaku, kami kemudian tenggelam dalam pikiran masing-masing untuk beberapa saat, “Vin, apa yang kau pikirkan sama seperti apa yang kupikirkan?” tanya Elang, memecahkan kediaman kami.

“Ya, aku pikir seperti itu, Lang. Kalau Andi atau Kui itu merupakan teman atau komplotan dari Xin dan Mow, maka kita mempunyai tujuan dan musuh yang sama. Yang jadi persoalan adalah, kalau menurutmu Kui itu anak buah Yudi, maka Xin dan Mow juga anak buah Yudi. Dan kalau benar dugaanku yang membunuh Om Gian adalah Xin dan Mow, maka mereka pasti di suruh oleh Yudi. Pertanyaannya adalah ada urusan dan hubungan apa antara Om Gian dengan Yudi.”

“Itulah yang harus kita cari tahu, Vin. Kalau kita dapat menangkap Yudi, mungkin semuanya akan selesai. Tapi kemudian yang jadi persoalan, di mana adanya Yudi?”

“Apa kau punya foto Yudi? Mungkin aku pernah melihatnya atau mengenalnya!”

“Sayang sekali aku tidak membawanya, Vin. Nanti malam saat kembali dari kantor aku akan membawa berkas dan file tentang Yudi dan Andi.”

“Baiklah, kalau begitu kita putuskan nanti malam kita akan bahas masalah ini sampai selesai. Aku juga akan mengambil laptopku yang berisi informasi yang telah berhasil aku kumpulkan dari berbagai sumber. Oh ya, Lang. Kamu tidak keberatankan seandainya kita membahas masalah ini bersama-sama orang lain, siapa tahu mereka masih punya informasi atau petunjuk yang belum kita ketahui?”

“Itu terserah kepadamu, Vin. Tapi kalau memang informasi mereka berguna untuk tugas kita, kenapa tidak!”

“Terima kasih, Lang. Aku akan segera menghubungi mereka. Kapan kau akan berangkat?”

“Sebentar lagi, ada apa?”

“Tidak apa-apa, siapa tahu kita bisa berangkat bersama. Tapi kalau kau mau berangkat sekarang tidak apa-apa, aku nanti menunggu Mbak Tika dan Mbak Rani.”

Setelah pembicaraan selesai, Elang membersihkan diri, tidak lama kemudian diapun berangkat ke tempat tugasnya. Sementara sambil menunggu Mbak Tika dan Mbak Rani datang, aku mencatat apa yang baru saja selesai di ceritakan oleh Elang. Siapa tahu dalam ceritanya ada petunjuk yang bermanfaat.

@@@@@

Tidak lama kemudian Mbak Tika dan Mbak Rani datang, mereka datang dengan barang belanjaan cukup banyak. tampaknya mereka tahu bahwa akan di butuhkan banyak makanan untuk para tamu. Sementara mereka sibuk di dapur, aku pamit pada Mbak Tika dan Mbak Rani untuk keluar sebentar, karena ada yang perlu kulakukan. Mereka berpesan untuk hati-hati, karena aku baru saja sembuh. Senang sekali mengendarai mobil, setelah satu bulan lebih tidak melakukannya. Apa lagi ini juga untuk pertama kalinya mengendarai mobil milik Om Anwar, sebuah Super Cars, Porsche Carrera Gt.

Tanpa membuang waktu aku segera menuju apartemen milik Om Gian. Setelah mengambil semua yang kuperlukan aku segera meninggalkan tempat itu. Aku yang lama terkurung di Rumah Sakit, merasa ingin santai sejenak dengan jalan-jalan mengelilingi kota yang sudah lama tidak kunikmati. Saat berada di depan salah satu Resto dan Caffe, aku melihat Fariz masuk ke tempat itu. Yang membuatku terkejut dia masuk bersama seorang wanita, yang tidak sempat kulihat wajahnya. Selama ini dia selalu menyembunyikan pacarnya. Hal itulah yang membuatku penasaran ingin mengikuti dia.

Aku segera masuk ke dalam, yang aku ketahui Resto ini biasa di jadikan tempat kumpul kalangan jet set tanah air. Dan ternyata hal itu benar adanya, banyak orang terkemal yang jadi pengunjung di sore ini. Aku mencari tempat duduk sambil mataku mencoba melihat suasana sekitar, ternyata tidak ada bayangan Fariz di sekitar tempat itu. Mungkin dia berada di lantai atas Resto ini. Saat aku hendak melangkah ke atas, ada seseorang yang memanggil namaku. Aku menengok ke asal suara itu, seorang wanita di satu meja melambaikan tangannya, Mbak Venna. Kulihat di meja itu ada beberapa orang, yang ke semuanya adalah seleb wanita. Beberapa di antaranya sudah aku kenal, sebenarnya aku agak sungkan, tapi setelah kupikir apa salahnya sekedar say hello, aku dekati meja itu.

Selain Mbak Venna, ada Mbak Maudy, Mbak Sarah, Mbak Alya, Mbak Diah dan beberapa seleb wanita yang semuanya berusia di atas tiga puluh tahun. Setelah itu aku berkenalan dengan mereka semua, begitu juga sebaliknya. Mereka semua berkumpul karena sedang mengadakan arisan. Takut menggangu acara mereka, aku pun meninggalkan meja mereka walau mereka berkata tidak merasa terganggu dengan kehadiranku.

“Baiklah, nanti aku kembali ke meja ini kalau acara utama sudah selesai,” kataku sambil meninggalkan meja mereka.

Aku naik ke lantai dua, tapi tetap saja tidak kutemukan Fariz. Apa aku salah melihat, pikirku dalam hati. Tidak enak hanya mondar-mandir naik turun, aku lalu duduk di salah satu meja dan memesan makanan. Mau turun ke tempat Mbak Venna dan lainnya juga sungkan. Saat sedang menunggu makanan ada seseorang yang menepuk pundakku sambil berkata, “Hallo ganteng, sombong nih, pura-pura tidak kenal !” Aku segera menengok ke asal suara itu. Seorang wanita berusia empat puluh tahunan, cantik, berkulit putih, tinggi dan berat badan sekitar 170 cm/ 58 kg. Berpenampilan anggun, menarik dan tampak berkelas. Aku ingat dia adalah teman dari Mbak Lula yang pernah kutemui waktu seminar di sebuah hotel. Tante Mala, istri pejabat tinggi salah satu perusahaan Plat merah.

“Tante Mala, apa kabar?”

“Baik, kirain lupa sama tante. Tadi melihat tante diam saja.”

“Oh, maaf tante. Tadi saya tidak melihat tante.”

“Tidak apa-apa, kamu sendiri bagaimana kabarnya? Tante dengar dari Lula kamu kecelakaan Vin? Maaf, tante tidak sempat nengok. Waktu di kabari Lula, Tante sudah di Belanda. Baru kembali tiga hari yang lalu.”

“Tidak apa-apa, Tan. Ini juga sudah sehat. Tante sendirian atau bareng suami? Tidak enak kalau mengganggu acara keluarga.” sambil mencoba melihat sekeliling.

“Tidak, tante sendirian. Lagi nunggu teman, biasa acara kumpul. Boleh Tante duduk di sini, dari pada duduk sendirian,” kata Tante Mala.

“Dengan senang hati. Mana mungkin ada yang menolak di temanai bidadari,” ujarku.

Pipi Tante Mala nampak merona merah mendengar ucapanku. “Bisa saja kamu, Vin,” kata Tante Mala, sambil duduk. Setelah itu kami saling bercerita tentang masing-masing sambil makan. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba Tante Mala, mencondongkan tubuhnya ke arahku sambil berkata lirih, “Vin, kamu ada janji bertemu dengan seseorang?”

“Tidak, memangnya kenapa, Tan?”

“Dari tadi tante lihat orang-orang yang duduk di meja no.6 itu terus melihat ke arahmu.”

Mendengar hal itu, aku menjadi lebih waspada, setelah kejadian yang menimpaku. Di samping timbul rasa penasaran siapa orang yang di maksud Tante Mala. Tapi untuk menghindari kecurigaan mereka untuk sementara aku berpura-pura untuk tidak tahu. Dengan memanfaatkan ponsel, aku mencoba melihat siapa orang-orang yang di maksud Tante Mala. Akhirnya aku berhasil melihat siapa mereka. Lima orang, dua wanita dan tiga laki-laki. Aku berusaha mengingat siapa mereka, akhirnya aku dapat mengingatnya, baru satu orang yang pernah kutemui diantara mereka, yaitu wanita yang lebih tua dengan tampilan mewah. Dia tidak lain adalah wanita yang pernah kulihat di acara seminar waktu itu.

Kemudian dua orang lagi yang kukenali adalah dua orang yang lebih muda di antara mereka berlima. Dua orang itu memang belum pernah kutemui, tapi aku ingat, mereka adalah dua diantara lima orang yang pernah di tunjukan fotonya padaku oleh Om Dans, mereka anak buah Om Dans, yang di curigai terlibat dalam pembunuhan Om Gian dan Om Anwar. Mereka mempunyai Code Name ; Cobra dan Walet.
Sementara dua orang lagi, belum pernah kutemui maupun kulihat. Tapi di lihat dari wajahnya mereka tampaknya orang asing. Aku mencoba untuk bersikap normal seolah tidak tahu bahwa aku di perhatikan, “Tante mengenal wanita yang memakai baju biru itu?” tanyaku pada Tante Mala.

“Mengenal secara pribadi tidak, tapi Tante tahu dia salah satu istri pengusaha, yang punya pengaruh besar.”

“Hanya itu yang Tante ketahui tentangnya?” tanyaku menyelidik.

“Eh, kenapa kau bertanya seperti itu, Vin? Tampaknya kau juga dengar kabar selentingan tentang dirinya ya? Atau ini ada hubungannya dengan pembicaraan kita waktu itu?” Tanpa menunggu jawaban dariku, Tante Mala melanjutkan ucapannya. “Yang tante dengar dari orang dekatnya dia punya bisnis barter barang apapun.”

“Maksudnya barang apapun itu, apakah semua barang bisa ditukarkan kepadanya?”

“Ya, bukan hanya barang, jasa, bahkan nyawa juga bisa. Dia akan melakukan apapun asal harganya cocok.”

“Hebat juga dia!”

“Tidak juga, masih ada beberapa orang yang lebih hebat di belakangnya. Dia hanya di jadikan pengalih perhatian, agar pihak berwajib tidak mencurigainya.”

“Tante tahu, siapa yang berada di belakangnya?”

“Kau tahu atau pernah membaca sejarah jaman kekaisaran Tiongkok kuno? Dalam jaman itu Kaisar adalah orang paling berkuasa, kemudian ada Jenderal, Perdana Menteri, Panglima dan lain-lain. Nah, wanita itu kabarnya merupakan salah satu panglima dalam kelompok itu, dia biasa di panggil Xian di dalam kelompoknya. Sayangnya Tante hanya pernah mendengar nama-nama itu, tanpa tahu siapa orang-orang yang di maksud itu.”

“Tapi tante lebih hebat karena bisa tahu tentang semua ini,” ucapku.

“Inilah hasil rumpian dari ibu-ibu yang gak punya kerjaan,” ujarnya dengan tersenyum.

Kami kemudian diam kembali sambil menikmati hidangan di depan kami. Dalam hati aku berpikir, tampaknya mereka mempunyai hubungan dengan Xin, Mow, Kui. Bukankah nama-nama itu juga penyebutan dalam bahasa Madarin untuk, Malaikat, Iblis dan Setan. Terus ada hubungan apa Agen ISF dengan kelompok Kaisar itu? Tampaknya kecurigaan Om Dans beralasan. Setelah temannya datang, aku meninggalkan tempat itu. Tante Mala berusaha mencegahku, tapi aku beralasan masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan dan dia mengijinkan aku meninggalkan tempat itu setelah berjanji akan menghubunginya nanti. Aku sempat melirik mereka saat berjalan keluar. Aku melupakan tujuanku ke tempat itu untuk mencari Fariz. Tiba di lantai bawah, aku di panggil oleh Mbak Venna. Setelah beberapa lama, aku kemudian pamit dengan alasan ada pekerjaan. Tapi sebelum pergi, mereka kompak mengundangku untuk datang ke suatu acara yang akan di adakan yang waktu dan tampatnya belum di tentukan. Agar cepat lepas dari situasi ini, aku langsung menyetujui permintaan mereka.

@@@@@

Cukup lama aku menunggu di dalam mobil, hingga kulihat mereka berlima keluar. Mereka meninggalkan tempat itu dengan menggunakan tiga mobil yang berbeda. Aku mengikuti mereka dari jarak cukup jauh. Hingga saat di persimpangan mereka saling memisahkan diri. Si Putri dengan Toyota Alphard bersama sopir dan pengawalnya membelok ke Barat. Dua orang agen ISF dengan Grand Vitara lurus ke Utara, dan dua orang asing lainnya dengan Civic ke arah Timur. Tanpa berpikir lama aku memutuskan untuk mengejar dua agen ISF.

Karena jalanan mulai padat, mereka tidak bisa melaju dengan cepat. Hingga aku dapat membayangi mereka dari jarak yang aman. Tapi ketika memasuki jalan yang lenggang mereka melaju dengan cepat. Aku terus membayangi mereka, semakin lama mereka melaju semakin cepat. Entah mereka tahu sedang di ikuti atau memang prosedur dari seorang agen ISF, perjalanan mereka berputar-putar, ada dua, tiga tempat yang di lalui lebih dari satu kali. Hingga tiba di suatu jalan tidak kuduga, ternyata mobil Alphard Si Putri telah berada di depan mereka, begitu juga mobil dua orang asing itu. Tidak lama ketiga mobil itu berjalan beriringan, hingga sampai di suatu rumah mewah dua lantai berpagar tinggi mereka masuk. Aku mencoba memutari rumah itu, sambil melihat keadaan sekeliling rumah itu. Hanya satu tempat yang memungkinkan untuk memasuki rumah itu selain dari depan. Di sebelah kiri rumah ada sebuah pohon besar, yang salah satu dahannya ada yang sedikit menjulur keluar.

Aku keluar dari mobil, kudekati bagian dinding yang ada dahan menjulur itu. Jalanan mulai sepi karena menjelang senja, saat aku hendak melompat ke atas, aku mendengar suara ribut di bagian dalam dinding. Seperti suara orang berkelahi, lalu terdengar suara tembakan. Saat itu tiba-tiba ada orang yang jatuh dari atas. Lalu terdengar teriakan “Kejaaar… kejaaar…!!!” Aku mencoba menangkap orang yang jatuh dari dinding itu. Akibatnya kami jatuh berdua, saat kurasakan empuk dan kenyal di bagian dadaku, barulah aku sadari dia wanita.

“Lari! pergi dari sini!” ucapnya cepat.

Aku sadar apa yang akan terjadi kalau kami tetap berada di sini. Aku cepat memapahnya menuju mobil, sementara kulihat ada beberapa mobil yang menuju ke arah kami. Begitu di dalam aku langsung tancap gas meninggalkan tempat itu, di ikuti beberapa buah mobil yang mengejar kami. Ketika mulai menjauh dari kejaran mereka, barulah kau berani melirik siapa wanita di sampingku, “Kau… Sonia!” teriakku saat tahu siapa dia. “Kau tidak apa-apa?” tanyaku, saat melihat dia memegangi lengannya.

“Tidak apa-apa, hanya luka kecil,” jawabnya, dengan bahasa indonesia yang kaku.

“Kenapa kau bisa sampai berada di tempat itu?”

“Nanti saja ceritanya, lebih baik kau pikirkan orang-orang yang berada di belakang kita.”

Benar juga, tampaknya mereka belum menyerah untuk mengejar dan serius ingin menangkap kami. Mereka semakin dekat, hanya dua buah mobil yang masih bisa membuntuti kami, sebuah Mitsubishi Lacer Evo merah dan Nissan GTR hitam. “Ooo.. shit,” ucapku, sambil membanting kemudi ke arah kiri, saat menghindari mobil yang tiba-tiba muncul di depan. Kini aku harus menghindari mobil-mobil yang melaju baik yang searah maupun yang berlawanan. Lalu lintas Ibu Kota yang sedikit santai menjelang senja, tiba-tiba menjadi sedikit kacau dengan aksi kejar mengejar antara mobil kami. Salah seorang dari mereka mengeluarkan separuh badan dari mobilnya, tangannya menggengam Revolver. Dia mencoba membidik mobilku yang berwarna putih susu.

JDAR..JDER..JDAR..JDER..JDAR..JDER..!!!

Peluru meluncur keluar dari Hand Gun buatan Austria itu. Entah dari mana mendapatkannya, karena itu tidak di pakai di Indonesia. Aku yang tidak mau mobilku menjadi cacat, melakukan zig-zag untuk menghindari tembakan itu. “Sialan! Awas saja kalau sampai mereka merusak mobilku untuk kedua kalinya, aku akan meminta ganti berkali lipat.”

Tampaknya aku harus membalas perbuatan mereka. Kucari waktu yang tepat, dan saat itu tiba dengan cepat kutarik tuas handbrake kemudian kubanting kemudi ke sebelah kiri. Membuat mobil terbanting ke kiri, berbelok tajam sembilan puluh derajat. Ban mobil menggesek aspal, dan berdecit akibat gesekan itu. Mereka kaget karena sebuah truk melaju dari arah depan, mencoba membanting kemudi tapi terlambat, truk sudah menghantam bagian belakang mobil mereka.

“Nice drift,” kata wanita di sampingku.

“Keep calm, Senora,” kupasang wajah tenang dan keren, “and look at behind us!”

Mobil yang mengejar tinggal satu, mereka kembali berakselerasi mengejar kami. Mereka kembali berusaha menembak kami. Dengan cepat aku meliuk menghindar, mobil kembali melaju di jalan yang semakin temaram, diiringi suara klakson dan bunyi ban yang mendecit dipaksa bekerja berkelok-kelok di atas aspal jalanan Ibu kota.

“Kau punya senjata untuk membalas serangan mereka,” tanyaku.

“Tidak ada, senjataku tadi jatuh saat memanjat pohon,” jawabnya.

“Bagus sekali, seorang agen rahasia hanya membawa satu senjata,” ucapku.

“Sebetulnya ada satu lagi, tapi…”

“Tapi apa! Apa kau tidak bisa mengambilnya karena tanganmu luka, sini biar aku yang mengambilkan.”

“Iya sebentar, tapi jangan melihat ke arah sini dulu!”

“Ken…a..” Aku jadi melonggo dan hampir saja celaka andai dia tidak berteriak memperingatkan.

“Lihat depan, Tuan yang nakal!!!”

Dan aku harus kembali membanting kemudi, mobil kembali berkelok kilat ke kiri, tubuh sintalnya terhuyung menubruk tubuhku di kursi kemudi. Aku dorong kembali tubuhnya yang wangi dan mengganggu konsentrasiku.

“Kau tidak apa-apa?” tanyaku.

“Yeah, terima kasih,” ucapnya sambil membetulkan pakaiannya yang terbuka di bagian dada saat mengambil Derringers ( pistol kecil ) yang kini di genggamnya.

Dia melongokkan kepalanya, mencoba membidik mobil yang kini berjarak kira-kira tiga mobil di belakang kami. Mobil kami melaju ke kawasan perkantoran, lalu lintas kota semakin padat, karena aktifitas pulang kerja.

“Shit,” Umpatku saat melihat antrian mobil di depan kami. Kuputar kemudi ke kiri, menuju jalan yang lebih lega, dan jalanan itu ternyata jalan satu arah. Dengan arah yang berlawanan dengan laju Porsche Carrera.

Mobil buatan jerman ini berayun lincah melawan arus lalu lintas, sementara GTR masih mengikuti sama lincahnya dari belakang. Sonia mencoba membidik pengejar kami, namun luka di lengannya, mengurangi akurasi tembakan yang di lepaskannya. Lalu lintas semakin kacau, sebagian pengemudi mobil memilih menepi lebih dulu. Ada juga yang memilih berlari kalang kabut dan meninggalkan mobilnya begitu saja.

“Tembak bannya,” ucapku.

“Iya aku tahu, tapi sulit dalam jarak ini,” jawabnya.

“Polisi, kita dapat bantuan,” ucapku saat mendengar sirine polisi mendekat.

“Aku tidak mau berurusan dengan Polisi, hindari mereka.”

“Hentikan mobil kalian,” suara polisi menggunakan pengeras suara dari dalam mobil. Mendengar peringatannya di acuhkan, mobil polisi itu mengejar kami yang telah melanggar lalu lintas, juga telah membuat kekacauan dan membahayakan masyarakat.

“Tidak jauh lagi ada pertigaan, aku akan berhenti beberapa detik, kau harus memanfaatkan situasi itu.”

Laju mobil tiba di pertigaan tepat di depan sekolah Setia Budi. Kubanting kemudi dan menarik tuas rem, membuat mobilku berayun dan berhenti di tengah pertigaan. Sonia segera membidik ban mobil BMW pengejar. Mobil mereka pun berayun tak terkendali setelah bannya terkena tembakan Sonia.

Aku yang tidak mau mobil mereka yang hilang kendali itu menghantam mobil kesayangaku segera menginjak pedal gas dan melepas tuas rem. Mobil kami melaju mulus, sementara sedan yang mengejar kami terayun dan menghantam pagar sekolah. Salah seorang dari mereka terlontar keluar dari jendela mobil. Kulihat Polisi sudah tidak melakukan pengejaran terhadap kami lagi. Setelah yakin aman, aku membawa mobilku menuju Aparteman Om Anwar yang tidak jauh dari tempat itu.

@@@@@

“Kau mau membawaku kemana?” tanya Sonia saat aku menghentikan mobil di basement apartemen.

“Ke tempatku.”

“Kenapa membawaku ke tempat ini, apa yang akan kau perbuat?”

“Memangnya aku mau berbuat apa?”

“Awas kalau macam-macam!”

“Dasar wanita!”

“Apa kau bilang!”

“Tidak apa-apa. Aku hanya bermaksud menolongmu, tapi sikapmu kenapa seperti itu!”

“Aku ini wanita, jadi harus hati-hati kepada lelaki. Apa lagi lelaki semacammu!”

“Memangnya aku lelaki macam apa?” dan aku hanya terbengong, tidak mengerti.

To Be Conticroot…

Author: 

Related Posts

Comments are closed.