Cerita Panas The Blue Heaven – Part 31

Cerita Panas The Blue Heaven – Part 31by on.Cerita Panas The Blue Heaven – Part 31The Blue Heaven – Part 31 Mba Icha menempelkan telapak kakinya pada batang penisku yang masih mengkirut. Perlahan ia menggesek gesekan telapak kakinya hingga penisku mulai bereaksi. Aku sedikit kaget dengan situasi ini, aku sangat heran mengapa Mba Icha tiba tiba berubah menjadi lebih binal seperti ini? Tetapi bila dilihat dari Kamera yang sudah terpasang […]

multixnxx-Black hair, Asian, Stockings, Pornstar, Cl-5 multixnxx-Black hair, High heels, Thong, Shaved, Gan-4 multixnxx-Black hair, High heels, Thong, Shaved, Gan-9The Blue Heaven – Part 31

Mba Icha menempelkan telapak kakinya pada batang penisku yang masih mengkirut. Perlahan ia menggesek gesekan telapak kakinya hingga penisku mulai bereaksi. Aku sedikit kaget dengan situasi ini, aku sangat heran mengapa Mba Icha tiba tiba berubah menjadi lebih binal seperti ini?

Tetapi bila dilihat dari Kamera yang sudah terpasang pada Tripod, beragam mainan sex yang sudah diletakan rapi diatas meja dan Ekspresi wajah Tante yang begitu mencurigakan. Aku dapat menduga mereka berdua sudah merencanakan ini selama aku dikamar mandi Tadi.

Kutatap wajah tante Ocha, ia hanya tersenyum sambil menaikan satu alisnya. Kulirik wajah Mba Icha, ia juga menampakan reaksi serupa, bahkan ia menggigit bibirnya seolah berarti sebuah ajakan. Kini Telapak kakinya semakin nakal mempermainkan batang penisku yang sudah semakin tegang dan mengeras. Ia mencepitkan ujung penisku pada telunjuk dan jempol kakinya. Lalu kunaikan sedikit kaki kananku keatas sofa dan sedikit kuserongkan tubuhku menghadap Mba Icha.

Mba Icha melepas jepitan jari kakinya dan mulai mengelus penisku menggunakan telapak kakinya. Lalu kini ia menjulurkan kakinya dan ia letakan diatas Dadaku. Dengan jempol kakinya ia menekan dan menggelitik puting susuku. Sangat geli yang kurasakan. Ia terus memainkan putingku sampai ia menaruh ujung kakinya pada daguku. Lalu Mba Icha kembali bertanya sesuatu.

“Loo dari mana aja sih Bas, Tante ocha udah gak sabar tuh kepengen ngelihat kitaaa….”

Ia tidak melanjutkan kata kata terakhirnya. Tetapi dengan situasi seperti ini sudah dapat dipastikan ini merupakan sebuah ajakan. Kini ia menghadapkan kakinya didepan wajahku. kini aku dapat melihat dengan jelas jari jari Kaki Mba Icha yang sangat Indah, lentik panjang dan terlihat begitu sempurna. Benar benar tak ada cacat sedikitpun dari kaki dara bertinggi badan 173cm itu.

Kulirik wajah Mba Icha, ia kembali tersenyum lalu ia memjamkan matanya. Aku yakin itu merupakan sebuah Tanda. Lalu kuberanikan diri memegang kaki Mba Icha, kuarahkan keatas lebih mendekat kewajahku. Lalu perlahan mulai kuciumi telapak kaki Mba Icha dan kugesekan pada wajahku. Sungguh lembut sekali telapak kakinya hingga membuatku semakin tak sadar diri. Kini aku mulai menjilati kaki telapak kakunya, perlahan kukulum jari jari kaki Mba Icha dengan bentuk sempurna itu.

“SsssstTtttttt”

Mba Icha mengerang kegelian setaip kali lidahku menyapu telapak kakinya. Kini bibirku mulai bergerilya. Kutelusuri kaki panjang itu mata kakinya kini menjadi sasaran baruku. Kuangkat sedikit kaki mba Icha lalu kunaikan kedua semakin keatas hingga panggkal pahanya kini menjadi pemandangan indah bagi mataku. Kulahap lagi kaki mba Icha, kini lidahku telah sampai pada betisnya kujilat dan sesekali kugigit gigit dengan gigiku. Bibirku kembali bergerilya, aku harus menggeser tubuhku karena kaki Mba Icha yang cuku panjang.

Kini aku sudah sampai pada paha kirinya yang terdapat sebuah tato bertuliskan namanya sendiri dalam huruf arab. Begitu indah Tato itu menghias paha putih nan mulus yang hampir bersih dari bulu bulu. Mba Icha memang sangat rajin menghilangkan bulu bulu pada kaki kakinya. Aku menaikan kaki kiri Mba Icha dan kuletakan dileher sofa, lalu aku berpindah pada kaki kanan yang sedari tadi terus ia tempelkan pada penisku. Penisku sudah terasa sangat tegang dan menyesakan, ingin segera kumulai permainan ini tetapi aku ingin memberikan sebuah Plesure terlebih dahulu kepada Mba Icha.

Kuluruskan kaki kanan mba icha dan mulai mendekati tubuhnya. Kini aku menungging dihadapan selangkanganya yang memamparkan hawa panas yang berasal dari dalam gua kenikmatan yang sangat misterius itu. Gua yang terlindungi oleh rimbunya hutan hitam yang begitu Indah. Rapi dan begitu terawat bulu bulu milik mba icha ini. Kusentuh bulu bulu itu dengan tangan kiriku. Kubelai sangaat lembut, lalu perlahan kutekan pada bagian klitorisnya dan mba Icha menggelinjang.

“Mhhhhhfffttttttt”

Vaginanya mulai terasa lembab dan sangat hangat. Lalu kudekatkan wajahku didepan mulut Vagina Mba Icha yang berwarna merah muda dibagian dalamnya. Kuhirup aroma khas dari dalam liang kenikmatan ini. Lalu kusibakan seluruh wajahku pada semua permukaan selangkangan Mba Icha. Lidahku kembali kujulurkan, dan mulai kujilati kulit Mba Icha. Kumulai dari paha Kanan Mba Icha yang juga terhiasi oleh sebuah Tato yang cukup menyeramkan bagi seorang wanita. Kujilati tepat pada bagian tato itu lalu perlahan kugeser jilatanku pada panggkal paha, pada daerah yang tidak ditumbuhi oleh bulu bulu hitam. Kujilati terus hingga semuanya basah oleh air liurku.

Bibirku kini berpindah dan mulai memainkan bulu bulu hitam yang menjadi mahkota kewanitaan Mba Icha. Kumasukan bulu bulu itu kedalam mulutku dan mulai kuhisap. Kuhisap dan sesekali kutarik perlahan membuat Mba Icha sedikit merintih kesakitan. Tetapi suara Rintihan itu begitu terdengar indah disanubari hingga membuatku semakin berani untuk melakukan tindakan selanjutnya.

Kini bulu bulu hitam itu sudah semakin basah oleh air liurku. Kuhentikan sejenak permainan ku, lalu kubersihkan bulu bulu yang ikut termakan olehku, kubersihkan semua yang menempel pada bibirku. Kulirik mba Icha masih terus memejamkan kedua Matanya dan bibirnya sedikit terbuka dan terenggah. Kutempelkan lagi jariku, kubuka jalan masuk menuju gua kenikmatan itu. Kini aku dapat melihat bagian dalam yang berwarna merah muda itu. Bagi wanita seumuran Mba Icha dan bagi seorang Lesbian, Vagina Mba Icha memang tergolong sudah lebar. Ini dikarenakan kebiasaan menggunakan sextoys ketika ia bermastrubasi dan juga berhubungan sex dengan Tante Ocha. Tapi itu bukanlah masalah bagiku. Bagiku bukan seberapa lebar atau sempitnya sebuah Vagina, melainkan seberapa hebat vagina itu dalam memaksimalkan potensinya. Itu yang penting bagiku.

“Sluuurrrrpp”
“Sluuurrrrpppp”

Kini lidahku sudah mulai menari didalam bibir Vagina Mba Icha. Aku terus menusuk lidahku semakin dalam menuju dasar liang. Kuhisap juga bibir Labia yang menggelambir indah dikedua sisinya. Kuhisap dan kadang kutarik pelan dengan bibirku. Dengan bantuan kedua jariku, kutusuk bagian bawah Vagina Mba Icha, dengan sangat pelan dan berirama ku kocok Vaginanya yang sudah sangat basah oleh lendir pelumasnya. Sementara itu lidahku tetap menari nari dibagian atas bibir Vagina Mba Icha. Kumainkan lagi Klitoris Mba Icha dengan ujung lidahku bahkan sesekali kugesekan titik kenikmatan itu dengan gigiku hingga mendimbulkan suara desahan yang semakin kencang.

“Aaaaaaccchhhhhhhhhhh”
*cchhhhhhhh”
“Mfffffftttt”
“Ssstttttttt”
“Uuuuuhhhhh”

Pinggulnya terus bergoyang dan pahanya kini semakin menggapit kepalaku. Mba icha meremas rambutku dan menekan kepalaku agar semakin terbenam didalam Vaginanyaa.

“Ayooo Bassss, buat memek gue enak Basss”
“Aahhhh gue daah gak tahaaan bass”
“Ahhhhhhh”
“Teruuus Basss lebih dalaam laagii”
“Hhmmmmmmppp”

Mba Icha terus menekan nekan kepalaku dan semakin menggapit kepalaku dengan kedua pahanya. Hingga tak lama mba Icha mengalami Orgasme. Kurasakan dilidahku ada cairan panas yang menyembur dari dalam liang rahimnya. Hangat sekali kurasakan dan semakin nikmati rasa yang begitu khas dilidahku ini. Mba Icha mulai melepas remasanya pada rambutku dan melonggarkan gapitan pahanya. Kuarahkan wajahku keatas kulihat matanya sudah terbuka dan ia tersenyum padaku. Senyum yang sangat manis.

Benar benar sangat manis, Bagai senyuman seorang bidadari dari nirwana sana. Entah kenapa melihat senyum itu membuat hatiku semakin bergetar dan seolah berbisik agar memperlakukan mba Icha dengan sangat lembut. Chemestri yang kudapat ini seolah melunturkan kebiasaanku yang selalu memperlakukan Tante Ocha yang agak sedikit kasar. Entah kenapa didalam benak ini aku ingin memberikan kenikmatan yang lembut untuk Mba Icha.

“Mba Icha udah siap” tanyaku sedikit lirih.
“Udaah Bas, aku udah siap” jawab mba Icha lirih sambil menganggukan kepalanya.

Setelah mendapat jawaban kesiapan dari Mba Icha, kupegang lengan mba Icha dan kutarik lalu kududukan menyandar dibahu sofa. Kubelai lembut dahi hingga bagian belakang rambutnya. Warna rambutnya membuat ia terlihat seperti wanita wanita dieropa sana. Sungguh serasi dengan kecantikan alami yang dikaruniai oleh Tuhan kepadanya. kupegang kepalanya dengan tanganku dan kukecup Dahinya dengan begitu lembut namun cukup basah. Lalu kembali kubelai rambutnya dan tanganku berhenti pada bagian belakang lehernya.

Kini kudekatkan wajahku didepan dua buah Dadanya. Kuhirup hawa hangat yang keluar dari sana. Lalu perlahan kukeluarkan lidahku dan mulai kupilin puting mba Icha. Agak susah memang memainkan puting Mba Icha yang sangat imut, berbeda dengan puting Tante Ocha yang sangat besar dan begitu mencuat.
Kuhisap puting itu dan kumainkan dengan lidahku. Sesekali kutiup puting itu, Mba Icha mendesah kegeliaan.

“Aachhhhhh, Baaasss, jangan dibuat mainan aaaah” katanya sambil merangkul pundaku.

Akupun menatapnya dan tersenyum ketika mendengar perkataanya. Lalu mba icha menekan kepalaku agar kembali memainkan buah dadanya yang berukuran 34 itu. Tanganku yang lain juga ikut meremas payudara sebelah kanan. Kuremas dengan pelan dan lembut. Tanpa paksaan dan tanpa kekerasan. Kuberikan semua pleasure itu kepada Mba Icha. Sementara tangan kiriku terus meremas payudara Mba Icha, lidahku mulai berjalan menuju ketiak mba Icha yang sangat putih bersih tanpa sehelipun bulu yang ia biarkan tumbuh. Walau Mba Icha suka merawat bulu jembut sama seperti Tante Ocha tetapi ia tidak mengikuti jejak Tante yang suka merawat dan memanjangkan bulu ketiak. Karena bulu ketiak Mba Icha begitu mulus dan kuhirup cukup wangi tanpa bau bau tidak sedap.

Mba Icha merangkulku dan terus menatapku yang sangat manja menjilati kulit ketiaknya. Beberapa kali ia merasa geli diperlakukan seperti itu.

“Ahhhh baasss geliiiahhhhh”
“Akuu bukan Tante kali yang suka dijilatin keteknya”
“Uadaaah aahhhh geliii”

“Heeee” kuhanya menyengir ketika aku mengangkat wajahku dari ketiaknya.

Sejenak kami hanya saling menatap dan saling tersenyum satu sama lain. Kami terjebak dalam sebuah magnet yang membuah kami melupakan kehadiran Tante Ocha. Rupanya selagi aku dan Mba Icha melakukan Foreplay Tante juga memberikan sebuah pleasur untuk dirinya sendiri. Ia memainkan Vaginanya dengan tanganya sendiri, ia kocok kocok sembari terus melihatku menjilati tubuh mba Icha. Bahkan ia juga bermain menggunakan “Boni”

Tante memasukan sendiri “Boni” yang berujung kecil kedalam pantatnya. Lalu ujung yang lainya ia pasangkan sebuah Kondom bergerigi dan ia masukan pada Vaginanya. Ia mengocok sendiri Boni dengan tanganya. Ia terus mengocoknya bahkan sampai Tante memperoleh Orgasmenya sendiri.

“Yah ampuunn Tanteeee, itu si “Boni” sampe dimasukin semuanya”
“Habis ngelihat kalian berdua tadi Tante juga ikut panas”
“Yah ampun Tante, Tian sama Mba Icha yang mau ml kok tante yang nafsu siih” Tanyaku.

“Habis kamu lama sih Tiaaan, tinggal langsung sodok aja pake dilama lamain, yah udah tante juga gak tahan.”
“Makanya cepet dong, tante wes pengen lihat kalian Kentu…” Sambung Tante yang semakin bergairah

“Ihh dasar Tanteku memang genit dehh, iya iya ini juga mau kook” Jawab Mba Icha.

“Ni enaknya gimana dulu Bas?” Tanya Mba icha.

“Hmm duduk aja dulu yah Mba, aku yang dibawah.”

“Okeee dehhh.” Jawab Mba Icha sambil mulai beranjak dan berdiri dihadapanku.

Mba icha menaruh kakinya disamping kakiku. Lalu perlahan ia mulai mendudukiku. Kupegang pinggul Mba Icha dan mengarahkan penisku menuju lubang Vagina Mba Icha yang sudah mulai merekah. Mba Icha membantu dengan melebarkan bibir Vaginanya dengan satu tangannya sementara tangan lainya memegang kepala penisku agar tepat menuju lubang kenikmatanya. Dan akhirnya

BLEESS

Penisku yang sedari tadi sudah sangat tegang dan menyesakan akhirnya masuk kedalam lubang Vagina mba Icha. Aku merasa sangat bahagia, akhirnya aku bisa merasakan Vagina dari wanita lesbian ini lagi. Kali ini merupakan kali kedua aku dapat merasakan dinding Vaginanya setelah sekian lama ia tutup rapat untuk seorang laki laki. Mba Icha mulai mengatur posisi yang nyaman dan mulai menyenderkan punggunya pada dadaku. Ketika aku hendak menghujamkan penisku keatas Tante Ocha berdiri lalu menghampiri kami.

“Sebentar dulu sayaaang”
“Basstiaaaan, kok kamu lupa sih kata kata tante. Copot dulu kontol kamu sayang” Hardik tante membuatku menghentikan niatanku.

“Tante ini gimana sih, tadi katanya pengen buru buru lihat Icha sama Bastian Ml, sekarang malah suruh berhenti, gimana sih Tan” Sahut Mba Icha agak sedikit kesal.

“Iya nih Tante, padahal Tian kan sudah mau mulai, malah suruh berhenti.” Sambungku.

“Kamu ini lupayah omongan Tante, Tuh lihat kamu kan belum pake kondom, nanti kalau ada apa apa kan bahaya. Udah cepat copot Kontol kamu” pinta Tante

Aku dan Mba Icha saling menatap dan mulai tertawaaa.

Hehehehehehe

“Oh iya Tiaaan Lupaaa Tanteee untung Tante ingetin. Hehehehe” Jawabku sementara Mba Icha hanya tersenyum saja.

“Udah biar Tante yang pasangin aja yaah” Kata Tante sambil pindah kehadapanku. Ia membuka sebuah Kondom lalu ia letakan ujung kondom pada bibirnya. Lalu ia berjongkok dihadapan kami. Tante melepas penisku dari dalam Vagina Mba Icha.

“Aghhhhhhhh”

Mba icha sedikit mengerang ketika Tante mencabut paksa penisku dari dalam Vaginanya. Kemudian Tante mengarahkan mulutnya didepan penisku, lalu ia mengarahkan lubang Kondom pada kepala penisku. Kepalanya bergerak turun untuk memasukan Kondom pada penisku. Setelah kondom benar benar terpasang Tante mengulum penisku sebentar lalu ia memasangkan sebuah karet pada pangkal penisku bertujuan agar aku dapat bertahan lebih lama.

“Naahh kalau kaya gini kan amaaan.”

“Ahhh dasar Tante baweeel nihhh, ribeet” Sahut Mba Icha.

Tante tidak menjawab kata kata mba icha karena ia sibuk memegang penisku dan mengarahkan agar masuk kedalam lubang Vagina Mba Icha.

Kini penisku yang sudah terpasang kondom kembali berada didalam vagina mba icha. Kurasakan Vagina Mba Icha semakin terasa denyutanya, seolah dindingnya mengurut batang penisku. Walau Bibir vagina mba Icha sudah agak meleber tetapi begitu penis ini masuk kedalamnya masih terasa cukup sempit. Yah kalau dibandingkan vagina Tante Ocha sih memang lebih sempit punya Mba Icha.

___________
Setelah memasukan penisku kedalam Vagina Mba Icha, tante duduk disampingku. Ia melepas Boni yang menempel di anusnya lalu mulai mengocok vaginanya sendiri dengan mainan kesayangan ia dan Mba Icha.

Aku mulai memegang pinggul mba icha dan kucoba mendorong pinggulku keatas. Kudorong semakin bertenaga hingga tubuh mba Icha sedikit tersentak sentak. Kini mba Icha mulai mendesah menerima sosokanku dari bawah. Ia semakin menggeliat didadaku. Kuremas Payudaranya dengan lembut sementara tanganku yang satunya juga bermain dengan klitorisnya. Ku Unyek unyekan sambil terus pinggulku menyentak.

“Aahhhhhh,
“Hmmmmmffffff”
“Ennnaaakkkk Baaaass”
“Terusss bas lebih kenceng Bas”
Desah Mba Icha sambil tanganya memegangi tanganku.

“Ouuuhhhh”
“Mbaaaaa, memek kamu enaaaak Mbaaaa”
“Kontol aku kayaa dimakaaan”
“Achhhhhhhh”
“Enaaaaaak Mbaaaa”
“Ohhhh betul mbaaaa kayaa gitu Mba”
“Jepit terus Mbaaa” desahku.

Desahan kami saling beradu. Satu sama lain seolah berlomba mengeluarkan desahan yang paling sensual. Tante ocha juga ikut mendesah. Tangannya yang terus mengocok boni pada Vaginanya tak henti hentinya mengerang dan berteriak. Justru Tante ochalah yang lebih keras berdesah ketimbang aku dan Mba Icha. Kini Tante ikut meremas payudara Mba Icha, ia meremasnya sembari berciuman dengan kami secara bergantian.

Kami saling memberikan cumbuan dengan adil. Sesekali penisku terlepas yang kemudian langsung disambar olaku segera menjambak rambut merahnya agar berhenti mengulum penisku. Ia sadar apa yang ia lakukan lalu kembali. Ia meremas payudara mba Icha dan mulai mengulum pentilnya juga.

Kumasukan lagi penisku yang tercabut itu, lalu kembali ku kocok vagina Mba Icha. Lima menit kami melakukan ini semua hingga akhirnya Mba Icha kembali mendapatkan Orgasme.

“AAAAACHHHH”
“Kontoool kamu emaaang enaaaak basssss”
“Gueee maaau lagiii”
“Ahhhhhhh”

Mba Icha mendiamkan tubuhnya sejenak. Hingga kemudian ia berdiri dan menghadapku. Ia ingin berganti posisi. Mba icha naik keatas sofa, ia berdiri diatasku. Namun kulihat mba Icha seperti menahan sesuatu. Pinggulnya terlihat sedikit bergoyang.

“Aduuhhh Gueee kebeeeeleeeettt…..”

PStttttt……

Belum selesai ia berbicara, air berwana kekuningan sudah menyembur dari dalam Vaginanya. Ruapanya tadi Mba Icha menahan ingin kencing. Air kencingnya menyembur mengenai sofa dan kakiku. Namun melihat hal itu Tante Ocha langsung bertindak sigap. Ia langsung mendekatkan wajahnya dibawah Vagina Mba icha lalu membuka mulutnya hingga air seni mba Icha masuk kedalam mulut Tante. Tate langsung menelan air seni Mba Icha dan segera menjilati Vagina Mba Icha yang masih terdapat sisa sisa air kencing.

“Slrrrrppppp”
“Sluuurrrrrrppp”
“Aaahhhhh”

“Kamu iki pipis ko yo sembarangan Cha Cha.” Sahut Tante

“Abus tadi udah gak tahaan banget, udah dipucuk soalnya, heheheh” jawab Mba icha sedikit tertawa.

“Untung tadi Tante sempet, kalau enggak kan Sofa tante bau pesing kena pipis kamu” jawab Tante.

“Hehehe Soriiii” kata Mba icha sambil membelai rambut Tante.

“Udaah dong Tante sayaang, kan mba Icha pipisnya udah selesai.”

“Huuuh kamu ini, sekalinya ngerasain Tempik yang lebih enaak langsung ketagihaan. Nakaaal yaaah”

“Yee kan Tante yang pengen ngelihat sendiri”

“Iya iya Tante kasih kalian kesempatan dehh.” Jawab tante sambil beranjak dari atas pahaku.

“Nah Bas sekarang biar gue yang goyang yaaaah, lo nikmatin aja pokoknya” kata Mba Icha.

“Hmmmmm” jawabku singkat sambil mengangguk.

Mba Icha mulai berjongkok dan mendudukiku, ia mengarahkan penisku ke lubangnya. Lalu setelah penisku kembali masuk ia segera menggoyangkan tubuhnya naik turun. Ia terus bergoyang dengan sangat liarnya. Ia meraih tanganku agar meremas payudaranyaa.

“Aahhhh”
“Gimanaa Baaas, memek gue bisa njepit juga kaaan”
“Ahhhhhhhh”
“Ooohhh”

“Iyaaaah mbaaaa, enaak banget mbaa”
“Terussss mbaaa aaouuuhhhhhh”
Sahutku sambil terus meremas susunya yang yerus bergoyang mengikuti gerakan tubuhnya.

Lalu ditengah tengah Mba Icha yang terus menggoyang dan menjepit penisku, tante Ocha berdiri, ia naik dan membelakangi tubuhku. Pantat sintalnya tepat berada diwajahku. Kulihat ternyata Tante menyodorkan “Boni” yang masih menempel di Vaginanya ke mulut Mba Icha. Lalu tanpa diminta Mba Icha mengulum penis karet itu dengan liarnya. Aku membiarkan saja apa yang dilakukan oleh tante Ocha, karena yang ia lakukan justru menambah sensasi dan kenikmatan permainan kami malam ini.

Dengan binalnya mba Icha menghisap penis karet dengan mulutnya. Tanganya kini meremas pantat tante dan sedikit melebarkannya kesamping. Mba Icha juga terkadang menggigit “Boni” dan menggerakan kepalanya agar “Boni” juga mengocok vagina Tante. Ia terus melakukan itu sambil menekan pinggulnya kebawah dan ia goyangkan pantanya dengan gerakan memutar. Poenisku seperti terjebak didalam pusaran ketika Mba Icha melakukan hal itu.

Melihat pantat Tante yang juga bergoyang goyang dihadapanku, dan mba Icha juga meremas pantanya hingga lubang anusnya ikut merekah. Aku mulai terpancing untuk memainkan lubang anus tante lagi. Lalu kudekatkan lidahku dan kutusuk anus tante. Anus tante yang masih terbuka dan merekah membuat lidahku dapat leluasa bermain didalam sana.

Mba icha sudah tidak mengulum “Boni” kini ia memegang “Boni” dan mengocoknya pada Vagina Tante. Mba Icha mengocoknya dengan sangat kencang hingga membuat badan tante bergetar seluruhnya. Lalu tak lama pinggul Tante bergetar dan ia menyemburkan cairan orgasmenya yang kesekian kalinya.

“Aahhhh, sayaaaaang”
“Tanteeeee keluaar lagi sayaaaang”
“Aahhhhhhhhhh”

Desah panjang tante disusul dengan goyangan pinggulnya yang semakin liar. Aku melepas jilatanku dari Anusnya. tubuh Tante menjadi lemas dan ia terpuyuh kebawah. Kupapah tubuhnya dan kutidurkan diatas Sofa. Lalu aku meminta Mba Icha berhenti sejenak, ia naik dari atas pahaku hingga penisku tercabut. Aku memintanya untuk beristirahat sejenak.

“Mbaa istirahat bentar yaah, aku pegel banget nihh” pintaku.

“Iya gak apa apa gue juga auss niih” jawabnya.

“Aduuhh winenya abis lagi, Bas ambilin minum sih dikulkas, gue aus banget nihh”

“Mba mau minum apaan?”

“Bir aja deh, tolong yah Bas”

“Iya mba bentar yah aku ambilin dulu.” Jawabku.

Akupun segera berjalan menuju dapur untuk mengambil beberapa botol Bir, aku juga masih sedikit haus sih, dan dalam kondisi seperti ini memang Bir minuman yang paling cocok.

Marissa POV

Sementara si Bastian ngambil Bir,Gue ambil Kamrea yang tadi sudah kusetel pada mode perekam Video. Kulihat rekaman sudah sudah berhenti dari tadi. Karena kamera sudah cukup panas dan Memorinya sudah tidak cukup lagi untuk merekam Video. Kukeluarkan setingan dari mode Video rekorder

Kududuk disamping tubuh Tante yang terlihat masih terbujur lemas. Kubelai tubuhnya dan kuluruskan kakinya.

“Tantee udah puas beluum” tanya gue padanya.

“Udah sih Cha, tapi kalau kalian belum puas Tante masih sanggup kok nemenin kalian berdua.”

“Habis tante nakal sih, Jadi sekarang udah lemes duluuan.” Jawab gue.

“Ahh sudah lah, Tante bangga sama kamu” kata tante.

“Bangga kenapa sihh Tan?” Tanyaku

“Yah Bangga, kamu udah mau Ngentot sama laki laki lagi”

“Ahh udah ah, gak usah dibahas Tan, yang jelas Icha sekarang udah bisa nikmatin kok ML sama Bastian barusan” jawabku sambil tersenyum

“Hmmmm Ichaaku sayaaang” kata tante sambil membelai rambutku.

“Eh Tan Icha boleh minta satu Foto lagi mumpung Batereinya belum abis nihh”

“Foto apalagi toh ndooo?” Jawab Tante.

Lalu kuambil botol Wine dan kutenggak sisa wine yang masih ada. Lalu kukulum ujung botol itu.

“Fotoo inii Tan, Icha dari dulu kepengen punya soalnya.”

“Maksud kamu kamu mau taruh tu botol dimemek Tante”

“He eeh,” Angguku

“Hmmm, yau udah yooo. Eh bastian mana?”

“Lagi ambil Bir di kulkas” jawabku.

Akupun cepat berfikir untuk memotret tante dimana. Akhirnya aku memutuskan untuk memotret Tante diatas Sofa Single. Aku meminta Tante duduk diatasnya dan mengangkangkan Pahanya. Setelah pahanya cukup lebar kuambil botol Wine diatas Meja dan segera kutempelkan bibir botol pada bibir memek Tante. Tante sedikit merintih ketika benda keras itu menyentuh bibir memeknya.

Lalu mulai kubidik memek tante dan ku tekan tombol Sutter pada kameraku. Lalu perlahan kutekan botol ini hingga hampir setengahnya masuk kedalam memek Tante. Tante terus mengerang setap tanganku menekan botol didalam memeknya. Tapi aku tak berhenti menekanya. Kubiarkan saja botol itu tertancap pada memeknya lalu kembali kuabadikan tubuh tante.

Setiap detail dari memek tante kuabadikan. Aku juga mengarahkan kemeraku untuk mengambil foto dari berbagai angle. Tante memegang sendiri Botol itu dan menekanya lagi lebih dalam masuk kedalam lubang memek tante.

Aku sedikit mundur menjauhi tante untuk mengabadikan semua tubuh tante yang tengah menehan rintihan.

“Widiih mbaaa, Tantee lagi diapaaain.”

“Heei bass sini sini potoin gue juga”

Aku memberikan kamera kepada bastian dan memintanya untuk mengambil fotoku sedang menjilati memek Tante yang ditancapi Botol yang berukuran cukup besar itu. Lalu kudekati lidahku dan mulai menjilati pinggiran memek Tante. Bastian mengabadikan semua momen ini. Akhirnya aku punya foto ini juga. Karena diantara kenalan modelku tidak ada satupun yang mau bersedia difoto seperti ini.

_____________________

Bastian POV

“Mba mba, kamu ini loh ada ada aja pake moto memek tante di pakein botol kaya gitu.”

“Hehe, kapan lagi coba, mumpung pas nih momenntanya soalnya dah lama gue pengen moto kaya gitu” jawab mba Icha.

“Tante masih baik baik saja kan” Kataku sambil mencabut botol dari dalam Vaginanya.

“Gak apa apa kok sayaang. Tante juga seneng kok”
“Mana Birnya tante mau dong haus nih” pinta Tante.

“Nihhh, Tante capeee yaah?” Kataku sambil duduk disamping pahanya.

“Heeeh” jawabnya singkat sambil menenggak Bir langsung dari botolnya.

“Haaaaaaah, legaa. Iya Ki, tante udah puas banget malam ini, makasih yah buat kalian berdua malam ini sudah memberikan sesuatu yang berharga buat Tante”
“Tante juga seneng sekarang kita bertiga sudah tidak punya batasan lagi kayak dulu”

“Iyaa Tante, apapun yang Tante mau pasti Tian beri kok, yah enggak Mba”

“Iya Tante sayaang, Kami kita berdua sayaang sama tante” kata Mba icha yang duduk di punggung sofa sambil mencium kening Tante.

“Mba Icha Mau minum Bir gak?” Tanyaku.

“Yah mau lah tadi kan gue yang minta lo ngambil gimana sih, mana sinih Birnya gue Bagi” pintanya.

“Bentar aku dulu yah yang minum”

“Maksud Lo apaan?” Tanya Mba Icha lagi.

“Lihaat nihh” Kataku.

Aku buka kembali kaki Tante dan kukangkangkan keatas. Vaginanya masih terlihat membesar pasca dimasukan botol oleh Mba Icha tadi. Sungguh Pas sekali dalam hatiku. Lalu kuambil botol Bir dan segera kutuangkan kedalam Vagina Tante Ocha hingga penuh. Kini vagina Tante sudah penuh terisi Bir. Lalu kedekatkan mulutku dan menyruput bir itu sampai habis.

“Sruuuuuuullllllp”
“Ahhhhhh”

“Gittuu mbaaa Cara minumnya”

“Heeeh Bastiaaaan, memek Tantee dingin banget Kiiih, kamu nakaaal yaah sayaaaang” kata Tante sambil menjewer telingaku. Aku hanya cengar cengis saja tanpa dosa.

“Ehhh gue nyobain juga dong Basss” pinta Mba Icha.

“Ahh kamu pake ikut ikutan segala sih Chaa, dingin tahu nih memek Tante.” Protes Tante.

“Hehe, tahan bentar yah Tante Ku sayang”

Lalu Mba Icha mulai duduk sedikit menungging dihadapan selangkangan Tante yang dikangkangkan keatas. Lalu ia melakukan hal serupa yang aku lakukan barusan. Ia minum Bir langsung dari dalam Vagina Tante. Bahkan Mba Icha melakukanya sampai 3 Kali. Tante terlihat hanya pasrah saja. Ia senang senang saja Vaginanya menjadi mainan kedua anak kesayanganya ini.

Lalu ketika mba Icha menungging dan mengisap Bir dari Vagina Tante, nafsuku yang sempat tertunda mulai bangkit lagi. Kudekatkan tubuhku kebelakang pantat Mba Icha yang menungging. Kutempelkan penisku lagi pada bibir Vaginanya. Walau penisku sudah mulai mengendur tapi tetap kumasukan saja kedalam Vagina Mba Icha. Tak butuh waktu lama penisku kembali mengeras sempurna. Lalu kembali kusodok Vagina Mba Icha.

“Achhhhhhh”
“Eloooo baaaas, gue masih asihhh minumm niihh aahhhh”

Mba icha berhenti minum bir melalui Vagina Tante. Dan Tante sedikit tertawa ringan melihatku langsung menyodok Mba Icha yang tengah asuik bermain dengan Vaginanya. Kini tante meremas rambut Mba Icha agar wajahnya tetap di Vagina Tante.

Kini aku berdiri, kutarik pinggul mba icha keatas hingga tubuhnya semakin menungging. Mba Icha inisiatif melebarkan posisi kakinya agar bokongnya sesuai dengan tinggi badanku. Lalu kupegang lagi pinggul Mba Icha sedikit kuremas bokongnya dan terus kusodok Vaginanya dengan kecepatan sedang dan lembut namun sangat menghentak.

“Achhhhhh”
“Aaahhhhh”
“Aayoooooo bas Tuntasssin basss”
“Achhhhhhh”

“Iyaaaa mbaaaa, ini aku juga udah maau keluaaar”
“Achhhhhhh”
“Achhhhhhhhh”
“Ooooooohhhhhhhhh””

CROOOORRTTT

CROOORRRTT

“Ahhhhhhh….”
“Mekiii gueee jadi angeeet baass”
“Achhhhhh”

Akhirnya aku mendapatkan Orgasme lagi. Kutekan pinggulku agar penisku menghujam rahim Mba Icha. Achhh sungguh nikmat yang kurasa. Kubiarkan Penisku pada lubang kenikmatan Mba Icha, kunikmati setiap Sperma yang semuanya kutumpahkan didalam. Aku tidak khawatir karena aku menggunakan kondom. Ketika aku hendak mencabut penisku, Mba Icha melarangnya

“Baasss jangaan dicabuut duluuu ddonkkk”
“Luu massih kuaaat kaaan, sodok lagi memek gue basss, bentar lagi guee dapett basss ”

“Achhhhhh”
“Achhhhhhhh”

Dengan sedikit tenaga yang kumiliki dan panisku juga yang belum sepenuhnya melemas, kusodok lagi Vagina Mba Icha dengan kecepatan yang sangat kencang hingga menimbulkan bunyi yang sangat kencang.

Plookkk
Plooook
Plooooookk
Ploooookkkk

“Achhhhh”

Tante Ocha menurunkan kakinya kelantai lalu ia menarik tubuh Mba icha hingga Mba Icha kini berada diatas tubuhnya. Tante dengan liarnya langsung menyambar bibir Mba Icha. Dengan segenap tenaga yang masih Tante miliki ia mengulum bibir dan lidah Mba Icha dalam dalam. Mereka juga saling meremas payudara satu sama lain.

Ketika tante menarik tubuh Mba Icha, penisku hampir saja terlepas namun segera kuikuti tubuh Mba icha dan kembali kusodok Vaginanya. Kini aku semakin kencang menekan pinggulku. Rupanya penisku kembali tegang walau bukan kondisi prima. Namun setidaknya aku bisa menahan sampai Mba Icha mendapatkan kenikmatan Orgasmenya.

Lalu.

Aaaaaaaaccccccccchhhhhhhhhhhhh”

Desahan panjang dari mulut mba Icha menandakan ia telah mendapatkan Orgasme. Tubuhnya semakin menekan kebawah hingga menggesek klitoris Tante Ocha. Tubuh mba Icha semakin kencang menggelinjang ia memeluk erat tante Ocha begitupula sebaliknya.

Penisku tiba tiba saja menjadi terasa hangat oleh cairan kewanitaaan milik Mba Icha. Sungguh nikmat sekali ketika penisku seperti dipijat oleh dinding Vagina mba Icha yang terus memilin dan menghisap kedalam.

Ohhh nikmatnya.

Namun….

Bukanya aku mengehentikan goyangan pinggulku, aku malah tetap menyentakan bokongku. Aku rasa aku masih sanggup untuk menggoyang “Memek” ini beberapa saat lagi. Mungkin karena aku menggunakan karet gelang di pangkal penisku hingga aku memperoleh double orgasme. Haaah, teori dari mana itu.

Lalu kuputusku untuk terus menggoyang Vagina Mba Icha walau ia sudah terkapar lemas diatas tubuh Tante Ocha. Sembari memeluk dan membelai tubuh Mba Icha, tante menatapku dengan senyum keheranan! Ia mungkin heran melihatku yang sudah menyemprotkan Sperma tapi masih mampu untuk memompa Vagina Mba Icha. Ia tersenyum terus kepadaku.

Kubalas tatapannya dan kuberikanjuga senyuman kepada Tante Ocha sambil pinggulku tetap menekan Vagina Mba Icha. Namun akhirnya aku merasakan aku akan memuntahkan lahar lagi, lalu dengan sigap aku mencabut penisku lalu segera kulepas dan kulempar kondom yang kupakai.

Kumasukan lagi penisku namun pada Vagina Tante Ocha, Ia terlihat sedikit terkejut karena Aku langsung begitu saja menyentakan pinggulku hingga penisku masuk kedalam Vaginanya. Namun hanya 3 kali aku menyentak didalam Vagina tante yang merekah. Akhirnya kusemburkan sisa sisa Spermaku didalam liang Rahim tante Ocha.

“Aaaaauuuccccchhhh nikmat sekaliiii”
“Aachhhhhhhh”

Kuremas dengan lembut pantat mba Icha untuk mengekspresikan kenikmatan yang tengah kurasakan. Kulihat Tante juga begitu menikmati ketika air maniku tumpah didalam Vaginanya. Tubuhku kini benar benar lemas, aku ambruk diatas punggung Mba Icha dan kubiarkan penisku masih didalam Vagina Tante. Kubiarkan saya sampai melemas dengan sendirinya.

Akhirnya tuntas juga permainan kami malam ini. Dengan penuh peluh kami bertiga menikmati sisa sisa kenikmatan yang masih sedikit kami rasakan.Kulihat kearah Jam dinding yang menunjukan pukul satu kurang. Memang cukup lama permainan kami. Tapi selama itu kami benar benar tidak mengingat waktu. Yang hanya kami ingat adalah memberikan kenikmatan kepada tubuh satu sama lain.

Setelah sanggup mengatur nafas, kami kembali masuk kedalam Kamar. Kami membersihkan sejenak tubuh kami dari peluh dan lendir lendir yang telah kami hasilkan. Setelah bersih kami naik keatas tempat tidur dan kami baringkan tubuh kami dengan posisi seperti biasanya.

Aku dan Mba Icha sama sama memeluk tubuh Tante. Dan sesekali memelintir puting tante dengan manjanya. Aku menaruh wajahku dihadapan ketiak tante yang berbulu lebat. Kuhirup aromanya yang membuatku menjadi sedikit tenang.

“Terima kasih yah, malam ini kalian berdua telah memberikan yang terbaik. Bagi tante malam ini adalam Malam terbaik dibanding malam malam kita yang sudah Sudah.” Kata tante sambil membelai rambut kami berdua.

“Iya Tante untuk kepuasan Tante Tian akan bersedia kapanpun dan dimanapun.”

Mba icha hanya tersenyum saja. Ia terlihat sudah tak berdaya lagi untuk sekedar berbicara.

Badan sudah sangat lemas, mata sudah tidak bisa diajak kompromi . Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat. Perlahan lahan kami memejamkan Mata dan perlahan mulai terlelap, bersiap melanjutkan pertualangan menuju alam mimpi.

Selamat Malam

Author: 

Related Posts

Comments are closed.