Cerita Sex R . O . Y . A . L . S . ( Someone In Love ) – Part 2

Cerita Sex R . O . Y . A . L . S . ( Someone In Love ) – Part 2by on.Cerita Sex R . O . Y . A . L . S . ( Someone In Love ) – Part 2R . O . Y . A . L . S . ( Someone In Love ) – Part 2 ether Presente from the story ever told R . O . Y . A . L . S ( Someone in Love ) Gadis itu kembali dengan langkah cepatnya, berjalan cepat menekan tombol lift yang […]

tumblr_nxjzfvZt6U1u2h7lbo5_1280 tumblr_nxjzfvZt6U1u2h7lbo7_1280 tumblr_nxk6ic8IpV1tcig8yo2_400R . O . Y . A . L . S . ( Someone In Love ) – Part 2

ether
Presente
from the story ever told
R . O . Y . A . L . S
( Someone in Love )
Gadis itu kembali dengan langkah cepatnya, berjalan cepat menekan tombol lift yang akan membawanya naik ke lantai 6, dia terus melirik kea rah jam tangannya, tinggal 3 menit lagi seblum pukul 8 pagi, dan bila lewat dari itu berarti akan ada potongan keterlambatan untuknya di akhir bulan nanti. Dan dia tak mau itu, tak ada yang bisa disalahkan bila kereta yang ditumpanginya tadi terlambat bahkan sempat mogok dan mengeluarkan asap dari satu sudut mesinnya.

Dia tahu, akan banyak yang harus dia kerjakan untuk hari ini, termasuk menyiapkan slide presentasi dari atasannya untuk rapat penting sore nanti. Awal tahun yang buruk untuknya, hujan yang datang terus menerus membuat pekerjaanya terus tertunda tanpa pernah selesai. Banjir yang melanda beberapa titik di Jakarta membuat meeting bulanan itu terus tertunda dan tiap harinya dia harus mengerjakan hal yang sama dengan merubah pendapatan harian yang terus berubah tiap harinya, termasuk biaya dan kerugian karena keterlambatan pengiriman.

Namun tidak hari ini, khusus hari ini dia berharap agar hujan kembali menggelapkan Jakarta hari ini. Dia berharap agar rapat ini kembali tertunda. Ya, asal jangan hari ini. ada banyak yang harus dikerjakan hari ini, termasuk menyelesaikan tugas paper yang ada di bagian lain map yang dibawanya dan mengumpukannya ke kampus sore nanti.

Wajahnya terlihat tegang, dia tak boleh lagi terlambat menyelesaikan tugas ini, dan juga tak boleh terlambat untuk masuk ke kantor pagi ini. beruntung pintu lift itu terbuka dan masih sempat untuknya menyelipkan tubuh mungilnya diantara tumpukan orang yang berdiri panik di dalam lift itu untuk menghindari keterlambatan mereka. Lift itu melaju naik dengan cepat, sempat berhenti di lantai 3 dan menurunkan beberapa pekerja di lantai itu, sebelum berhenti di lantai 6 yang membuat Shellina menghambur cepat keluar dengan langkah terpogohnya menempelkan jari telunjuknya di mesin absent yang tepat menunjukkan pukul 08.00.

Ampir telat lu ucap Rita, Receptionis kantor itu yang duduk tepat di sisi mesin absen masih sibuk merias wajahnya.

Iya, biasa nih kereta telat balas Shellina, sambil menaruh mapnya ke atas meja resepsionis.

Nih, minum dulu lu Rita mengambilkan segelas aqua yang biasa diberikan ke tamu, sebelum Shellina menusukkan menusukkan sedotan ke aqua itu dan menyedotnya habis dalam sekejap.

Minum apa minum itu tawa Rita, Shellina hanya tertawa sambil menyeka keringatnya.

Bos udah dateng ? tanyanya memastikan.

Belom lah, jam segini. Mending lu cepetan beresin kerjaan lu kemaren dan taro di ruangannya sebelom bos dateng ! usul Rita sambil membereskan bedaknya kembali ke dalam tas, dan mengambil mascara untuk bulu matanya.

Yawda dech, gw masuk dulu. ini sekalian buangin ya Rit tawa Shellina mencandai Rita.

Yehh, kurang ajar lu ! Rita tertawa sambil meremas gelas aqua kosong itu, dan melemparnya ke tempat sampah di belakang tempat duduknya, Shellina mendorong pintu masuk sambil tersenyum, sebelum kembali keluar mengambil documentnya yang tertinggal di meja resepsionis.

Pikun loe ! Rita kembali meledek, sementara Shellina berlalu sambil meleletkan lidahnya.

Dia duduk di bangku kerjanya tepat di samping ruang direktur yang masih terkunci, dia menaruh tasnya di laci bawah meja kerjanya sambil menekan tombol power komputernya. Dia membuka map dokumentnya mengeluarkan beberapa kertas sambil mengambil kertas lain yang berisi neraca perusahaannya pertanggal kemarin.

Dia harus merubah angka-angka itu sebelum bosnya datang, pekerjaan yang sia-sia karena rintikan air hujan mulai menetes dari langit gelap yang menutup matahari yang sempat bersinar kecil tadi. Shellina menghela nafas lega, ada sedikit kesempatan agar meeting ini kembali ditunda. Tugasnya baru 20 persen selesai setelah mengerjakan pekerjaan ini sepertinya dia sempat untuk menyelesaikan tugas ini dan bisa dikumpulkannya sore nanti.

Dan dengan cepat Shellina mengerjakan pekerjaannya, satu dua jam berlalu sebelum dia berdiri dari tempat duduknya. Menatap luar jendela dimana hujan masih merintik tipis, dia berjalan keluar dari bilik kecilnya menuju pojok ruangan untuk mengambil kertas-kertas yang diprintnya tadi.

Oi Shell sapa seseorang yang baru keluar dari pantry di balik mesin print diruangan itu.

Oh Ren, kenapa ? bikin apa tuh ? tanya Shellina melirik secangkir gelas di tangan Rendy.

Milo jawab Rendy sambil mengaduk gelas berisi Milonya Mau Shell ? gw bikinin ?

Mau sih, tar gw bikin dech. Ini masih harus beresin ini jawab Shellina sambil mensteples kertas-kertas dokumentnya.

Udah gw bikinin aja, loe pasti belom sarapan kan ? balas Rendy, sambil membawa cangkirnya ke atas bilik kerjanya tak jauh dari pantry, dia membuka jas hitamnya dan menaruhnya di kursi sambil menggulung lengan kemeja hitam mewahnya.

Tar aja Ren, gw bikin sendiri ya Shellina cepat menghalangi Rendy, dia tak ingin orang-orang yang menguping pembicaraan mereka sekarang terus menggosipkan hubungan lebihnya dengan Rendy, itu tak baik terlebih hubungan sekantor selalu tidak sehat.

Rendy mengalah menyadari kuping-kuping yang mulai menaruh perhatian pada pembicaraan mereka.

Yawda, tar siang sempet makan bareng gak ? tanya Rendy, kali ini dengan suara yang kecil.

Kayaknya enggak dech, tar nitip OB aja. Masih mau ngerjain tugas nih, harus dikumpul sore ini

Rendy menggerakan bibirnya sesaat, memikirkan alasan untuk mengajak gadis cantik itu makan siang hari ini.

Gimana kalau gw tungguin aja sampe beres, baru kita makan. Tapi jangan lama-lama, laper

Shellina hanya tersenyum, tak mau berdebat sebelum kembali berjalan ke biliknya. Dia tak nyaman kalau harus berinteraksi yang bersifat pribadi seperti itu di depan banyak orang. Demikian Rendy yang menyadari reaksi Shellina bergegas kembali kebiliknya membuka kolom chatnya untuk kembali berbicara dengan Shellina lewat aplikasi itu.

Rendy A. : Bisa ya makan siang ?

Paksa Rendy di kalimat pertamanya pagi itu, diatas chat barunya hari ini berjejer chat-chatnya hari kemarin.

Shellina Sheli : Gak sempet Rend, beneran
Rendy A. : hmmm
Rendy A. : Ditungguin ya
Shellina Sheli : Gak janji, beneran
Rendy A. : Cuma lu loh yang belom gw traktir
Rendy A. : Janjinya mau ditraktir berdua aja kan
Shellina Sheli : Iya, tapi jangan sekarang ya ?
Rendy A. : Hadiah juga belum kasih ckckckkkk
Shellina Sheli : Itu hadiahnya udah dibeliin
Shellina Sheli : Tapi u yg gak mau kan ?
Shellina Sheli : zzzzzzzz
Rendy A. : Hadiahnya kita makan siang aja hari ini
Rendy A. : Ok ?

Shellina berdiri menatap bilik Rendy yang tengah mengintip sambil tersenyum.

Shellina Sheli : Yawda, tapi jangan lama-lama makannya ya,
Shellina Sheli : Gpp kan ?
Rendy A. : Ok boss

Dan Rendy sukses mengajak Shellina hari ini, sebelum larut dalam rencananya tentang makan siang nanti, ada sebuah restoran di lantai bawah, restoran mewah yang sudah berkali dirinya ingin menggajak makan Shellina disana, meski selalu ditolak oleh gadis itu.

Kali ini sepertinya tak ada alasan Shellina untuk menolaknya, alasan hadiah ulang tahun sukses melelehkan keras kepala gadis itu, dia menyukai gadis itu sejak pertama duduk di kursi ini. Dari sudutnya dia bisa menatap jelas bilik gadis itu, memperhatikan tiap tingkah lakunya. Menyukai gadis cantik mungil berambut panjang dengan sedikit keriting di ujungnya.

Dan dia hanya tersenyum simpul, andai gadis itu tahu seberapa dia menyukai gadis itu sejak hari itu.

Author: 

Related Posts