Cerita Sex 13 Sin : Seks Itu Nikmat – Part 1

Cerita Sex 13 Sin : Seks Itu Nikmat – Part 1by on.Cerita Sex 13 Sin : Seks Itu Nikmat – Part 1 13 Sin : Seks Itu Nikmat – Part 14 13 SIN : UNTOLD STORIES . (fany flashback) . = . Bekerja sebagai sales asuransi seperti ini adalah pekerjaan pertamaku, begitu lulus D3, aku langsung melamar kerja di perusahaan ini, yang saat itu sedang melakukan perekrutan pegawai, insentifnya lumayan dan setiap bulan ada gaji tetap juga, […]

tumblr_nvbh3huxi31r90a2to3_1280tumblr_nvbh3huxi31r90a2to1_1280  tumblr_nvbh3huxi31r90a2to10_128013 Sin : Seks Itu Nikmat – Part 14

13 SIN : UNTOLD STORIES
.
(fany flashback)
.
=
.
Bekerja sebagai sales asuransi seperti ini adalah pekerjaan pertamaku, begitu lulus D3, aku langsung melamar kerja di perusahaan ini, yang saat itu sedang melakukan perekrutan pegawai, insentifnya lumayan dan setiap bulan ada gaji tetap juga, lumayanlah untuk aku walau setiap hari aku harus berkeliling mal-mal atau kantor menawarkan berbagai macam polis asuransi, dan ternyata tidak mudah karena 2 minggu kerja aku belum menjual satupun, padahal aku diberi target dari perusahaan minimal harus bisa menjual 2polis dalam bulan pertama kerja.
.
“ci..aku minggu depan terpilih mewakili perkumpulan untuk kompetisi di singapur..! Nanti kalau cici dah gajian aku bagi aku yah buat uang jajan disana..” ujar Lian suatu malam dikamarku.
.
“wow hebat yah, adikku ini..tapi bukankah kalau kompetisi itu semua ditanggung panita.. Kok masih minta uang jajan sih.!” ujarku menggodanya
.
“ikhh.. cici gitu deh aku kan mau beli oleh-oleh.. Untuk cici dan mama…!”
.
“yey mau beli oleh-oleh tapi uangnya minta dulu, sama aja aku yang nitip itu sih.”
.
“ah cici.. Pokoknya aku ga mau tau cici harus kasih aku uang jajan..pliiz..” ujarnya merajuk.
.
“iya..iya..” jawabku
.
“nah gitu dong, itu baru ciciku..!” ia berkata sambil memelukku.
.
“katanya mau ikut kompetisi beladiri internasional, tapi masih manja seperti ini…” godaku.
.
“ah cici ga asik.. Aku kan cuma bisa peluk cici, mama mana mau dipeluk sama aku..tadi waktu aku bilang soal ini saja mama cuek..” ujarnya terlihat perubahan diwajahnya yang tadi ceria menjadi muram.
.
“iya..deh..sini.” kataku sambil merangkul tubuhnya.
.
Sejak kecil Lian sudah aktif di perkumpulan gerak badan yang ada disebuah klenteng didekat rumah, dan dia sangat berbakat dalam seni beladiri kungfu, beberapa kompetisi pernah dimenangkannya kendati hanya dalam skala daerah, dan akupun menyadari kalau menjadi wakil di kompetisi ke luar negeri ini sebuah hal yang luarbiasa untuknya.
.
Aku harus berusaha paling tidak hari ini bisa mendapatkan 1 pelanggan, malah kalau bisa lebih, sejak pagi aku sudah menuju sebuah komplek perumahan mewah, semalam Lian mengatakan kalau orang tua salah satu teman kuliahnya ingin membeli asuransi, memang sejak aku kerja, Lian juga kerap membantu menawarkan polis kepada teman-teman kuliahnya.
.
Jalan “flamboyan 15a” Aku sudah ada didepan gerbang sebuah rumah mewah berarsitektur eropa dan cukup mencolok karena lebih besar dari rumah-rumah disekitarnya. Ini adalah alamat rumah temannya Lian, yang ia berikan padaku.
.
“permisi pak !” sapaku pada seorang satpam yang berada dipos satpam disamping gerbang.
.
“ya..! Ada yang bisa dibantu mbak.?” kata pria berkumis tebal itu, lumayan ramah untuk ukuran seorang satpam.
.
“saya mau bertemu bapak William..” jawabku.
.
“mbak siapa,.? Sudah ada janji bel..”
.
“tiiit..” suara klakson dari sebuah mobil sport berwarna merah.. memotong ucapan si satpam. Dia langsung bergegas membuka gerbang bercat biru itu, mobil itu berhenti disampingku, dan kaca mobilnya diturunkan.
.
“ci Fany yah, cici nya Lian.” sapa pemuda dari balik kemudi mobil itu.
.
“iya..!” jawabku
.
“saya Rio teman kuliah nya Lian, mau nawarin asuransi kan, langsung masuk aja ci, papah ada didalam.” ujar pemuda yang cukup tampan itu.
.
Setelah memberitahu pada satpamnya, Rio langsung berangkat, dan si satpam itu mengantarkan aku masuk kerumah besar itu. Seorang pria paruhbaya muncul dari dalam rumah mengenakan pakaian rapi seperti orang yang hendak
berangkat kekantor.
.
“selamat pagi pak saya Fany..” ujarku seraya menyalaminya
.
“pagi..! Ehmm.. Temannya Rio yang dari asuransi ya..?”
.
“iya pak,.!” jawabku
.
“tidak usah formal panggil pak, panggil om saja seperti teman-teman Rio yang lain.” ujarnya sambil memandangku dari atas kebawah.
.
“Om sudah pelajari penawaran yang diberikan, dan cukup menarik dibeli beberapa, maka dari itu om ingin mengetahui lebih jelas dan langsung dari kamu..” ujarnya.
.
“baik om, saya siap memberikan penjelasan yang masih om butuhkan.” kataku tanpa dapat menyembunyikan kegembiraanku karena ini mungkin akan jadi konsumen pertamaku.
.
“baiklah, tidak keberatankan, jika kita bicara dimobil, karena om harus segera kekantor..!”
.
“iya om..” kataku menyetujuinya.
.
Akhirnya akupun ikut naik mobil si om, diperjalanan kekantornya aku memberikan penjelasan tentang penawaran dan tanggungan yang ada di asuransi yang kutawarkan, tapi si om seolah tak memperhatikan, apa yang kujelaskan, aku bisa merasakan kalo dia justru sedang memandangiku dengan pandangan yang membuatku risih.
.
“om…!” panggilku ketika setelah selesai ku menerangkan, tapi si om masih tetap memandangku aneh.
.
“oh..iya..iya..!” jawabnya agak kaget ketika kupanggil.. ” kamu sudah berapa lama jadi sales asuransi seperti ini..?” lanjutnya
.
“satu bulan om..!” jawabku.
.
” lalu sampai saat ini sudah mendapatkan klien berapa orang?” tanyanya.
.
.
“belum ada satupun om, maka dari itu saya sangat berharap om mau mengambil paling tidak satu saja om..!” ucapku
.
“hahaha.. Om bisa ambil 10 untuk pertama, dan mungkin akan bertambah, karena om ingin mengasuransikan pegawai om..” ujarnya, aku nyaris tak percaya mendengarnya.
.
“beneran om..?” tanyaku meyakinkan.
.
“iya..” jawabnya.
.
Senang sekali rasanya mendengar itu, dengan menjual 10 polis saja aku akan mendapatkan bonus yang sangat lumayan, cukup untuk uang saku Lian ke kompetisi bela diri diluar negeri.
.
“om akan beli 10 untuk awalnya dan kemudian 10 lagi berikutnya, asal kamu nanti malam datang kerumah dan temani om..” ujarnya, sebuah perkataan yang membuatku terbanting ketika beberapa saat lalu terasa terbang.
.
“maksud om apa.?” tanyaku emosi.
.
“kamu sudah cukup dewasa untuk mengartikan maksud om tadi kan..” jawabnya dengan mimik wajah yang begitu memuakan untuk dilihat, aku merasa begitu dilecehkan.
.
“maaf om saya turun disini saja.. Saya menjual polis asuransi, bukan menjual diri..” ujarku sambil berusaha terlihat tidak terpengaruh ucapannya tadi.
.
“baiklah, tapi ini kesempatan untukmu, mengingat sampai saat ini kamu belum mendapatkan satupun klien, jadi cantik, om tetap menunggu, jika kamu berubah pikiran datanglah kerumah nanti sore..” ujarnya dengan senyum yang terlihat begitu menyebalkan
.
“makasih…” jawabku sambil turun dari mobilnya, dan kubanting pintu mobilnya dengan sangat keras, melampiaskan kekesalanku.
.
Aku memilih untuk pulang saja, walau hari ini belum berjalan setengahnya, tapi aku sudah tak berniat untuk melanjutkan mencari klien lain, aku benar-benar merasa terlecehkan dengan perkataan om William tadi, pria itu sungguh kurang ajar, aku hanya ingin bekerja, membantu mama dan Lian, begitu sulitkah jalan sebuah pekerjaan untukku….
.
Rumah terlihat sepi, pintu pagar depan tertutup, juga pintu rumah, apakah mama belum pulang dari pasar, tapi ini sudah cukup siang pasar pasti sudah sepi, dan biasanya juga kue-kue yang mama jual sudah habis.
Aku berjalan kesamping rumah jalan kecil diantara rumah dan tembok pembatas, bermaksud masuk lewat pintu dapur. karena pintu depan terkunci, dan ketika melewati kamar mama, sebuah hal yang tak pernah terbesit didalam hatiku, tergambar jelas didepan mataku lewat gorden jendela yang sedikit tersingkap di kamar mama, kenapa hari ini begitu banyak hal yang tak terduga terjadi dihidupku.
.
Mama sedang berlutut dihadapan seorang pria yang mungkin usianya sedikit lebih tua dari mama, pria itu duduk diatas ranjang masih mengenakan baju
namun celananya telah terbuka, karena kontolnya kini sedang dijilati mama yang berlutut diantara kakinya dengan tubuh sudah bugil tanpa sehelai benangpun. Aku melihat jelas bagaimana lidah mama menjulur-julur menjilati batang tumpul, diantara celah paha pria itu, karena posisi kaca jendela ini berada disamping dari posisi tempat tidur.
Mama sudah tidak lagi menjilati. Tapi kini semua batang pria itu, sudah keluar masuk dimulutnya, kepalanya bergerak-gerak, dan pria itu terlihat sangat menikmati servis oral mama, kepalanya terdongak keatas, “akhh..yeah..wi..akh..” kendati tidak terlalu jelas aku bisa mendengar desahan pria itu.
.
Setelah beberapa waktu menjilati dan mengulum kontol pria itu, mama berdiri, diikuti oleh pria itu, mereka saling berhadapan dan berciuman, tangan mama menggenggam batang pria itu dan bergerak mengocok, sementara tangan si pria juga mengelus selangkangan mama.
Mama lalu berbaring telentang diranjang, pria itu masih berdiri sambil melepas baju, setelah bugil langsung naik kesebelah mama, dengan posisi menyamping, pria itu menatap mama, mereka saling tersenyum, seperti sudah lama saling kenal, siapa pria itu, dan apa hubungan mereka kenapa bisa sampai sejauh ini.
.
Tangan pria itu menyentuh payudaranya meremasinya “akh..pelan..pelan..” erang mama ketika putingnya ditarik pria itu.
.”habis kamu gemesin sih.. Montok..” ujar pria itu seraya membenamkan kepalanya dikedua bulatan payudara mama, dan tangannya bergerak menyusuri perut mama, terus kebawah menyentuh rimbunnya bulu-bulu lebat diselangkangkan mama. “arggghhh..” mama melenguh sepertinya jemari pria itu sudah menyentuh kemaluannya, aku bisa melihat tangan pria itu bergerak-gerak diantar jepitan kedua paha mama, dan tubuh mama juga sudah menggelinjang disertai rintihan kecil sesekali.
.
Pria itu terus mempermainkan birahi mama, mulutnya bergantian menghisap kedua puting susu mama, sementara jemarinya semakin aktif bergerak dimemek mama.
.
“akh,akh…” suara desahan mama, yang mendesah dan mengelinjang, pria terus melakukan aktifitasnya, tanpa memperdulikan erangan mama.
.
Selang beberapa menit kemudian pria itu mengubah posisinya berdiri dan pindah diantara kedua kaki mama yang masih terlentang, diganjalnya punggung mama dengan bantal, dan sambil memegangi kontolnya yang sudah sangat tegak itu, ditaruhnya tepat dibelahan memek mama, yang dihiasi jembut lebat itu.

Dengan gerakan perlahan kontol itu masuk menembus kemaluan mama, wajah mamah tampak meringis dan menggigit bibir.
“akhh..mmph..jepitan memekmu memang luarbiasa..akhh..” ujar
pria itu, sambil mulai bergerak maju mundur, mengeluar masukan kontolnya, menggenjot memek mama.
.
“akh..ekmh..emh..akh.. Memek..akh.. Memek muu.. Enak ..akh..yeakh..” erang pria itu sambil terus mempercepat sodokan kontolnya di memek mama..
.
“akhh..akhh..akh..emph..” mama hanya mendesah pantatnya mulai bergerak bergoyang menyambut sodokan pria itu, suara erangan birahi terdengar memenuhi kamar itu.
Pria itu semakin mempercepat gerakannya.. Dan tangannya menarik kedua tangan mama agar bangkit, dan posisi mereka berubah, kali ini mereka berhadapan, dan mama jadi seperti dipangku, tetek mama yang besar itu bergerak-gerak didepan wajah pria itu, karena kini yang aktif bergerak adalah mama.
.
Diantara rasa bingung akan apa yang terjadi didepan mataku, tanpa sadar aku juga sudah terpancing birahi, tanganku sudah sejak tadi menyelusup kedalam celana dalamku, jariku sudah terjepit diantara lipatan bibir memekku yang sudah basah, aku mainkan klitorisku dengan jariku sendiri tanpa melepas pandangan dari pergumulan birahi mama dan pria asing itu. Kali ini mereka kembali keposisi semula, mama telentang dan lelaki itu mengaulinya dari atas, gerakannya sudah semakin cepat, bahkan tubuh mama ikut terguncang menerima sodokan pria itu, “akkhhhh…” pria itu bersamaan dengan jatuhnya tubuh dia ke atas mama yang tampak tergolek lemas.
.
Aku tidak lagi memperhatikan mereka, aku terduduk ditembok samping kamar mama, aku percepat gerakan jariku mengocok memekku sendiri, memekku sudah sangat basah, dan tidak tahan untuk dituntaskan, desakan gelombang birahi akibat masturbasiku terasa sudah hampir diujung puncak klimaks, akh..ough..Aku tak kuat lagi aku berusaha menahan agar tidak mendesah, aku mempercepat gerakan jariku yang keluar masuk dilubang basah kemaluanku… Akhhh,. Akhirnya orgasme itu tiba juga, jemariku terasa hangat terkena cairan kenikmatanku sendiri, tubuhku melemas, samar kudengar percakapan mama dan pria itu dikamar.
.
“bagaimana soal permintaanku..apakah kau membawanya.?” sebuah pertanyaan dari mama kepada pria itu.
.
“ada di tas, untuk apa uang itu, apakah ada keperluan mendadak..?”
.
“Anakku mau ikut kompetisi keluar negeri..aku butuh untuk uang sakunya.!” jawab mama.
Ternyata mama memikirkan Lian juga, walau selalu memarahinya, aku juga heran kenapa mama selalu judes kepada Lian, padahal Lian anak bungsu yang biasanya selalu jadi anak kesayangan.
.
#
.
“sejak kapan kamu pulang..?” tanya mama, ketika dia baru mengantar pria itu kedepan dan melihatku muncul dari samping.
.
“siapa pria itu, kenapa mama lakukan hal itu.?” aku balik bertanya.
.
“bukan urusan kamu..kenapa pula jam segini sudah pulang, bukannya kerja..” ujarnya sambil berlalu masuk kerumah.
.
“nih..nanti kasih Lian buat ongkos dia..”ujarnya sambil menyerahkan amplop berwarna coklat.
.
“mama mau kasih Lian uang dari hasil jual diri..” kataku.
.
“plak..plak..” mama menampar wajahku “kurang ajar kamu..aku juga tidak perlu seperti ini jika kamu bisa cari uang..aku melakukan ini demi anakku, tidak seperti kamu yang mau saja dibodohi lelaki untuk ditiduri, tolol..” bentak mama, lalu masuk kekamarnya dan membanting pintu dengan sangat keras.
.
Aku tak dapat menahan tangis, aku berlari menuju kamar, kenapa mama mengungkit hal itu, aku memang pernah dituduri pacarku dan kepergok mama, tapi saat itu aku melakukannya karena dia pacarku, dan sampai sekarang aku masih menyesalinya.
.
Ini yang tidak kusukai dari mama, jika tidak ada Lian mama akan bersikap ketus dan kerap memaki aku dengan kata- kata kasar, tapi didepan Lian mama selalu baik padaku dan ketus kepada Lian, aku jadi selalu merasa bersalah karena kadang Lian terlihat iri denganku, oleh karena itu aku selalu berusaha menyenangkan Lian.
.
Pikiranku kalut, benarkah ini karena aku tidak mampu mencari uang mama jadi harus seperti itu, mama tadi melakukan itu untuk Lian, jika mama bisa, kenapa aku tidak penawaran dari om William tadi, akan menghasilkan insentif besar untukku, mungkin memang harus kulakukan toh aku juga bukan seorang perawan.
~~
.
Dengan beralasan akan kerumah teman aku kembali ketempat om William, si satpam yang tadi pagi masih mengenaliku dan aku langsung disuruh masuk, aku menunggu dibangku diterasnya hari yang mulai gelap dan lampu taman yang serasi dengan rimbunan pohon benar-benar terasa nyaman, aku nyaris lupa dan tak menyadari kedatangan si om yang ternyata sudah berdiri diteras.
.
“ehem..akhirnya kamu datang juga cantik, keputusan yang tepat..” ujarnya.
.
Aku terdiam, kuambil formulir pendaftaran untuk 20 polis, yang juga tertulis jumlah yang harus dibayar si 0m dan no.rek untuk transfer, kuberikan formulir itu padanya, yang langsung ia ambil dan baca.
.
“wow apa ini, kenapa jadi 20, tadi sudah dibilang ambil 10dulu..” katanya memprotes.
.

“aku minta 20, dan transfer uangnya sekarang. Dan aku akan melakukan apapun yang om mau…” ujarku memberi penawaran.
.
Si om terdiam dan matanya memandangi tubuhku dari atas kebawah..
“hahaha..kau cukup pandai jg bernegosiasi cantik…” katanya “tunggu sebentar..”ujarnya lalu masuk kedalam rumah sambil membawa lembaran formulir yang kuberikan tadi.
.
Tak lama ia kembali lagi dan menyerahkan formulir yang tadi kuberikan, yang ternyata sudah diisinya
.
“om sudah mentransfer juga uangnya..” ucapnya.
.
Aku langsung mengeceknya lewat phone banking dan ternyata memang uang nya sudah ditransfer.
.
“bagaimana cantik..cukup..?” tanya nya.
.
“iya makasih.. “jawabku
.
“oke cantik sekarang kamu harus menuruti perintahku..” ujarnya.
.
“apa yang harus kulakukan..?” tanyaku.
.
“buka semua pakaianmu..” ujarnya.
.
“apa..! Disini..?” tanyaku kaget,
.
“iya..cepat.. Ingat yang kau janjikan tadi, om sudah melakukan bagian om, sekarang giliran kamu cantik, lakukan bagianmu..” ujarnya.
.
Damn… aku tidak mengira pria mesum ini akan memintaku melakukan hal aneh seperti ini.. Freak..
.
Aku bangkit dari kursi, aku tidak ada pilihan, kulepas bajuku, lalu celana jeansku, “semuanya.” ujarnya ketika melihatku terdiam disaat tinggal underwear yang menempel ditubuhku.. Sudah terlanjur pikirku akhirnya kulepaskan juga bra dan cd ku, kini aku bugil diteras rumah dihadapan seorang pria paruh baya yang sedang memandangku dengan tatapan mesum, untunglah pagar rumah ini cukup tinggi jadi aku tidak perlu khawatir akan orang diluar, satu-satunya kekhawatiranku adalah si satpam di depan gerbang tadi.
.
“sekarang titipkan semua baju dan tas mu pada si Juned satpam didepan.” ujarnya.
.
“apa, aku tidak mau aneh-aneh seperti ini..!” ujarku menolak..
.
Si om bangkit dari duduknya, mendekatiku, dan tanpa diduga, tangannya mencengkram leherku dan mendorong tubuhku hingga tersadar kepilar diteras itu,
.
“jangan mempermainkanku, aku bisa menghancurkanmu disini..!” katanya dengan sorot mata mengancam, dan tetap mencengkram leherku hingga ku sulit bernafas, tangannya sangat kuat aku tak mampu melepaskan cekikannya..
.
“uhuukk..uhukkkhh.” aku terbatuk ketika dia melepaskan cengkraman dileherku, mataku berair karena beberapa saat tadi tidak dapat bernafas.
.
“cepat lakukan perintahku..” bentaknya.
.
Tanpa menjawab segera kuambil pakaianku dan tas lalu kubawa ke si satpam didepan dengan telanjang bulat, satpam bernama Juned itu tersenyum melihatku yang mendatanginya dalam kondisi bugil
.
“ada apa mbak..?” tanya dengan mata jelas tertuju keselangkanganku.
.
“saya mau titip ini” kataku sambil menunjukan pakaian yang ada ditanganku,
.
“taruh aja disitu mbak..” ujarnya menunjuk bangku kayu yang ada disudut didalam posnya.
Ketika aku hendak masuk dan melewati. Ia yang berdiri dipintu tidak mau menyingkir, karena pintunya
kecil aku harus memiringkan badan untuk melewatinya, dan itupun masih membuat badanku bergesekan dengannya, rupanya ini siasat dia karena ketika aku keluar dia tetap diposisi tadi, dan kembali tubuh bugilku bergesekan dengan nya.
.
“hati..hati robek mbak..kontol bapak jumbo..!” ujarnya seraya mengacungkan lengannya.
.
Aku tidak memperdulikan ucapannya, dan terus berjalan kembali keteras rumah besar ini, pria paruh baya yang rambutnya sudah banyak uban itu masih duduk dikursi tadi, aku berdiri disampingnya.
.
“duduk,..!” perintahnya, sambil menunjuk meja didepannya, akupun menurutinya duduk menghadapnya di atas meja yang terbuat dari akar pohon yang besar,
.
“naikan kaki mu kesini..” ujarnya sambil menepuk dua sandaran kayu disisi kursi yang didudukinya.
Akupun menurutinya, kini posisiku duduk menghadapnya dengan kedua kaki terkangkang memamerkan selangkanganku didepannya.
.
Sungguh tak dapat kubayangkan betapa malunya aku jika ada yang melihat apa yang sedang kulakukan sekarang, duduk telanjang diteras yang terbuka, dengan posisi duduk yang seperti ini.
.
“memek yang cantik sekali, secantik orang nya..” ujarnya, karena dengan posisiku yang seperti ini, selangkanganku terpampang jelas didepannya.
.
”apakah sudah ada yang pernah memasukinya..?” Tanyanya lagi.
Aku hanya mengangguk.
.
“melihat tubuhmu yang seperti ini, siapa yang tidak tahan untuk mencobloskan kontolnya, kememekmu..katakan sudah berapa kontol yang masuk kememekmu ini..?” tanyanya sambil menyentuh memekku.
.
“satuu..akh..” jawabku sedikit mendesah karena jemarinya. Mengelus belahan diselangkanganku.
“apakah kau menikmatinya disentuh seperti ini..” ujarnya sambil lebih menekan jarinya, aku bisa merasakan bibir kemaluanku terbuka oleh tekanan jemari nya.

“oughhh…” erangku..
Ia mengangkat kedua lututku, otomatis membuatku jadi terlentang diatas meja kayu itu, Om William merundukan kepalanya mendekat diantara selangkanganku, dengusan nafasnya terasa menyentuh bulu-bulu diatas memekku.
Ia menaruh kedua kedua kakiku dipundaknya, kurasakan memekku dikuaknya dengan jari. Dan sebuah jilatan langsung mendarat disana, menjilati dan membasahi memekku dengan lidahnya yang terasa begitu berliur.
.
“augghhh,..emmphh ..akh..”aku merintih menikmati rasa itu.
seks itu nikmat dan aku tidak akan menolak kenikmatan ini, toh walaupun aku menolak untuk menikmati pria ini akan tetap menyetubuhiku..
“emmphh..akkrghh..akh..” aku mendesah kepalaku bergerak kekiri dan kekanan menahan rasa akibat aksi lidah si om dimemekku, aku sepintas bisa melihat bayangan seseorang dibalik rimbunnya tanaman di ujung taman, aku yakin itu si satpam yang sedang mengintip. Entah kenapa bukannya merasa malu aku merasa ada sensasi yang begitu aneh, tergeletak bugil diatas meja, dengan kepala seorang pria diselangkanganku di teras yang dikelilingi taman berpohon rimbun, dan sedang diintip seseorang..
.
“apakah memekmu pernah terluka?..” tanya si om, “tidakkhh..” jawabku, lalu si om kembali menjulurkan lidahnya, menjilati bagian dalam, dan sesekali menyentuh klitorisku..
.
“iyahh..akh..disituuh ..akh.ter..us..emph….!” rintihku tanpa merasa malu karena memang nikmat sekali, rasanya ketika klitorisku disentuh oleh lidah basahnya.
.
Si om menghentikan jilatannya, ia bangkit berdiri, bergerak kesampingku, lalu meletakan tangannya dibawah lutut dan satu dibawah leher, dan dengan entengnya dia mengangkat tubuhku, semula aku mengira dia akan membawaku kedalam rumah, ternyata ia membawaku kehalaman samping rumahnya. Sesaat aku memperhatikan wajah si om, tampan juga dan tubuhnya terlihat begitu kekar.
.
Aku dibawa menyusuri sisi rumah yang dikelilingi taman ini, ternyata aku dibawa ke kolam renang, kendati hari sudah gelap suasana kolam itu terang oleh lampu-lampu, yang menambah indah suasana disini.
Ia terus berjalan membopong tubuku ke pinggir kolam..
.
“kamu suka bermain di air…” tanyanya,
.
aku hanya tersenyum memandangannya, dan “byuuuuurr..” tubuhku dilemparkan nya kekolam, karena sudah menduga akan hal ini, aku jadi tidak gugup dan bisa menguasai keadaan, si om melepas semua pakaiannya dan duduk disisi kolam. Ternyata kontolnya besar sekali. Ia menggapaikan lengannya memanggilku untuk mendekatinya, akupun berenang mendekatinya, bertumpu di kedua pahanya dengan kedua tanganku, dan kakiku terus bergerak agar tetap mengambang, kontolnya sudah tegak berdiri, dan dalam posisi duduk ditepi kolam dengan kedua kaki yang masuk keair dan terbuka, kontol itu terlihat jelas menantang.
.
Aku majukan badanku sedikit lagi sambil kumiringkan kepalaku, dan langsung kubuka mulutku dan kucaplok dua buah kembar dipangkal kontolnya, kukulum-kulum benda itu seperti mengulum permen. Sesekali kutarik-tarik, aku tidak bisa melihat ekspresi siom, tapi aku bisa merasakan tubuhnya bergerak., puas memainka buah kembar itu, aku mengarahkan mulutku kebatangnya, kujulurkan lidahku, menjilati batangnya yang cukup besar itu, lidahku maju mundur, menjilati setiap tonjolan urat yang menghiasai batang itu, aku merubah posisi lagi kali ini, aku berdiri diantara kedua kakinya, kontolnya tepat didepanku.
.
Kubasahi batang itu dengan air kolam dan lalu kukocok-kocok. “emmph..bagaimana dengan kontolku..lebih besar mana dengan yang pernah memasuki memekmu..” tanyanya
.
“Besar punya om” jawabku.
.
“masukan kemulutmu…” ujarnya
.
“ga muat…” jawabku
.
“muat, buka mulut mu..” ujarnya, sambil menekan kepalaku agar menempel ke ujung kontolnya, dengan terpaksa kubuka mulut lebar-lebar berhasil masuk sebagian, “hisap saja yang kuat..” katanya menahan kepalaku untuk tidak bergerak, kuhisap kuat batang besar, “argh..akhh..terusss akh.,,hissaap yanggg..kuuaaat..”teriaknya sambil menahan kepalaku agar tidak bergerak, mulutku sudah terasa sakit menghisap kontol besar si om yang sedang menyumpal mulutku ini.
.
Akhirnya si om melepaskan kepalaku, dan dia juga menceburkan diri ke kolam, tubuhku dipeluknya, dan disandarkan didinding kolam, ia melumat bibirku, aku pun membalasnya kubuka mulut dan kubiarkan lidahnya beradu dengan lidahku, saling menyentuh dan berbagi liur, sambil tetap berkuluman ia menggeser tubuh kami kesisi kiri menuju tangga kolam, setelah sampai diarahkan aku untuk bersandar ditangga besi itu dengan kedua tanganku berpegangan disisi pegangan tangga.
.
Si om mundur sedikit lalu mengangkat pahaku, kini aju jadi mengambang dalam posisi telentang diatas air, si om mengatur posisi agar selangkanganku tepat diujung kontolnya.
Aku bisa merasakan batang itu sangat keras, dan sedang disodok-sodokan dibibir memekku berusaha menembusnya.

Entah lubangku yang terlalu sempit atau kontol si om yang terlalu besar ia terlihat kesulitan mendorong kontolnya untuk menembus masuk, diangkat satu kakiku ke bahunya dan “akrrggh…” aku menjerit lirih ketika tiba-tiba ia memasukan jarinya kelubang memekku, dan digerak-gerakan memutar, seolah sedang membuat celah untuk memasukan batang kontolnya, lalu ia memegang kontol besarnya, dan ditempelkan dicelah memekku, ia bergerak maju mundur pelan, aku bisa merasakan ujung nya mulai memasuki aku, membelah perlahan lubang memekku… “akhhh..pelann..pelan..omm..akh…” rintihku, namun siom terus mendorong pelan, rasanya sedikit nyeri seperti ada yang robek…
.

.
Ia diam sejenak, dan tanpa sempat kusadari ia mendorong seluruh batang nya menembus ke dalam lubang memekku.
.
“akkhhhhhh..akhh..sakiiittt…” aku berteriak kencang dan berusaha menggerakan kakiku agar dia mencabut kontolnya, namun dia begitu kuat usahaku tak ada artinya, aku juga tak bisa menggunakan tanganku, karena jika aku melepas peganganku, maka bisa-bisa kepalaku membentur tembok kolam ini.
.
Ia berdiam sejenak membiarkan batangnya didalam lubangku, namun tetap saja rasa perih masih terasa..
.
“akhhh…sempit sekali…” ujarnya sambil menarik keluar kontolnya, namun tetap menyisakan ujung kontol..
.
“ampuun om.. Lepass dulu..akh..sakit banget..om..” rintihku memohon.
.
“apa yang dilepas..apa yang sakit.?”
.
“ini..memek..ku..om..ahkh..aduuh..memekku.. sakit..banget om..lepasin kontol om..” jawabku karena memang sakit sekali rasanya.
.
“akh..enak begini kok sakit…akh..” ujarnya sambil mendorong kembali kontolnya terbenam didalam memekku.
.
“akh..aduuh,..akh..sakit..sakit..udah..ampuuun akhh…” teriakku namun tidak diperdulikan nya, ia mulai bergerak menggesek lubang memekku, dengan kontolnya, “akhhakh…eakh..akh..nikmat sekali” ujarnya.
Gerakan yang pelan itu lama-lama berubah jadi semakin cepat, dinginnya air kolam sedikit meradakan nyeri dimemekku, karena setiap dia menarik kontolnya lalu memasukannya lagi ada airkolam yang ikut masuk kememekku.
.
“akhh..owkh..okh..okh..” aku terus merintih, namun si om tidak perduli, ia terus menyodok memekku, dan sesekali ia mendiamkan kontolnya, lalu giliran pinggulku yang digoyang dan digerakan memutar jadi memekku memutari kontolnya.
“bluub..bluub..blub…” suara dari gelembung air yang keluar dari pergesekan kelamin, terdengar lucu buatku.
.
“ehm..kenapa..senyum..enak….?” tanya nya..
.
“ga..akh..sakit..” jawabku berbohong karena sebenarnya aku sudah bisa menikmatinya, karena besar dan kerasnya batang itu, setiap gerakan keluar masuknya, juga turut menggesek klitorisku, ouughh nikmat sekali..
.
“akh..oh..akh..akh..yeakh..” suara rintihanku diantara kecipak air kolam.. Sodokan si om mulai semakin cepat.. “akh..akh,enak…akh..terus..om..akh” ujarku sambil merintih keenakan, dan tidak lagi merasa malu mengucapkannya.
.
“eh..eh..apa..yang..enak..sayaang..?” tanyanya
.
“kon..kontol..om..enak..terus om..akh..”
.
“akhrgg,..terus..apa..akh…”
.
“teruss..entott..entotin..fanyy..” kataku dengan kata yang membangkitkan birahinya.
.
Tak kenal lelah si om mengerjaiku dikolam, aku sudah tak merasakan sakit lagi, tapi sudah bisa menikmati..
.
“pluup..” ia mencabut kontol nya, “kita ke atas,.!” serunya dan dengan tanpa kesulitan tubuhku diangkatnya ke tepi kolam, dan aku pun memposisikan diri menungging menunggunya naik.
.
“gadis yang pandai..” ujar nya. “plak..plak..” sambil menepuk pantaku..
.
Aku kembali merasakan sentuh ujung kontolnya dimemekku, tidak seperti tadi, kali ini aku tidak merasakan sakit dimemekku, kontol itu kembali mengisi rongga memekku, dan kembali aku merasakan nikmat dari kontol si om, ditempat terbuka, dengan tubuh basah ough sensasi yang luar biasa.
.
Pergesekan kelamin kali ini, benar-benar membuat aku terlena, kendati kontol besar itu tadi sudah menyakitiku, namun kali ini memberiku kenikmatan yang luar biasa.
.
Kali ini kami berganti posisi aku ditelentangkan diubin sisi kolam, dan kembali aku disetubuhi, olehnya dengan posisi ini, ia juga bisa meremasi kedua buah dadaku, “akh..akh..yeakh..akh..terus ..akh..” teriakku,
kami saling bergantian memuaskan, disaat ia menyodokan kontolnya aku diam menerima nya, disaat ia membenamkannya didalam rongga memekku, aku goyangkan pantatku, bergantian terus seperti itu.
.
Akhirnya saat itu pun tiba, aku mulai merasakan akan mendekati puncak orgasme, syaraf-syarafku menegang, dan “akhhh…om..akhhh..” erangku, bersamaan dengan rasa nikmat yang luarbiasa, si om masih bergerak menggenjotku dengan sangat cepat sebelum akhirnya dia pun menjerit dan menyemprotkan maninya dimemekku, kami terkapar bersebelahan, lemas karena terlalu nikmat.

“Om..aku..boleh mandi dulu..? Tanyaku, karena sudah merasa dingin diluar seperti,
.
“masuk saja.. Sana..” ujar si om yang masih terbaring.
.
akupun segera bangkit, lalu menujuk pintu samping itu, saat berjalan aku bisa merasakan sperma si om keluar dari memekku menetes dipahaku.
.
Ternyata ini pintu dapur, aku masuk kedalam, mencari dimana letak kamar mandi..
.
“wow ci..memeklu sampe gt..” ujar Rio yang kehadirannya tidak kusadari, dalam keterkejutan aku melihat juga memekku, ternyata kondisinya sudah tidak seperti sebelumnya, tidak lagi rapat, melainkan sudah terbuka, dengan cairan sperma si om tampak memenuhinya.
.
“udah tenang aja nanti juga rapet lagi..” ujarnya sok tahu.
.
Rio berjalan mendekatiku, mengamati tubuhku, dari depan kebelakang.
.
“wah, sepertinya yang ini belum dipakai, bisa gua coba dulu nih..” gumannya.
.
“mau ngapain kamu..?” tanyaku, ketika kedua tangannya memegang bahuku.
.
“gua kan pengen nyobain lu juga ci..” jawabnya
.
“ga mau…lepasin..”aku meronta berusaha melepaskan tangannya dari bahuku.
.
“udah diem aja, lu mau rekaman lu lagi dientot tadi gua tunjukin Lian..” ancamnya sambil mendorong tubuhku telungkup diatas meja didapur ini.
.
Ia meremas-meremas pantatku, lalu membuka belahan nya, “akhhh..” erangku ketika jemarinya kurasakan menyentuh anusku..
Dari bayangan dikaca aku bisa melihat om William memasuki dapur, aku berharap ia menegur kelakuan anaknya ini.
.
“hey..jangan sampai rusak ya.. Papa belum nyobain yang itu..!” ujarnya
.
“siap bos..” jawab Rio
.
Ah hilanglah harapanku ternyata ayah dan anak sama saja.
.
“cantik kamu layani baik-baik anakku ya..” ucap nya sambil menepuk kepalaku dan berlalu.
Aku bisa merasakan benda tumpul hangat yang kuyakin adalah kontol Rio sedang diselipkan dicelah pantatku didepan anusku..

.
(Fany stories)
.
Dua tangannya kurasakan membuka belahan pantatku, dan benda panjang tumpul masih bergerak menekan tepat dilubang pantatku, dan berusaha memasukinya.
Aku mencengkram erat kedua sisi meja itu, gigiku mengigit bibirku sendiri. Ujung kepala kontol Rio terasa sudah menembus lubang anusku, namun tampaknya ia masih kesulitan untuk membenamkan seluruh batang kontolnya..
.
“sempit banget bool lu ci..susah..” ujarnya, “plak..” sambil menepuk pantatku.. Ia meninggalkanku menuju lemari dapur didepanku, aku bisa melihat kontol memang tidak sebesar si om, tapi tetap dalam ukuran besar..
.
“kita pakai ini..!”ujarnya sambil menunjukan botol berisi minyak kearahku, yang masih telungkup diatas meja.
.
Tangan Rio membuka belahan pantatku, dan aku merasakan lengketnya cairan minyak itu tertumpah celah anusku, menetes diantara kedua pahaku, jemari tangannya bergerak meratakan minyak itu, keseluruh celah pantatku, “argkhhh..” aku tersentak karena Rio memasukan jarinya yang berlumur minyak itu kelubang anusku..
.
“kali ini udah licin..pasti bisa..!” guman Rio bersamaan dengan kurasakan kembali sentuhan ujung kontolnya dibibir anusku.
.
Kepala kontolnya memasuki anusku bergerak maju mundur perlahan, pelicin dari minyak itu cukup memberikan efek untukku anusku tidak terlalu sakit, atau mungkin juga karena yang bergerak keluar masuk baru hanya bagian kepalanya saja. ”eakh..ah..ah..” suara dari desahan nafasnya.
.
“arggghhkhh…” erangku, ketika seluruh batang kontol itu amblas tertelan lubang anusku…
“akhirnya..gua..perawanin juga..bol..lu..ci..” ujar Rio sambil menggerakan kontolnya keluar masuk, tanpa memperdulikan aku yang kembali merintih kesakitan.
.

.
“akhhh..enak..akh.,..akh..akh..”
suara Rio diantara desah nafas dan derit meja tempat Rio mengenjot lubang pantatku..
.
“untung..gua.. Masih..sempet..ngerasain bol lu ci.. Sebelum keduluan bokap… Kalo dah kena kontol bokap, bisa dower kaya memek lu ini..” ujar Rio seraya tangannya yang sejak tadi dibokongku berpindah untuk meremas memekku, dan entah kenapa kendati remasannya begitu kasar, tapi aku justru menyukainya.
.
“akh..eakh..akh..akh..akhhh..mmphh..akrgh..eak h..” erangku penuh birahi, tubuhku sangat ingin dipuaskan.
.
“ah..kenap..a..ci.. Lu..ke..enakaan..ya..dianal..sambil.. Dikobel-kobeel..gini..!”
.
“yakh..akh..akh..ter..akh..teruss..” aku tidak perduli lagi, tidak juga memikirkan malu, ini nikmat sekali, birahi ku ingin dipuaskan..
.
“arkhh..akh..eakh..” teriakku merintih dan mendesah, dengan tanganku mencengkram semakin kuat tepian meja yang berada didapur ini..
.
“akh..gilaa..gua..ah..gu..akh..ga ku..kuaat…,aaaahkh..”teriak Rio dan tiba-tiba bergerak cepat sekali, sebelum akhirnya ambruk menindihku, dan disaat yang sama aku juga mencapai orgasmeku.
.
“bravo..bravo..permainan yang luar biasa…” suara dari si 0m yang tidak kuketahui, ternyata menyaksikan kami, aku sempat melihat handycam ditangannya, apakah dia merekam adegan aku dan anaknya, aku terlalu lelah untuk memikirkannya, mataku terpejam aku merasa sangat lelah.
.
~
kendati aku harus melayani nafsu seks ayah dan anak itu, aku cukup senang ketika melihat senyum Lian begitu menerima uang dariku untuk bekalnya nanti.
.
Tapi cerita tidak berlanjut indah, ternyata dikampus Rio menunjukan video rekaman adegan aku, dan hal itu sampai ketelinga Lian, Lian yang murka menghajar Rio sampai babak belur, dan konsekuensi tindakannya itu Lian pun ditahan oleh polisi.
Untunglah kepala polisi ditempat Lian masih bersimpati padanya dan memahami tindakan Lian, dengan mengancam akan memparnjang kasus penyebaran video, om William yang pengusaha terkenal tentu tidak mau karena hal itu akan merusak nama baiknya, jadilah kasus itu tidak diperpanjang, namun dengan pengaruhnya dia berhasil membuat Lian dikeluarkan dari kampus, dan juga gagal membuatnya jadi wakil dikompetisi beladiri.
.
Lian begitu terpuruk, apalagi sikap mama yang selalu sinis dan menyalahkannya, Lian mulai jarang pulang, dan bergaul dengan kehidupan malam hingga akhirnya terjerumus dalam lingkaran obat terlarang.
Andai saja jika waktu itu aku tidak menerima tawaran itu, mungkin Lian tidak akan seperti itu, akulah penyebab semua yang terjadi pada Lian dan kini aku harus bisa mengembalikan Lian, menjadi seperti Lian yang dulu yang selalu ceria dan mempunyai mimpi.
.
.
.
(Anie’s Stories)
.
Kini hanya aku sendiri, Wiwie dan Linda sudah pergi, dan tempat ini menjadi sepi, hanya tinggal aku dan si Encim.
.
“lu mesti pergi nie,dsini tidak ada apa2, jika waktu nya nanti tiba, mereka akan menjemput lu, dan pada saat itu lu ga akan punya waktu untuk dirilu sendiri..” ujar si encim. (*encim = tante)
.
Mungkin ada benarnya juga ucapan si encim, akhirnya kuputuskan pergi, tapi aku bingung harus kemana, kembali kerumah aku tidak ingin, aku hanya ingin pergi ketempat dimana orang tidak mengenalku.
.
Sejak tadi aku berdiri dihalte ini aku sudah merasakan pandangan tidak enak dari dua orang pria dengan penampilan yang semerawut disudut kiri dari tempatku berdiri.
Tanpa rasa takut sedikitpun aku tatap dua orang itu, salah satunya kemudian menghampiriku sambil cengar cengir.
“lu ani kan…?” ujarnya tiba-tiba mengejukan juga ternyata dia mengenalku.
“gua Wiji.. Masa lu lupa.!” ujarnya melihatku masih bingung.
.
“wiji anak nya bu Nur yang…” aku baru menyadari siapa pemuda kurus ini.
.
“ya wiji anak bu Nur yang kabur karena nyuri kotak amal,..” ujarnya melanjutkan.
.
“hahahaha…” aku tidak dapat menahan tawa, ketika melihat ekspresi wajahnya saat berkata, ya aku ingat siapa Wiji ini, anak paling nakal dikampung dulu, yang selalu mengganggu anak-anak sebayanya. dimana ada anak yang nangis atau berkelahi pasti akan ada keterlibatan dari si Wiji, dan satu-satunya anak yang ditakuti oleh Wiji adalah aku karena sejak kecil aku sudah berbadan besar, dan aku bisa dengan mudah melempar tubuh kurus wiji, kendati anak itu cukup tahan banting juga.
.
“lu makin semok aja ni..” ujarnya sambil menatap tubuhku dari atas kebawah.
.

.
“lu ju masih kerempeng aja.” balasku.
.
“eh ngapain lo ada disini,..?” tanyanya.
.
“panjang ceritanya, lu ada tempat buat ngobrol ga..? Sekalian pengen istirahat gua..!”
.
“kekontrakan gua aja.. Deket kq dari sini…!” ajaknya.
.
“oke..” jawabku setuju.
.
Ternyata tempat kontrakan Wiji memang tidak terlalu jauh, kendati tidak terlalu besar tapi lumayanlah aku ada tempat beristirahat.
Kami bercerita tentang nostalgia diwaktu kanak-kanak dulu, tentang kenakalan Wiji dan juga kemana dia kabur setelah mencuri kotak amal dimesjid.
Akupun mengarang cerita kalau aku kabur dari rumah karena ribut dengan orang tua dan ingin menenangkan diri dulu, Wiji menawarkan tempatnya untukku tinggal sementara.
.
“beneran nih gua, ga apa disini..?” tanyaku.
.
“ga pa, lu tenang aja, disini bebas, cuma ya gini tempatnya..” jawabnya
.
“thank’s ya.. Eh dah sore .. Gua pengen mandi dulu nih, dimana kamar mandinya..?”
.
“lu masuk aja dibelakang, tuh keluar pintu dapur..!” Wiji menunjukan.
.
Kamar mandi dikontrakan Wiji, terpisah dibelakang, selesai membasuh seluruh tubuh dan merasa segar kembali, uppss..! ternyata tadi aku hanya membawa handuk, tanpa membawa baju ganti, tengok kiri kanan, suasana sepi, akhirnya kubergegas jalan ke pintu dapur, dengan hanya berbalut handuk yang ukurannya sangat tidak mencukupi untuk menutupi tubuhku yang besar ini, langsung kututup pintu itu begitu ku didalam,
.
“wow.. Kau punya barang super gini disimpan sendiri aja ji..!” sebuah suara tiba-tiba dan ketika kuberpaling ternyata disitu sudah ada beberapa orang.
Aku terpaku tidak tahu harus apa, mau bersembunyi pun tidak ada tempat, karena kontrakkan ini hanya terdiri dari sebuah ruangan dan dapur kecil.
.
“siapa dia.. Kau punya pacar kah … Pantas saja kau betah dirumah, tak mau kerja cari uang buat bayar utang..” ujar pria berambut kribo itu.
.
“itu teman saya bang, dia cuma numpang istirahat aja..!” jawab Wiji dengan tampang yang terlihat sangat ketakutan.
.
“ah..alasan saja kau, bilang saja tak mau bagi-bagi, dengan abangmu ini..” ujar si Kribo itu, lalu mendekatiku, memandang tubuhku yang hanya berbalut handuk..”hey..montok..kau ini teman atau pacarnya si Wiji..?”tanyanya padaku.
.
“teman.!” jawabku.
.
“owh teman..kuberitahu kau temen kau ini, punya hutang sama aku..gimana kalau kalau kau bayari saja hutangnya dia…” ujar siKribo itu.
.
“Bang Ramon, dia ga tau apa2..saya akan cari uangnya bang..” ujar Wiji, kepada si Kribo yang ternyata bernama Ramon ini..
.
“berapa hutangnya..?” tanyaku, karena memang aku membawa cukup uang pemberian si Encim, tapi aku juga bisa menduga si Ramon kribo ini punya maksud lain, sorot matanya menyiratkan pandangan penuh nafsu memandang tubuhku.
.
“tenang saja montok..tak perlulah memikirkan uang, pembayarannya cukup dengan kau layanin saja abang Ramon ini, badan kau itu benar-benar bikin kontol abang ngaceng..” ujarnya.
.
“oke…” jawabku sambil melepas handukku, kini aku berdiri bugil dihadapan empat orang pria, yang memandang dengan mata penuh nafsu.
.

“jangan bang, nanti pasti saya bayar..nie jangan..” ucap Wiji.
.
“berisik kali kau ini, dia nya saja tidak keberatan.. ” ujar Ramon sambil menghampiri Wiji. “kau tunggulah diluar, kalian jaga jangan sampe dia macam-macam”lanjutnya memerintah.
Sementara si Ramon kribo itu sibuk menutup gordyn dan pintu, akupun merebahkan diri dikasur yang ada dilantai itu.
.

.
Melihatku yang sudah tergolek telentang dilantai, Ramon melucuti pakaiannya, tubuhnya tegap, hitam, kontolnya panjang mengacung..
.
“siapa nama kau..?”
.
“Anie..!” jawabku.
.
“anie kau punya badan luarbiasa montok..tak tahanlah aku ingin segera mencicipinya..” ujarnya sambil mendekati aku lalu duduk bersimbuh disisi kananku.
.
“besar kali kau punya tetek hah.. Empuk juga..” dia berkata sambil tangannya meremasi kedua payudaraku, diremas dengan begitu kasar..
.
Tak puas hanya dengan tangan, kini mulutnya juga mulai bermain dihisap dan dikulum-kulumnya putingku, sementara satu tangannya, mengelusi selangkanganku.
.
“arggghhh…” erangku ketika merasakan ada jemari yang diselipkan masuk dimemek.
.
Ramon membenamkan dan menguselkan kepalanya dipayudaraku, sementara jemarinyapun terus mengocoki lubang diselangkanganku.
.
“empuk kali kau punya tetek, betahlah aku disini..” ujarnya dan kembali membenamkan kepalanya. Mengemuti kedua putingku bergantian.
Kali ini ia merubah posisi, dikangkanginya tubuhku, dan ia lalu meletakan kontolnya diantara kedua payudaraku
.
“akh..hhh.. Bakalan enak..” katanya sambil memegang kedua buah pepayaku dan digunakan untuk menjepit kontolnya.
.
“hey montok, kau jilat-jilatlah, ujung kontolku ini..julurkan lidah kau..” perintahnya sambil menggerakan maju mundur kontolnya yang terjepit dibelahan tetekku.
.

.
“akh..ya..akh..akh.”
suara desahannya ketika lidahku memoles kepala kontolnya, ia terlihat sangat menikmatinya, lenguhannya bergetar setiap kali lidahku menjilat lubang kecil diujung kepala kontolnya, kedua tangannya yang mencengkram kedua payudaraku dan juga kontolnya yang bergerak menggesek diantara kedua tetekku memberi efek rangsangan birahi pada dariku.
Beberapa saat kemudian ia kembali berganti posisi, menyeruakkan kepalanya diantara selangkanganku, dan langsung menjilati memekku.. “akhhh..sedap kali meme kau ini..”
teriaknya dan kembali celah lembabku menjadi sasaran jilatan lidahnya.
.
“akrghh..emphh…” aku mengerang ketika lidahnya mengenai titik paling sensitif dikemaluanku. Dan akupun mulai diselimuti birahi. Tanganku bergerak meremasi dadaku sendiri, pahaku menekuk, dan menjepit kepala Ramon agar jangan pergi dari selangkanganku, pengalaman dengan keluarga Ming, membuat birahiku jadi mudah dibangkitkan dan aku pun menjadi tidak malu lagi mendesah dan mengerang mengekspresikan birahiku.
.
“akh..emmphh..ya..yah.akh…ya..ter..teruuus..yah. .en..enaa..akk..ji..laat..ter..uuusss…”
aku tidak perduli jika Wiji dan teman-temannya Ramon diluar mendengar teriakanku, aku sedang menikmati ini dan tak ingin memikirkan yang lain.
.
Ramon mulai mengarahkan batangnya kebibir memekku..
“tembem kali memek kau..empuk rasanya menjepit kontolku..!” ucapnya serasa mendorong seluruh batangnya perlahan namun terus terbenam hingga terasa mentok dirahimku.
“uuggghhh..” desahku menahan nafas dan menggigit bibirku sendiri, ketika seluruh batang berurat itu mengisi dan memenuhi rongga sempit nan basah diselangkanganku, aku bisa merasakan urat-urat dibatang itu, berdenyut diantara himpitan memekku.
.
Dengan posisi diatasku Ramon bergerang menggenjot memekku, sesekali tangannya yang bertumpu disisi kanan dan kiriku, bergerak ke dadaku, dan menjadikan dadaku sebagai tempat bertumpu tangannya, rasanya sakit tapi juga nikmat.
.
“ahh..ah..ah..kenyal..kali…mantaab..ah..” ucapnya dengan nafas begitu berat..
.
“akh..yeah..montok..enak..kan..kontol..abang..ramo n..ini…?” tanya nya.
.
“iyaaa..enak..teru..ter..teruss…bang..ah..akh..a kh,..”
.
“terus..terus…apakhh..hah..ah..”
.
“ter..terusss..en..entot..ter..ruus..akh..ah..ento tin..akh..akhu…”
mulutku mengeluarkan kata-kata kotor yang semakin membuat Ramon, bersemangat mencucupkan kontolnya dimemekku. Kendati kontolnya tidak terlalu besar, namun ukurannya lumayan panjang, setiap sodokannya, terasa langsung menyentuh dasar terdalam rahimku.
.
Beberapa menit kemudian gerakan nya mulai tak beraturan dan semakin cepat aku tahu sebentar lagi puncak birahi akan menyentuhnya, seperti juga yang sedang kualami..
.

“akrrggggh…guaaa..ngecreeeth…” teriaknya dan membenamkan seluruh batangnya, aku yang juga sudah tinggal setitik lagi mencapai orgasme, tak mau kehilangan momen, kendati dia sudah terdiam aku tetap menggerakan pantatku dan akhirnya “aruggh..”aku juga mendapat orgasmeku.
.
“hey benarkah kau bukan pacar si Wiji..” tanya Ramon yang masih terbaring lelah, sambil tangannya bermain dimemekku yang basah oleh cairan lengket hasil pertempuran birahi tadi.
.
“iya bang..aku hanya temannya dikampung..”
.
“kalau begitu kau ikutlah saja, denganku..aku suka kali dengan perempuan macam kau ini..!” ajaknya.
.
“ehm..gimana yah, jawabku ragu..
.
“ayolah..lebih enak dengan abang..kuanggap lunaslah hutang kawan kau si Wiji itu..” ujarnya membujuk.
.
Sebenar aku juga cukup tertarik dengan tawaran ini, daripada aku bingung mau kemana.
.
“baiklah…!” jawabku menyetujui.
.
“baguslah.. Sekarang menungginglah..kontol abang sudah ngaceng lagi..tak sabar menyodok memek kau ini” ujarnya sambil meremas bokongku.
.
Sejak tadi aku memang mulai kembali terangsang, jemari Ramon yang terus bermain dimemekku. Membangkitkan birahiku, dan tanpa menunggu lama aku pun menungging dan Ramon kembali menyumpal lubang memekku dari belakang dengan batang kontol. Dan kembali untuk kedua kalinya aku mengalami orgasme dari pria ini.
.
Raut muka Wiji terlihat begitu bersalah ketika aku mengatakan akan ikut dengan Ramon, walaupun aku sudah mengatakan ini tidak ada hubungannya dengan masalah dia.
.
Ramon adalah seorang ketua geng yang menguasai terminal, yang memiliki banyak anak buah yang tinggal dengan nya dan selama aku tinggal dengannya selain menjadi pelayan seks Ramon, aku juga melayani anak buah Ramon tanpa sepengetahuannya.
.
Setiap kali berhubungan dengan Ramon atau anak buah nya aku tidak pernah sekalipun menggunakan pengaman, akhirnya aku hamil, bersamaan dengan kehamilanku, Ramon juga mengetahui kalau selama ini aku juga kerap ditiduri oleh anakbuah nya. Ramon murka tidak mau mengakui anak yang kukandung dan mengusirku.
.
Setelah itu aku kembali ke tempat Wiji dan tinggal dengan nya hingga melahirkan, aku melahirkan seorang bayi perempuan yang sempat kurawat hingga usia 1 tahun lalu aku meminta Wiji untuk menitipkan anakku ini ke panti asuhan, dan wiji jangan pernah memberitahuku dimana panti asuhan tempat dia akan menitipkan anakku nanti. Setelah itu aku tidak pernah lagi bertemu Wiji dan juga tidak pernah berusaha mencari dimana anak perempuanku sekarang berada, aku sadar semakin aku tidak tahu semakin aman untuk anak itu.
.
akan ada beberapa kali perpindahan pov dalam cerita ini
.
(Fany stories)
.
Lian berlari menerjang mereka, dengan dua tangannya memegang potongan pipa besi.
.
Dua orang pria langsung berlari menghadangnya, namun dengan sigap Lian berlutut dengan kedua tangan yang memegang pipa besi itu terbentang dan mengenai lutut kedua orang itu, mereka langsung terjungkal, terlihat mereka semua terpana akan kejadian itu.
.
Seorang lagi datang dengan berlari menuju Lian, namun sungguh diluar dugaan Lian melemparkan salah satu besi yang dipegangnya dan tepat mengenai leher orang, darah memancar dari lehernya, beberapa temannya tampak tercengang, mereka langsung mengelilingi Lian dengan pipa besi ditangan masing-masing.
.
.
Mereka menyerang serempak, Lian langsung bergerak memiringkan badan, menghajar salah satu yang terdekat dengannya, lalu menggunakannya sebagai pijakan untuk meloncat dan menggunakan kesempatan itu untuk memukul kepala salah seorang dari mereka, rupanya Lian bermaksud keluar dari kepungan mereka, setelah berhasil Lian langsung mengejar Mario, pemuda itu berlari menuju sisi gudang tapi karena begitu banyak kardus dan kotak yang menghalangi, Lian berhasil mengejar dan menghajar kepalanya hingga berdarah, beberapa orang bawaan Mario yang tadi berusaha menahan Lian namun Lian bergerak lebih cepat, dan kembali mengangkat pipa besi itu, kembali hendak memukul kepala Mario..
.
“DOORRRRR…!”
.
Semua yang ada ditempat ini langsung terdiam, dan serentak menoleh kearah sumber suara letusan itu.
Seorang pria paruhbaya yang entah darimana datangnya, berdiri didepan pintu masuk gudang ini dengan sebuah pistol yang ditujukan kedepan.
Mataku langsung menyusuri arah dari moncong senjata itu.
.
“MAMAAAAA….!” aku langsung berteriak histeris dan berlari menghampirinya, rupanya tanpa kusadari mama sudah tidak lagi disebelahku, ia menghadang peluru yang ditembakan ke arah Lian oleh pria tua itu..
.
“mama..mama..” aku dan Lian berteriak memanggilnya, dan memeluk tubuhnya yang ambruk, mama meringis kesakitan dengan tangan memegangi bagian perutnya yang berlumuran darah.
.
“mama..mama..” kami memeluknya erat dan tidak mampu menahan tangis akan kondisinya ini.
.
“kalian..kalian..harus..la…ri…” ujar mama terbata-bata sementara dari mulutnya juga sudah mengeluarkan darah.
.
“gak ma.. Kita sama-sama lari..mama harus kuat, mama pasti bisa bertahan…ma..” liat berkata sambil memeluk dan menyandarkan tubuh mama ke tubuhnya.
.

.
“dor..dor..dor…” entah darimana mereka datang tiba-tiba saja begitu banyak orang, suara tembakan dan orang-orang berlarian serta menjerit kesakitan, aku hanya memeluk erat mama dan Lian, hingga akhirnya setelah beberapa saat kemudian tempat ini kembali hening, dan orang-orang berpakaian hitam-hitam mengelilingi kami.
Sedetik kemudian aku merasa ada yang menarik tubuhku menjauh dari mama dan Lian, aku sempat melihat suster Evi yang berlari dari belakang barisan orang-orang ini, mendekati mama yang sedang dipeluk Lian, aku terus meronta sekuat tenaga agar bisa melepaskan diri, berteriak-teriak memanggil mama, aku masih sempat melihat Lian yang berusaha menolongku namun dipegangi oleh dua orang, sementara orang yang menyeretku mulai menarik tubuhku meninggalkan tempat ini, rontaanku sia-sia karena mereka lebih kuat.
.”mamaa….!”teriakku, sebelum orang-orang itu menarik tubuhku dan membawaku dengan mobil meninggalkan tempat ini, ya Tuhan tolong lindungi mama dan Lian…
.
==
(LIANA STORIES)
==
.
Aku sudah tidak terlalu memperdulikan penjelasan suster Evi tentang bagaimana ia bisa sampai kesana, karena melihat ada yang mengikuti kami dan juga bagaimana ia terpaksa menelpon tante Anie yang akhirnya mengirimkan orang, semua sudah terlambat, Mario bajingan itu sudah berkhianat dan pak Wicaksana juga menembak mama, mereka berdua kini sudah tewas ketika berusaha lari dari orang-orang suruhan tante Anie, tapi itu semua tidak mengubah keadaan karena kondisi mama sangat kritis, kini aku hanya bisa berharap agar operasinya berhasil, aku juga berharap agar tidak terjadi apa-apa pada ci Fany yang dibawa oleh orang-orang suruhan tante Anie.
.
“Lian..” suster Evi membuyarkan lamunanku.”operasinya sudah selesai..” ujarnya
.
Aku segera menghampiri dokter yang baru saja keluar dari pintu ruang operasi..
.
“bagaimana mama saya..dok..?”
.
Dokter itu tidak langsung menjawab pertanyaanku, ia terdiam sejenak lalu menarik nafas dalam-dalam…
.
“pasien kehilangan banyak darah, dan terlalu lama dibawa kesini.. Peluru mengenai jantung, kami tidak bisa mengangkatnya. Maaf kami sudah berusaha semampu kami..” jelas dokter itu.
.
“tidaaaak..mamaa…” aku panik dan berteriak histeris suster Evi langsung memelukku.
.
Aku tidak pernah membayangkan semua ini terjadi pada mama, aku tidak sanggup ditinggal sendiri..
.
“kondisi pasien sekarang sadar, tapi waktunya tidak lama, anda bisa masuk sekarang..” lanjut dokter.
Aku langsung masuk, mama masih terbaring kugenggam tangannya.
“Liaan..!” ujarnya lirih
.
“mama..mama..!” aku tidak bisa lagi menahan tangisku, aku ga mau kehilangan mama.. “mama..lian..sayang..mama..!”
.
“Li..lian..” mama seperti kesulitan untuk bicara, aku mendekatkan wajahku ke wajahnya.. “lari..lar..ri..yang ja..jauh…!” ujarnya lirih disertai hembusan nafas diwajahku..
.
“mamaaa..jangan pergi maa..mama..jangan tinggalin Lian ma..!”aku langsung kalap mengguncang-guncang tubuh mama berharap dia sadar kembali, suster Evi berusaha menenangkanku, tapi aku terus meronta, hingga akhirnya beberapa suster yang ada disitu juga turut memegangiku.
.
Aku hanya bisa meratapi ketika tubuh mama dibawa keluar dari ruang operasi itu, tante Anie juga sudah datang dan berkata dia yang akan mengurus semua pemakaman mama, mama akan dimakamkan di kota kelahirannya di Malang.
.
“lalu cici bagaimana tante?..dimana dia sekarang?”..
.
“tante tidak tahu, mereka membawa Fany kemana, tapi kamu tidak perlu khawatir, keluarga Ming selalu menjaga asetnya, untuk sementara dia aman, sekarang kalian berdua lah yang tidak aman, sekarang konsentrasi mereka sedang terfokus untuk merekayasa kejadian digudang itu, apalagi wicaksana adalah pejabat dinegeri ini.. Dan setelah membereskan semua itu, kalian berdua pasti akan jadi target mereka selanjutnya.!” jelasnya kepada aku dan suster Evi.
.
“apa yang harus kami lakukan..?” tanya suster Evi.
.
“kalian berdua harus lari,.” jawab tante Anie.
.
“aku tidak mau, aku mau menyelamatkan ci Fany..” aku menolak saran tante Anie.
.
“kau pikir kau bisa melawan keluarga Ming…jangan bodoh..!”
.
“tolong tante..aku sudah kehilangan mama..apa aku harus kehilangan ci fany juga..aku ga sanggup tante, pasti ada cara untuk menolong nya..tolong cici tante..” ujarku memohon, aku gak mau lagi kehilangan, ci Fany satu-satunya keluargaku yang tersisa, tapi aku bahkan tidak tahu dimana ia kini berada.
.
“apakah kehilangan mamamu tidak membuatmu mengerti juga, jangan bodoh jika kau tetap bersikeras yang ada malah akan semakin menyusahkan fany..kau mau fany bernasib seperti mamamu, karena keegoisanmu..!” tante Anie berkata agak keras..
.
Mungkin benar apa yang dikatakannya, jika saja aku tidak terus membujuk mama untuk kabur dari keluarga Ming mungkin saat ini mama masih hidup ini semua salahku, aku selalu saja menjadi bencana untuk mama dan cici, kenapa bukan aku saja yang menggantikan cici. Maafin Lian mah.. Maafin Lian ci…
.
.
===
(FANY STORIES)
===
.
Mereka membawaku kesebuah pulau dikepulauan seribu, dimana terdapat sebuah bangunan tembok besar, aku tidak tahu tempat apa ini, banyak penjaga yang menjaga disetiap sudut.
seluruh pakaian yang kukenakan dilucuti, lalu aku dikurung dalam sebuah ruangan berbentuk penjara tanpa apa-apa didalamnya hanya dinding dan lantai ubin dengan penerangan cahaya yang begitu minim dari celah jeruji kecil, tubuh telanjangku sesekali menggigil akibat dinginnya diruang ini.
.
Aku tidak lagi berteriak untuk minta dilepaskan seperti yang kulakukan sejak pertama kali aku dibawa kesini, karena aku sadar semua itu sia-sia, aku sangat menghawatirkan mama dan Lian, bagaimana mereka sekarang, mama apakah mama baik-baik saja…
.
“sreeeek…” jeruji besi yang merupakan pintu diruangan ini terbuka, seorang wanita yang usianya mungkin sama denganku memakai baju rapi berwarna putih. berdiri didepan dengan dua orang pria berbaju hitam di belakangnya.
.
“sudah selesai berteriak nya.. Jika masih belum puas silahkan lakukan hal tidak berguna itu kami punya banyak waktu..tapi aku tidak yakin apakah kau punya waktu sebanyak itu..” ucapnya datar.
.
“apa maksudnya..siapa kau kenapa aku dibawa kesini, dimana ini…?” tanyaku.
.
“namaku Jessica dan kau berada dipenjara keluarga Ming,.. Kau harus menjalani hukuman karena usahamu untuk lari..jika kau menolak hukuman maka adikmu yang akan menggantikan..” ancamnya.
.
“bajingan kalian..” teriakku.
.
“semakin cepat kau menjalani hukuman semakin cepat kau bisa bertemu kembali keluargamu..” ujarnya lagi.
.
Aku tahu posisiku sudah tidak bisa berbuat banyak, jika memang ini bisa menyelamatkan mama dan Lian, aku akan melakukannya.
.
“apa yang kau inginkan.?” tanyaku lagi.
.
“ikutlah denganku..! Ujarnya sambil berbalik, akupun mengikutinya. Menyusuri lorong gelap dimana disisi kiri dan kanannya ada sel-sel kecil seperti tempat aku dikurung tadi, beberapa ada penghuninya, wanita yang rata-rata tergolek lemah tanpa busana, sungguh biadab kekejaman keluarga Ming ini, aku yakin wanita-wanita ini adalah keturunan keluarga Jia entah apa yang mereka lakukan..
“mereka adalah orang-orang yang melakukan kebodohan sama seperti kamu..berusaha untuk lari..dari takdir..” ucap wanita itu seolah tahu apa yang kupikirkan.
.
“masuklah ke kamar itu, jika kau mampu bertahan melayani pria disana, maka kau bisa bertemu keluarga mu, ingat kau tidak diijinkan untuk melakukan penolakan atau perlawanan sedikitpun..!” ujarnya, menunjuk sebuah pintu berwarna putih diujung lorong. “masuklah dan tunggu disana!”
.
Ruangan ini kondisinya sangat kontras dengan dilorong tadi, semua serba putih dan bersih, juga sangat terang namun begitu sejuk. sebuah matras yang juga berwarna putih tergeletak tepat ditengah ruangan ini dan sebuah jam dinding disalah satu dindingnya.
.
Pintu terbuka, dan wanita tadi masuk dengan seorang pria berprilaku aneh, tubuhnya sedikit bungkuk dan badannya seperti tak pernah berhenti bergetar, matanya menatapku nanar, mulutnya terus berguman sesuatu yang tidak jelas.
.
“selamat bersenang-senang tuan muda..” ujar Jessica pada pria aneh itu, lalu meninggalkan aku hanya berdua dengannya diruangan ini.
.
“tiiduurr…sana..ti..tidur…” katanya padaku tergagap sambil menunjuk matras dilantai itu,
aku menuruti perintahnya, kubaringkan tubuhku telentang, sambil menatap pria ini lebih seksama, tubuhnya begitu kurus tonjolan tulang dan urat-urat tercetak jelas ditubuhnya, bagian kelaminnya juga penuh dengan urat yang menonjol, ukurannya tidak besar namun panjang menjuntai.
.
Ia menghampiriku, bersimpuh disebelahku. Ia membungkuk wajahnya tepat berhadapan dengan wajahku, dan ia menyentuhkan hidungnya keningku, ia menarik nafas dalam-dalam lalu dihembuskannya dengan hidung tetap menempel dikeningku, pria aneh ini terus melakukan hal serupa mengendusi seluruh tubuhku dari wajah, leher dada, terus kebawah..
“akrghhh…” erangku pelan ketika ia menarik nafas dalam-dalam tepat dicelah memekku, lalu menghembuskannya.
.
Setelah mengendus, kali ia mulai menjilati, dari ujung kaki terus keseluruh tubuh, liurnya terasa begitu banyak, aku hanya memejamkan mata ketika lidah penuh liurnya mejulur menjilati sekaligus melumuri seluruh wajahku, serta menebarkan aroma yang tidak sedap.
.
Pria itu kini menduduki tubuhku yang masih telentang tepat diperutku dengan posisi membelakangiku, tubuh orang ini seperti tidak mempunyai daging, aku bisa melihat dengan jelas barisan tulang belakangnya yang agak bongkok itu.
.
Diduduki diperut seperti ini membuatku sulit bernafas, namun aku berusaha untuk menahannya, kaki kiriku diangkatnya hingga menyentuh dadanya, sedikit sakit karena ia memaksakannya, tangannya mengelus-mengelus paha bawahku, sementara tangan satunya memegang kuat bagian ujung mata kakiku, dan aku merasakan ia menarik ujung kakiku, tapi menahan bagian dengkul berlawanan arah.
.
.

“akhh..sakit..sakiittt..” teriakku kesakitan sambil tanganku mencengkram erat matras, tapi pria ini terus mendorong berlawanan arah tumit dan dengkulku, tanpa memperdulikan teriakan kesakitanku.
.
“sudah..ampuun..sakiit..ampuun..sakit..sakit..saki tt sekali..lepas…” aku terus berteriak dan berusaha meronta, ia justru semakin menekan tubuhnya, aku memukuli punggungnya, bahkan mencakarnya hingga membekas dan berdarah, tapi pria ini tidak bergeming.
.
“craaack…!”
.
“AAAKRGHHHH..WAAAA….!” aku berteriak bersamaan dengan suara itu, sakit sekali aku yakin pria ini mematahkan kakiku, luarbiasa sakitnya..
.
“sakiit..akhh..ahhg..sakiit…aduuh…tolong..aduh h..ampun,..sakit….” aku terus meronta sakit sekali, tapi rontaanku seakan tidak ada artinya, pria itu tidak perduli dengan pukulan dan cakaranku dipunggungnya, ia kini berpindah kekaki kananku.
.
“tolong..jangan..tolong..sudah….ampun..ampuun..h entikan sudah..sakiit …” aku memohon karena aku bisa menduga apa yang akan dilakukannya karena ia menempatkan tangannya seperti dikaki kiriku tadi.
.
“craaaackk…!”
kembali pria aneh ini dengan tanpa perasaan mematahkan kakiku..
.
”arghkhhhh…awwwkhhh…” aku berteriak keras, sangat sakit sekali, mataku sampai berkunang-kunang, sakit yang tadi belum juga hilang kini sudah bertambah lagi, hatiku bergetar perasaan takut berkecamuk, aku sudah lumpuhkah, kedua kakiku sudah dipatahkannya.
.
“akhhwwk..sakiit..tolong..tolong..sakittt..mama..t olong.. Fany mahh..sakiit ampun..ampun…”
.
Diantara rasa sakit yang teramat aku terus meronta, berusaha agar bisa melepaskan diri dari monster ini.
.
“tolong..tolong..aku..ga..kuaa..tt..” teriakku ketika pintu terbuka, dan gadis yang bernama Jessica tadi masuk bersama 2 orang pria, si pria aneh yang baru saja mematahkan kedua kakiku tadi langsung turun dari tubuhku..
.
“sudah kubilang kau harus bertahan, sekarang tidak ada jalan kembali, tapi tenang saja aku akan membantumu, ini adalah suntikan penahan sakit, akan efektif selama 30 menit.. Jadi kamu harus memuaskannya sebelum waktumu habis dan itu juga waktu maksimal untuk dapat menyambungkan kembali tulang-tulang kakimu yang patah ini…!” jelasnya sambil mempersiapkan alat suntik, sementara kedua pria bertubuh tegap itu memegangi tubuhku
.
“arkh..” jeritku ketika jarum itu disuntikan di kedua lututku, rasanya sangat dingin seperti membeku seluruh darahku, namun rasa sakit yang mendera kedua lututku berangsur lenyap.
.
“dan ini adalah serum pembangkit andrenalin yang akan membuatmu tetap terjaga..” ujar gadis itu sambil menunjukan satu suntikan lagi. Aku berusaha menghindar dengan cara bergerak-gerak, namun kedua pria itu memegangi tubuhku dengan kuat.
.
“tenang tidak apa-apa..” ujarnya, sambil menyuntikannya dileherku, ternyata suntikan penahan sakit tadi benar-benar bekerja aku tidak merasakan apa-apa ketika jarum itu menembus leherku.
.
“jika ingin selamat jangan macam-macam puaskanlah orang itu secepat mungkin, ingat jika tidak menurut adikmu yang akan menggantikan..” bisiknya ditelingaku.
.
“ehg..akgh egh..” kenapa ini, lidahku kelu, tenggorokanku seperti tercekat, aku tidak dapat berbicara apa yang terjadi ini.
.
“oh satu hal yang harus kau tahu, efek samping dari suntikan tadi adalah kau tidak akan bisa bicara, tapi jangan khawatir itu hanya sementara…” ujarnya sambil berlalu dan kembali meninggalkan aku berdua dengan pria gila ini.
.
Pria ini kembali mengangkangiku, kontolnya yang panjang itu diacungkan kedepan wajahku ditempelkan dimulut serta didorong-dorongnya, aku masih mengatupkan rapat-rapat kedua bibirku.
.
“buka..buka..buka…buka..” ucapnya seperti anak kecil yang menginginkan sesuatu.
.
Pria ini sungguh tidak normal, kubuka mulutku dan membiarkan batang kontolnya menerobos masuk, batangnya menembus hingga tenggorokanku dan ia membiarkannya terbenam untuk beberapa saat hingga aku begitu susah untuk bernafas.
.
“uphh..ughh..” aku mulai tidak bisa bernafas, dan berusaha mendorong tubuhnya agar kontolnya segera dicabut dari mulutku, tapi ia tidak bergeming.
.
“hehe..hehe..” pria ini tertawa seperti sangat menikmati melihat aku, yang sedang meronta-ronta tersiksa.
.
mataku mulai berair, aku sudah tidak bisa lagi bernafas namun pria ini sepertinya tidak perduli, ia justru menekan semakin kuat, namun kemudian dengan sangat cepat ia menarik keluar semua batangnya dari mulutku.
.
“ukhuukk..ukhuhk…” aku terbatuk dan mulutku terbuka berusaha mengambil udara sebanyak mungkin.
.
Tanpa memperdulikan aku yang masih kekurangan udara, pria ini mensejajarkan tubuhnya diatasku, batang kontolnya dipegangnya dan ditaruh diantara celah bibir memekku, aku bisa melihat batang kontol itu mulai terbenam dimemekku dan dia mulai bergerak naik turun memompa kontolnya dimemekku, tapi aku tidak merasakan apapun, obat penahan sakit ini begitu kuat hingga aku tidak merasakan apapun.

Kucoba untuk menggerakan pinggul berharap agar dia cepat ejakulasi, tapi pria ini sepertinya tidak menyukai hal itu, ia menahan pinggangku agar aku tetap diam, selang beberapa saat ia menjatuhkan dirinya didadaku, tubuhku tidak bisa merasakan apapun tapi aku tahu pria ini sedang mengemuti puting payudaraku, aku hanya memejamkan mata berharap semua ini cepat selesai.
.
Kali ini ia berganti posisi, tubuhku ditengkurapkan, dan ia menindihku kembali, obat penghilang rasa sakit ini mulai berkurang, aku bisa sedikit merasakan ketika lubang pantatku dibuka dan dimasuki kontol pria ini, aku juga mulai bisa merasakan nyeri dikedua lututku, kembali aku disetubuhi kali ini lewat ini, hentakan-hentakan tubuhnya begitu kasar, sesekali tangannya menyelinap untuk meremas kedua payudaraku.
.
“ehm..emhmph..empmphh…” suaranya berguman, nafasnya terdengar begitu memburu, aku berharap ini tanda ia akan segera sampai puncak, karena gerakannya semakin cepat.
.
Tangannya yang tadi dipayudaraku kini berpindah kekiri dan kanan wajahku, dan menggerakan kekiri dan kekanan, sesekali diangkatnya paksa kepalaku, lalu dibenamkan dan kemudian dipaksa menengok kekiri, aku yakin jika tidak karena pengaruh suntikan tadi rasanya pasti lumayan sakit.
Sambil terus mengerjai anusku, Pria itu menggerakan kepalaku kekanan dan kiri dan kemudian ia menahan kekanan agak lama. Lalu memutar kepalaku kekiri dan kemudian membalikan dengan cepat kekanan dan “craackk..” aku bisa mendengar suara patah dileherku sebelum semua akhirnya berubah dalam sekejap semua menjadi langsung gelap dan hening…
.
.

.
.
==============
.
(ANIE STORIES)
.
Begitu sulitkah untuk belajar dari kejadian-kejadian sebelumnya, ketika satu cara tidak berhasil untuk melawan kekuatan besar masih pantaskah cara-cara seperti digunakan, entah bodoh atau terlalu naif, tapi kini semua sudah terlambat, ajal telah menjemputmu, satu anakmu entah dimana sekarang, dan satu lagi entah bisa berhasil atau tidak, lindungi mereka dari sana Wie. Selamat jalan sahabat sependeritaan, sampai bertemu lagi ditempat dimana kita bukan lagi budak dari seseorang.
.
“nie..sudah sore sebaiknya kau segera kembali..” suara Wiji mengingatkanku untuk segera meninggalkan pemakaman ini.
.
“iya.. Bagaimana mereka ji.. Sudah sampai…?” tanyaku.
.
“mereka sudah menyebrang ke Malaysia… Nanti akan ada yang mengantar langsung ke airport… Kenapa mesti susah-susah dari Malaysia padahal dari Jakarta juga bisa langsung terbang kesana…?” tanyanya.
.
“mereka akan lebih aman jika berangkat dari sana Ji..Terimakasih Ji atas semua bantuanmu, dan tolong jaga dan rawat makam wiwie..” pintaku.
.
“iya nie.. Gua bakal jaga..!”
.
“ya sudah aku pulang dulu, nanti jika ada waktu aku kembali kesini..!” pamitku.
.
“nie..!” panggil wiji ketika aku hendak menuju mobil.
.
“kenapa Ji..?”
.
Wiji menghampiriku dan mengeluarkan sebuah amplop coklat dari jaketnya “kemarin waktu lu hubungin gua, gua kira lu mau tanya soal anak itu, gua cari info soal anak itu ke panti asuhan tempat gua nitipin dulu, ternyata orang tua asuhnya rutin mengirimi foto perkembangan nya, dan foto terakhir yang mereka terima ini, setahun lalu..” ujar Wiji sambil menyerahkan amplop coklat itu.
.
“ya..makasih..” ujarku sambil mengambil amplop itu.
.
Aku menghubungi wiji memintanya untuk mencarikan tempat pemakaman buat Wiwie karena aku ingin memakamkanya di tempat kelahirannya seperti juga keinginanku jika aku mati nanti, dan aku juga meminta Wiji mencarikan orang yang bisa mengantarkan Lian dan Evie ke Malaysia, agar bisa terbang ke China, dimana sudah ada Linda yang menunggu mereka disana, terbang dari Malaysia lebih aman buat mereka karena pengaruh keluarga Ming sangat sedikit disana.
.
Aku tidak mengira ternyata Wiji juga mencari info tentang anak itu, anak yang sudah sekian lama aku lupakan.
.
Sepanjang perjalanan kutatap amplop ini ragu untuk melihat foto yang ada didalam amplop ini, dengan ragu kubuka amplop berwarna coklat ini.. Dan ” ya Tuhan.. Ini…ini..kenapa bisa seperti ini…” aku sungguh tidak bisa percaya apakah benar dia anakku.
.
“pak cepat pak…” perintahku pada sopir, aku harus segera kembali, bagaimana ini bisa terjadi, bagaimana mungkin anak angkat wiwie adalah anakku, dan aku ternyata telah membiarkan anakku untuk dibawa kepulau itu, pulau tempat keluarga Ming menghukum orang-orang yang melawannya. aku harus segera sampai disana dan menghentikannya.
.
Aku tahu disana ada anak keluarga Ming yang sakit jiwa yang hanya bisa merasakan kepuasan seks jika pasangannya sampai meninggal, mereka tidak boleh menyerahkan Fany pada dia, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika anak ku sampai jadi korbannya.!
.
.
===
(LIANA STORIES)
.
“kalian tunggulah disini, tidak perlu takut, mereka akan menjaga kalian tidak akan macam-macam, mereka juga sama pendatang ilegal disini, pakcik akan ambil pesanan paspor dan juga tiket untuk kalian..” ujar Pria itu, pria yang membawa aku dan suster Evie menyebrang lewat jalur penyelundupan Tki dipelabuhan tikus dikepulauan Riau.
.
Setelah hampir 2 hari perjalanan dari Jakarta, akhirnya kami sampai juga disini, ini adalah sebuah flat lantai 3, dikuala lumpur orang yang membawa kami meminta kami menunggu disini, bersama dengan 3orang pria yang merupakan tki ilegal, karena dari tempat ini jarak ke bandara tidaklah terlalu jauh.
.
“ci…” panggilku pada suster Evi.
.
“iya sayang..” jawabnya lembut.
.
“apakah kita bisa kembali nanti, apakah ci Fany bisa ditemukan..?”
.
“pasti bisa, sesampainya disana nanti kita akan cari cara, dan percayalah tante Anie pasti akan melakukan yang terbaik untuk menolong Fany..! Ujarnya menenangkanku.
.
“ini semua salahku, jika saja aku tidak memaksa untuk kabur, dan tidak begitu saja percaya pada Mario semua ini ga akan terjadi..!” sesalku.
.
“semua sudah terjadi..mungkin sudah seharusnya seperti ini…!” ujar ci Evie sambil menyandarkan kepalaku kebahunya, dan membelai lembut rambutku.
.
“ci..aku takuut..” kataku,
.
Ci Evie merubah posisinya, kami duduk dilantai berhadapan..”semua pasti baik-baik saja sayang..” ujarnya sambil menyeka airmata dipipiku..
.
“cup..” ci Evi mengecup bibirku, sambil tersenyum, yang membuatku tak ayal tersenyum juga.
.
“nah gitu kan cantik kalau senyum..!” ujar ci Evie sambil membelai pipiku, kami saling tatap dan entah siapa yang memulai kami semakin mendekat dan bibir kami saling mengecup..
.
“ci..mereka liatin kita..!” kataku menyadari kini tiga pria itu sedang memperhatikan kami.
.
“biar saja…” jawab ci Evie, dan kembali melumat bibirku. Aku memejamkan mata menikmati lumatan lembut bibir ci Evie.
.
Ci Evie berpindah dari mulutku, kini ia menciumi leherku, aku hanya diam menikmati, “berani yang lebih..?” tanyanya berbisik ditelingaku.
.
“siapa takuut..!” jawabku .
.
“nakal…” ucapnya sambil menjilat telingaku.
.
“cici yang mulai…nakal duluan.”
.
Ci Evie menatapku sambil tersenyum, tangannya memegang kedua sisi kaosku, dan mengangkatnya, akupun mengangkat tanganku dan membiarkan kaosku dilepasnya, akupun melakukan hal yang sama, membuka bajunya dan juga branya.
.
“besar..” ucapku ketika melihat kedua tetek ci Evie.
.
Ci Evie pun melepas bra hitamku, “bulat sekali..” ujarnya sambil meremas kedua bukit kembar didadaku.
Akupun melakukan hal yang sama kedua tanganku bermain dipayudaranya, memainkan putingnya..
.
“apa yang mereka lakukan..?” tanya ci Evi, karena memang posisinya membelakangi ketiga orang itu.
.
“memperhatikan sambil memainkan tangan dicelana masing-masing!” jawabku..
.
“berdirilah..!” perintahnya..
.
Akupun tak banyak bertanya dan langsung berdiri bersandar kedinding, ci Evie berjongkok di bawahku, dan melepas celana beserta celana dalamku, melemparkannya begitu, ketiga pria itu benar-benar mendapat tontonan gratis, matanya melotot menatap tubuh bugilku, sementara ci Evi menaruh satu kakikku dipundaknya, dan menempatkan kepalanya tepat didepan selangkanganku.
.
“ehnhmmph..ci..akhh..” aku mendesah takkala lidahnya menjilati memekku yang dikuakan dengan kedua tangannya.
.
Aku hanya mendesah dan memejamkan mata menikmati sentuhan lidahnya disela bibir memekku.
.
“akh..kaliaann..” aku terkejut ketika membuka mata ternyata ketiga pria tadi sudah berdiri didekat kami dan dalam kondisi bugil, ci Evi yang mendengar jeritanku menghentikan servis mulutnya dimemekku, dan bangkit berdiri,
.
“kamu bermain dengan yang ini saja ya sayang, yang dua biar aku urus..!” ujarnya sambil tersenyum dan mendorong pria yang disebelah kirinya kearahku, sementara ia menarik dua pria yang lain sedikit menjauh.
.
“ci..tapi..” belum sempat aku menyelesaikan ucapkanku pria itu sudah menerjangku, mendorong tubuhku semakin menempel didinding, dan mulai menciumi wajahku, leherku, dan dengan rakusnya melumat kedua tetekku bergantian, sesekali kontolnya yang sudah sangat tegang itu menyenggol-nyenggol pahaku. Memberi sensasi sendiri buatku.
.
Didepanku ci Evi sudah bugil, satu pria sedang mengangkangi wajahnya, dan menikmati kontolnya dikulum oleh mulut Ci Evie, sementara pria satu asyik menikmati lubang memek ci Evie yang begitu tembem seperti bakpao.
.
Pria yang bersamaku mendorong tubuhku kebawah agar berjongkok didepannya, dan menyodorkan kontol bersunatnya kedepan mulutku, kujilat-jilat sebentar bagian kepalanya, sebelum akhirnya kubiarkan masuk semua kedalam rongga mulutku, dan sambil memegang kepalaku dengan kedua tangannya, pria ini menggerakan kontolnya dimulut keluar masuk.

Puas menyetubuhi mulutku dengan kontolnya, pria bertubuh hitam legam dan sudah dipenuhi keringat ini. Memintaku untuk berbaring telentang dilantai, kedua kakiku ditekuknya, dan dikuakkan lebar, ia menempatkan kepala kontolnya didepan memekku dan perlahan mulai mendorongnya masuk..
.
“akhh..emmphk..akh..” aku mendesah menikmati setiap sodokan kontol itu, aku bisa melihat ci Anie juga mulai dikontolin oleh kedua pria yang bersamanya, di mulut dan memeknya.
.
Pria ini kembali merubah posisiku dan memintaku menungging, dan ia mendoggyku dengan begitu kuat.. “akh..yah..ahkh nikmat..sekali..memek..mu..” ujarnya berteriak dan mendesah diantara gerakannya yang semakin cepat, aku sendiri sudah hampir mendekati puncak orgasme, organ-organ kenikmatanku terasa bergerak menujuk titik tertinggi dan tak mampu kutahan lagi..
.
“akhhhh….”teriakku bersamaan dengan meledaknya orgasmeku, tubuhku ambruk namun si Tki illegal ini masih menahan pinggulku agar tetap menungging dan terus mengenjot lubangku untuk beberapa saat sebelum ia juga mencapai puncak, menyemprotkan cairan hangat dimemekku yang sangat banyak hingga terasa meluber keluar dari memek dan meleleh dipahaku.
Aku melihat ci Evi masih telentang namun hanya tinggal satu pria yang menyetubuhinya, aku teramat lelah dan langsung memejamkan mata, menikmati rasa puas orgasmeku tadi.
~~
menjelang tengah malam pakcik yang mengantar kami sejak dari Indonesia tadi, membawa aku dan ci Evie ke bandara internasional Kuala Lumpur.
.
“pakcik apakah ini aman..?” Tanya ci Evie menanyakan paspor yang diberikan oleh pakcik tadi.
.
“tidak apa, ini aman airport di Malaysia tidak terlalu ketat dalam pemeriksaan paspor..cepatlah sikit, pesawat ini yang terakhir berangkat malam ini, jika telat harus menunggu esok.” ujarnya.
.
“terimakasih pakcik..” ucapku bersamaan dengan ci Evie sambil menyalaminya.
.
“sama-sama, pakcik tak tahu masalah apa yang mengejar kalian, pakcik doakan kalian selamat dan bisa menyelesaikan semua..” ujarnya, “masuklah pakcik akan tunggu disini sampai pesawat kalian benar-benar take off..” lanjutnya, dan kami berduapun langsung masuk kedalam komplek Bandara, dan menuju ke counter boarding pass.
.
“oke semua lengkap, ini tiket anda miss, penerbangan langsung ke China dengan Malaysian air MH 370 pada pukul 00:41.. ” ujar petugas maskapai ini cukup ramah.
.
“baiklah sayang mari kita pergi, semogga penerbangan ini, menjadi jalan terang buat kita..” ujar ci Evie, sambil menuntunku berjalan menuju pintu keberangkatan.
.
.
8 maret 2014 dunia dihebohkan oleh hilangnya pesawat Malaysia Airlines MH370, dalam penerbangan dari Malaysia ke China. pencarian besar-besaran dilakukan namun waktu terus berlau dan tak hasil, pesawat itu tetap tidak ditemukan. berbagai spekulasi muncul, salah satu nya adalah, adanya penumpang dengan paspor palsu..

.
.
.
=========
(ANIE STORIES)
.

Akhirnya aku sampai juga dipulau ini, “tetap nyalakan mesin perahu ini..dan berikan aku pisaumu itu…!” ujarku pada pengawalku.
.
“apa tidak sebaiknya saya ikut nyonya..?”
.
“kau berjaga saja disini, dan bersiap-siap untuk segera pergi..” pesanku padanya, sambil menyelipkan pisau belati pemberiannya dibalik jaketku..
.
Sebagai pengelola rumah Lotus selama bertahun-tahun, aku sudah beberapa kali keluar masuk tempat ini, untuk menjemput gadis-gadis keluarga yang habis dihukum, para penjaga tidak lagi melakukan pemeriksaan terhadapku.
.
Aku bergegas menuju ruangan Jessica dan tanpa mengetuk kubuka pintunya, ia sedang duduk dibalik mejanya dan langsung berdiri kaget.
.
“tante apa-apaan ini..gak sopan banget masuk ruangan orang tanpa permisi..” ujarnya berteriak
.
“dimana Fany..?” tanyaku.
.
“fany siapa…?” ia balik bertanya.
.
“kau tahu siapa yang kumaksud..”
.
“hahaha..tante luh tuh ga punya kekuasaan apa-apa ditempat ini..jangan sok..”
.
“plak..plak..” kutampar wajahnya, kutarik kerah bajunya dan kulemparkan tubuhnya kedinding.
.
“anjing lu tante..apa maksudnya ini..” ia berteriak.
.
“DIMANA FANY..?”tanyaku membentak sambil membenturkan kepalanya ketembok
.
“anjing lu tan, sakit kepala gua tau.. Si fany udah dimakan anak tuan Ming…” teriaknya.
.
“apa..BAJINGAAN KALIAAAN…” aku kalap kuambil pisau dari balik jaketku. Dan kutikam Jessica berkali-kali…
.
.

.
(BERTHA STORIES)
.
MALANG 1991
.
“mami Bertha..mami Bertha..” teriak salah satu anak panti sambil berlari.
.
“ada apa, aduh sambil lari-lari lagi…” jawabku.
.
“ada orang yang bawa dede bayi tante..tante disuruh kepanti sama bunda” jawabnya.
.
“ya sudah nanti tante kesana, kamu duluan saja..!” jawabku.
.
Namaku Bertha aku adalah seorang bidan dipuskesmas, dan juga bidan untuk panti asuhan didekat rumahku, aku baru dikarunia seorang putri yang usianya baru satu tahun.
.
Ibu kepala panti memintaku memeriksa bayi yang baru saja diantarkan seseorang, bayi ini mirip sekali dengan putriku, dan sungguh diluar dugaanku ketika aku memandikannya, aku melihat tanda khas keluarga Jia divaginanya.
.
“bunda, bayi ini masih membutuhkan asi, bagaimana kalau saya bawa saja dulu kerumah saya, biar bisa tetap diberi asi..” ujarku kepada ibu kepala panti.
.
“jika tidak merepotkanmu itu bagus sekali..” jawab ibu kepala panti.. “ini pasangkan dulu gelang ini ditangannya..” lanjutnya sambil
menyerahkan gelang nama kepadaku.
.
“Bunda memberi nama anak ini Stefany..?” tanyaku.
.
“iya, anak ini sangat cantik, nama itu cocok untuknya..” jawab ibu kepala panti.
.
Sebagai keturunan keluarga Jia, aku tahu suatu saat anakku akan diambil oleh keluarga Ming, dan aku tidak rela jika anakku dijadikan budak oleh keluarga Ming. Aku akan menukar anak ini dengan anakku.
.
“kamu sudah gila Bertha, bagaimana mungkin kamu tega menukar anak kita..” protes suamiku ketika aku ungkapkan ide gilaku ini.
.
“lalu mas lebih tega jika anak kita jadi budak dikeluarga Ming.. Dua hari lalu ada seorang ibu muda yang ingin mengadopsi anak bayi, ibu itu terlihat sangat baik mas, aku akan menelponnya, anak kita pasti akan baik-baik saja..” ujarku meyakinkan suamiku.
.
Suamiku tidak bisa lagi berkata apa-apa dan membiarkan aku memindahkan gelang nama itu, ke tangan anakku, walau berat tapi ini lebih baik daripada nanti dia harus menjadi budak keluarga Ming.
.
Dua hari kemudian ibu Wiwie datang menjemput anakku, tanpa sepengetahuan ibu kepala panti aku memintanya untuk dikirimi secara rutin foto perkembangan anakku yang kini bernama Stefany, dan rupanya ibu Wiwie tidak masalah dengan hal itu, ia bersedia dan akan mengirimi foto-fotonya.
.
Kupandang wajah anak ini., benar seperti kata ibu kepala panti anak ini cantik sekali “maafkan aku bayi cantik, sekarang aku adalah mamamu dan namamu adalah Jessica..” aku berjanji pada diri sendiri akan memenuhi segala kebutuhannya dan memberikan yang terbaik yang kubisa sampai tiba waktunya dia dijemput keluarga Ming.
.
.
.
===SELESAI===

Author: 

Related Posts